Kompasnasional | Negara kaya minyak Kuwait dikabarkan kehabisan uang untuk menggaji para pegawai negeri dan tidak akan punya uang untuk menutupinya setelah November.
Menteri Keuangan Kuwait Barak al-Sheetan menjelaskan, negara hanya memiliki likuiditas senilai US$6,6 miliar (2,2 miliar Dinar) atau sekitar Rp105 Triliun di mana jumlah tersebut tidak cukup untuk menutupi gaji pegawai pemerintah.
“Meski telah menarik dana dari General Reserve Fund pada tingkat 1,7 miliar Dinar Kuwait per bulan namun likuditas tersebut akan segera habis jika harga minyak tidak membaik atau mendapat pinjaman,” ujarnya seperti dilansir dari laman Russia Today, Jakarta, Senin (24/8/2020).
Defisit anggaran Kuwait mencapai USD$18,44 miliar pada tahun fiskal 2019-2020, yang berakhir pada Maret. Defisit akan melebar pada tahun fiskal ini karena jatuhnya harga minyak dan pandemi, berpotensi mencapai US$45,78 miliar (14 miliar dinar). Ini naik dari proyeksi defisit sebelumnya sebesar US$25,18 miliar (7,7 miliar dinar).
Pada bulan Januari tahun ini, ketika Kuwait menganggarkan anggaran untuk tahun fiskal 2020-2021, ukuran defisit yang ditetapkan dalam anggaran tersebut adalah US$3,33 miliar, berdasarkan proyeksi harga minyak sebesar US$55 per barel Brent.
Namun karena harga minyak tak kunjung membaik akhirnya defisit lebih tinggi daripada tahun fiskal sebelumnya karena negara ini hampir sepenuhnya bergantung pada pendapatan minyak dan belum mampu menghilangkan efek jatuhnya harga minyak bahkan sebelum pandemi melanda.
Untuk menghindari menipisnya dana yang digunakan untuk menutupi gaji PNS parlemen Kuwait sedang memperdebatkan rancangan undang-undang utang baru yang akan mengizinkan pemerintah untuk berhutang hingga US$65,4 miliar (20 miliar dinar) selama 30 tahun ke depan. Namun hal tersebut juga masih menjadi perdebatan di kursi parlemen.
“Dalam jangka panjang jika tidak pinjaman maka kita akan melakukan langkah penghematan untuk pengeluaran publik,” katanya.
Kuwait adalah salah satu dari enam ekonomi teluk di Timur Tengah yang terlalu bergantung pada pendapatan minyak. Dalam perkiraan baru-baru ini dari analis yang disurvei oleh Reuters, ekonomi negara Teluk diperkirakan akan mengalami kontraksi tahun ini sebelum pulih pada tahun 2021.
(A/Red)







