Viewer: 725
0 0

Home / Ekonomi

Jumat, 27 November 2020 - 16:50 WIB

Merevitalisasi industri tekstil Indonesia yang tertekan produk impor China

Viewer: 726
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 39 Detik

Kompasnasional l Indonesia Economic Forum yang ke 7 mempertemukan para pemimpin politik, bisnis, pemerintah, pemrakarsa dan pemimpin komunitas untuk membahas visi Indonesia di tahun 2020 untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi pasca Covid-19. Forum ini pertama kalinya diselenggarakan secara virtual pada Selasa-Kamis, 24-26 November 2020.

Setelah mengalami penurunan ekonomi yang tajam sejak Krisis Keuangan Asia, Indonesia sedang berada dalam masa pemulihan perekonomian. Covid-19 telah mempercepat perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan telah menciptakan peluang baru.

Pada hari kedua di sesi pagi yang mengambil tema “Emerging Trends in Global Trade” dan terbagi dalam 3 sesi diskusi panel.Di sesi kedua ini, para pembicara membahas mengenai revitalisasi darurat sektor tekstil di Indonesia.Industri tekstil Indonesia pernah menjadi primadona sektor manufaktur Tanah Air. Itu adalah salah satu pencipta lapangan kerja dan kontributor terbesar bagi pertumbuhan ekonomi negara. Meskipun ekonomi naik turun, sektor tekstil mengalami pertumbuhan yang stabil dari awal 1970-an hingga pertengahan 2000.

Baca Juga  Jokowi Sebar Dana Kelurahan Rp 3 Triliun Tahun Depan

Namun sejak 2008, sektor ini mengalami keterpurukan, diterpa faktor internal dan eksternal. Secara internal, kebijakan perdagangan pemerintah yang tidak jelas, kenaikan upah dan biaya utilitas, kurangnya investasi baru memengaruhi sektor ini. Secara eksternal, kebangkitan China sebagai pusat manufaktur utama berdampak buruk pada daya saing sektor tersebut karena barang-barang murah China membanjiri pasar domestik.

Terlepas dari tantangan ini, output sektor tekstil diperkirakan mencapai US$ 30 miliar per tahun, yang merupakan 2% dari pertumbuhan PDB dan 10% dari total output manufaktur. Tetapi karena memetakan jalur baru ke depan, sektor tekstil berada di persimpangan jalan.

Baca Juga  Warga Desa Bukit Meriah Minta Kasus Dana Desa TA 2015 Diusut

Saat ini, industri menemukan dirinya berjuang untuk bertahan hidup. Investor baru merasa sulit untuk bersaing dalam lingkungan survival of the fittest.

Banyak produsen tekstil jangka panjang mengalami penurunan output karena impor produk luar negeri yang lebih murah.Masih ada harapan masa depan untuk pasar domestik kelas menengah yang berkembang pesat di Indonesia sebagai peluang besar bagi produsen tekstil.

Saat ini, Pemain tekstil Indonesia juga berinvestasi pada bahan baru seperti poliester yang memberikan nilai tambah industri untuk menambah industri serta perekonomian secara keseluruhan.
(KCI/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Arsip

PT Top Growth Futures Diduga Gelapkan Miliaran Rupiah Dana Nasabah

Arsip

Ahok Gagal Paham Soal Tax Amnesty

Arsip

Ini Cara Menteri Susi Hadapi Modus Pencurian Ikan Yang Makin Canggih

Berita

Warga Sambut Pawai Carnaval Budaya Tebing Tinggi

Arsip

Uber Ungkap Cara Hindari Argo Rp18 Ribu Jadi Rp595 Ribu

Ekonomi

Tekan Harga, Lokasi Operasi Pasar Beras Ditambah

Arsip

Pakai BBG, Pengemudi Bajaj Gas Bawa Pulang Rp 300.000 Per Hari
Foto Istimewa

Berita

Isi Rekening Brigadir J Nyaris 100 Triliun, PPATK-BNI Beri Penjelasan