Pemerintah mulai melupakan program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG). Padahal, BBG memberikan nilai tambah yang lebih untuk para penggunanya.
Salah satunya, Dodi (46). Pengemudi bajaj gas ini mengaku pendapatannya meningkat sejak menggunakan BBG ketimbang menggunakan BBM untuk bajajnya yang lama.
Menurutnya, sejak menggunakan BBG, biaya operasional untuk mengangkut penumpang berkurang. Bahkan, Dodi menegaskan dalam satu hari, keuntungan yang didapat bisa mencapai Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per hari.
“Kalau lagi ramai-ramainya mah bisa dapat sampai Rp 300.000 bersih dan dibawa pulang ke rumah,” ujar Dodi kepada merdeka.com di Jakarta, Sabtu (23/7).
Hasil keuntungan bersih tersebut dihitung setelah biaya operasional seperti setoran ke pemilik bajaj sebesar Rp 130.000 per hari dan membeli BBG sebesar Rp 20.000 per hari.
Setiap harinya, dia beroperasi dari jam 6 pagi hingga jam 9 malam di kawasan Jakarta Pusat. Bahan bakarnya pun, kata dia, hanya diisi satu kali dalam sehari. Padahal, sebelumnya kalau pakai BBM itu bisa dua sampai tiga kali sehari.
“Saya cuma isi 6 lsp (liter setara premium) ya cuma Rp 20.000. Dulu minimal Rp 70.000 sampai Rp 90.000 per hari buat bensin saja,” tegasnya.
Selain itu, biaya perawatan bajaj gas pun lebih irit tidak sampai Rp 100.000. Hal ini karena pengemudi tidak perlu melakukan pergantian oli secara rutin dan tidak mengeluarkan polusi dari pembuangan mesin.
“Buat saya untungnya lebih banyak, yang naik lebih nyaman, yang nggak naik juga kan enggak keganggu karena enggak berisik,” pungkasnya (mdk|dwk)







