kompasnasioanal.com | JAKARTA
Aktifis meminta kepada para penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar secepatnya memeriksa Mantan Bupati Rokan Hulu (Rohul) Achmad, sebab laporan sudah disampaikan bahkan sudah dilengkapi sesuai permintaan pihak KPK itu sendiri.
Pernyataan ini disampaikan, Aktifis Masyarakat dan Mahasiswa Antik Korupsi (MMAK) Mira Yanti Hasibuan, Senin (19/9/2016).
Menurutnya, sejumlah kasus yang dilaporkan kepada instansi KPK yakni terkait kepemilikan Surau Suluk Syekh Ibrahim, karena menurut data dari yayasan atau akta notaris, termasuk Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusian (Kemenkumham) bahwa yayasan tersebut milik pribadi inisial, (Ac), (JE), (MM), (SS) dan lainnya.
“Sedangkan Yayasan Masjid Islamic Center Rohul, itu juga dikuasai secara pribadi yakni atas nama (AC), (NH), (BS) dan pejabat lainnya yang dianggap punya hubungan dekat dengan Mantan Bupati Rohu Achmad,” terangnya.
Tidak itu saja, sambung Mira Yati Hasibuan, juga dilaporkan terkait dana Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) fiktif Badan Kepegawaian Daerah (BKD), yang kabarnya pelakunya sudah ditetapkan empat tahun penjara.
Kemudian, dana Anggaran Dana Desa (ADD) tahun 2015 lalu, sekitar 20 persen lagi belum diserahkan kepada Kepala Desa (Kades), termasuk dana ADD untuk Bimbingan Tekhnis (Bimtek) Tahun 2015 lalu.
“Jadi dalam waktu dekat ini, kami akan langsung diskusikan ini dengan Ketua KPK RI Agus Raharjo, karena kami tidak ingin uang rakyat digunakan untuk kepentingan pribadi. Sebab jika dilihat data-data yang kami sampaikan kepada KPK, jelas-jelas Mantan Bupati Rohul Achmad sudah memanfaatkan kewenangannya sebagai Bupati Rohul untuk kepentingan pribadi dan kroninya,” tutur Mira lagi.
Selain itu, Mira Yanti Hasibuan mengancam, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan aksi di Istana Presiden untuk meminta kepada Presiden Jokowi agar mendesak KPK bekerja serius dalam pemberantasan korupsi di Negeri Seribu Suluk.
“Kita nanti akan unjuk rasa di sana, sebab sudah dua kali kita melakukan audience dengan pihak KPK RI, kemudian kita juga sudah dua kali melakukan aksi di KPK itu sendiri. Jadi kini aksi di Istana supaya Presiden tau apa yang terjadi di Rohul,” pungkasnya (Risto)






