Home / Internasional

Kamis, 22 Juli 2021 - 11:06 WIB

Hasrat Taliban Kembalikan Afghanistan Jadi Negara Islam

Viewer: 469
0 0
Terakhir Dibaca:2 Menit, 6 Detik

Kompasnasional l Sejak digulingkan pada 2001, Taliban terus melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Afghanistan yang didukung Amerika Serikat.
Di tengah perundingan perdamaian dengan Afghanistan yang mandek membuat kelompok milisi itu semakin gencar beraksi untuk berupaya merebut kekuasaan.

Melansir Council Foreign Relation, cita-cita Taliban sebenarnya ingin Afghanistan menjadi negara Islam seperti era 1996 sampai 2001. Pemerintahannya dipimpin oleh seorang pemimpin yang mendapat legitimasi dari para ulama.

Afghanistan saat ini berbentuk republik yang dipimpin seorang presiden dan memperoleh legitimasi dari hak pilih universal yang sesuai dengan hukum dan norma internasional.

Frekuensi serangan yang dilakukan Taliban semakin tinggi usai Amerika Serikat dan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menarik pasukannya dari negara tersebut, sesuai kesepakatan damai di antara mereka. Penarikan itu sekaligus menjadi simbol kemenangan kelompok itu.

“Bagi Taliban, perdamaian tidak berarti mengakhiri pertempuran, tapi berarti mengakhiri pendudukan AS,” ujar editor platform Long War Journal yang meliput perang AS-Al Qaeda, Bill Roggio.

Baca Juga  Israel Buka Kedutaan Pertama di Uni Emirat Arab

“Setelah Amerika Serikat pergi, Taliban akan bekerja untuk menyelesaikan masalahnya dan membangun kembali emirat Islam.”

Menurut The Guardian, penarikan pasukan AS sudah lebih dari 90 persen. Kemungkinan penarikan itu akan rampung pada Agustus mendatang.

AS selama ini memiliki peran utama dalam hal politik, ekonomi, dan keamanan di Afghanistan sejak 2001. Kebangkitan Taliban dapat mengubah negara itu menjadi sarang perlindungan teroris, menurut laporan ABC.

Selain itu, ketidakstabilan internal di Afghanistan memiliki konsekuensi regional yang lebih besar karena Pakistan, India, Iran, dan Rusia semuanya berlomba untuk mendapatkan pengaruh di Kabul.

Penarikan pasukan AS memicu kekhawatiran penduduk Afghanistan. Mereka cemas, apakah pemerintah dan pasukan nasionalnya mampu mempertahankan diri dan mengimbangi kekuatan Taliban, sekaligus menjamin tak akan ada lagi perang saudara.

Dua pekan lalu, Taliban mengklaim menguasai 85 persen wilayah termasuk di jalur perbatasan antar negara di Afghanistan melalui pertempuran sengit. Pemerintah resmi hanya mampu mengendalikan wilayah ibu kota Kabul dan sekitarnya.

Baca Juga  Kereta Peluru Malaysia-Singapura, Jepang Potensi Kalahkan China

Kemenangan Taliban baru-baru ini membuat pemerintah Afghanistan dalam posisi yang semakin sulit. Ratusan tentara menyerah ditambah kehilangan sejumlah besar senjata dan peralatan militer, seperti dikutip The New York Times.

Meski pasukan AS yang tersisa di Afghanistan telah memberikan beberapa bantuan, melalui pesawat, tetapi dirasa tak cukup melawan serangan Taliban.

Pasukan pemerintah kewalahan menghadapi serangan yang bertubi-tubi itu. Warga yang tinggal di wilayah kekuasaan Taliban juga memilih angkat kaki.

Taliban bersedia melakukan gencatan senjata asal 7.000 lebih tawanan dibebaskan dari pemerintah Afghanistan. Kelompok itu juga ingin nama para pemimpinnya dihapus dari daftar sanksi.

Di sisi lain, pemerintah Afghanistan, ragu menerima ide itu sebagai jalan keluar setelah melihat sebanyak 5.000 pasukan Taliban yang dibebaskan kembali ke medan perang.(CNNI/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Internasional

Pernyataan Tegas Menlu Retno soal Batas Maritim: Indonesia Akan Selesaikan sampai Tuntas

Internasional

Begini Kabar Terbaru Jack Ma yang Diduga Menghilang

Arsip

Situs “Kawin Lagi” Bagi Pria Muslim Bikin Gempar Publik Australia

Berita

Erdogan temui Paus Fransiskus di tengah gelombang unjuk rasa

Internasional

Washington dan New York Ubah Nama Jalan Jadi Black Lives Matter

Berita

Di ASEAN, Serangan Siber Bisa Sebabkan Kerugian USD 750 Miliar

Berita

Menkeu AS Minta Trump Jatuhkan Sanksi Baru Iran

Arsip

Indonesia Jangan Diam PRT Asal Indonesia Sampai Dipajang di Saudi