Viewer: 755
0 0

Home / Internasional

Kamis, 11 Juni 2020 - 20:43 WIB

Washington dan New York Ubah Nama Jalan Jadi Black Lives Matter

Viewer: 756
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 59 Detik

Kompasnasional | Washingto D.C. dan New York rupanya memutuskan untuk mengubah nama ruas jalan di beberapa titik menjadi Black Lives Matter. Hal ini dilakukan sebagai tanda bahwa mereka menghormati gerakan kampanye warga AS yang digaungkan sejak beberapa pekan terakhir.

Di Washington D.C., wali kota Muriel Bowser, memutuskan mengubah nama sebuah jalan yang menuju Gedung Putih menjadi Black Lives Matter Plaza, sebagai bentuk penghormatan atas gelombang unjuk rasa di Amerika Serikat. Papan nama jalan tersebut disematkan di tiang penunjuk jalan di antara Jalan H dan 16, dekat Taman Lafayette. di aspal ruas jalan itu juga nampak tulisan Black Lives Matter dalam ukuran besar dengan cat berwarna kuning.

Menurut Bowser, alasan dia dan Dewan Kota Washington D.C., melakukan hal tersebut adalah untuk menunjukkan kepada para penduduk bahwa mereka bisa berunjuk rasa dengan aman dan damai. “Kalian boleh berunjuk rasa atau menyampaikan kekecewaan terhadap pemerintah serta mendesak perubahan,” kata Bowser.

Baca Juga  Insiden 200 Turis Inggris Kabur dari Resor Ski di Swiss Saat Karantina

Sedangkan di New York, wali kota Bill de Blasio mengatakan bahwa kota metropolitan itu juga akan mengecat jalan raya untuk menghormati sekaligus mendukung gerakan Black Lives Matter yang terus berlangsung di seluruh penjuru negeri. “Sebuah proposal tengah dipertimbangkan untuk memberi nama jalan-jalan di beberapa area vital di Kota New York menjadi Black Lives Matter,” kata Blasio.

Jalan pertama yang akan diubah namanya terletak di dekat Balai Kota. Keputusan itu diumumkan beberapa hari setelah wali kota Muriel Bowser menginstruksikan pengubahan nama jalan Black Lives Matter di Washington.

Black Lives Matter adalah slogan yang kini kerap disuarakan dalam aksi unjuk rasa untuk mengkritik sikap diskriminasi rasial di AS. Seperti yang diketahui, warga Amerika marah akibat kematian George Floyd, seorang warga kulit hitam yang tewas akibat ulah polisi kulit putih Minneapolis. Mereka turun ke jalan dan menggelar demonstrasi besar-besaran untuk menuntut keadilan.

Baca Juga  Israel Akan Kirim Pesawat Antariksa ke Bulan pada 2019, Ternyata Ini Tujuannya

Kematian Floyd dinilai menjadi puncak amarah warga Amerika terkait diskriminasi dan sikap rasisme yang sistematis, terutama terhadap perlakuan aparat kepada warga kulit hitam dan minoritas.

Aksi protes pertama kali pecah di Minneapolis sehari setelah kematian Floyd hingga akhirnya menyebar ke seluruh penjuru AS. Demonstrasi dan gerakan solidaritas untuk Floyd dan anti-rasisme secara keseluruhan bahkan turut berlangsung di sejumlah negara Eropa, Amerika Latin, hingga Asia.

Trump lantas mengancam akan mengerahkan pasukan aktif bahkan di negara bagian yang menentang penggunaan militer. Ancaman ini memicu peringatan dari militer dan Kongres. Salah satu petinggi Partai Republik bahkan memperingatkan hal itu dapat membuat tentara menjadi pion politik.(Wk/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Pro Palestina, Israel Jatuhkan Larangan Perjalanan kepada 20 LSM

Arsip

5 Lukisan ‘Tak Jelas’ Ini Dijual Miliaran, Bahkan Hingga Triliunan Rupiah!

Arsip

Van Warna Putih Berjalan Zig-zag di Jalanan Kota Barcelona Tewaskan 13 Orang
Foto timnas Prancis

Berita

Piala Dunia 2022: Jadwal Lengkap, Hasil, Klasemen, dan Top Skor

Internasional

Warga Korea Utara Menangis Lihat Kim Jong-un Tampak Kurus

Berita

Turki Kembali Periksa Konsulat Saudi, Cari Bukti Pembunuhan Khashoggi

Arsip

Iran Hukum Model Unggah Foto Tanpa Hijab di Sosial Media

Berita

Olimpiade Dibuka Hari Ini, Korut Tegaskan Tak Akan Temui Wapres AS