Viewer: 893
0 0

Home / Opini

Kamis, 24 September 2020 - 15:52 WIB

Fadli Zon Usul Provinsi Sumbar Ganti Nama Jadi Minangkabau

Viewer: 894
0 0
Terakhir Dibaca:2 Menit, 12 Detik

Kompasnasional | Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Fadli Zon mengusulkan agar Provinsi Sumatera Barat berganti nama menjadi Minangkabau. Fadli mengatakan bahwa usulan tersebut muncul setelah beberapa pekan lalu Sumatera Barat ramai menjadi topik perbincangan lantaran muncul kesan diragukannya dukungan Sumatera Barat terhadap Pancasila.

“Provinsi Sumatera Barat perlu ganti nama menjadi Provinsi Minangkabau,” tulis Fadli di akun Twitternya @fadlizon, Rabu (23/9).

Fadli mengungkapkan, bahwa usulan Provinsi Sumatera Barat menjadi Minangkabau bukanlah hal baru. Ia mengatakan usulan tersebut telah ada sejak tahun 1970-an. Ia pun menganggap bahwa gagasan perubahan nama tersebut kini semakin relevan.

Fadli menyebut ada sejumlah alasan nama Minangkabau lebih pantas digunakan oleh Provinsi Sumatera Barat. Pertama, nama Minangkabau lebih mewakili identitas, kebudayaan, serta kesejarahan masyarakat yang ada di Sumatera Barat.

“Sebab, kalau kita bicara Minangkabau, maka tarikan sejarahnya merentang hingga jauh ke belakang, jauh sebelum Indonesia lahir. Sementara, kalau kita bicara Sumatera Barat, asosiasinya hanya terkait wilayah administratif saja,” jelas Ketua Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM) tersebut.

Baca Juga  Istri Pejabat alias Ibu-ibu PKK 'Jalan-jalan' ke Lombok, Kasus Mengendap di Kejari Tobasa ?

Alasan kedua, mantan wakil ketua DPR itu memandang daerah Minangkabau punya posisi dan pengaruh politik istimewa terhadap sejarah pembentukan Republik Indonesia. Ia menyebut salah seorang penggagas Republik pada tahun 1925 adalah seorang Minang yaitu Tan Malaka.

“Di ranah Minang pernah berdiri Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin Mr. Sjafruddin Prawiranegara, dengan Bukittinggi sebagai ibukotanya. Sesudah para pemimpin kita ditawan, dan Yogyakarta sebagai ibukota dikuasai Belanda, Republik Indonesia tidak hilang, karena masih ada PDRI,” ujarnya.

“Adanya PDRI ini pula yang memberi kita legitimasi untuk meneruskan perundingan dengan Belanda di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tanpa PDRI belum tentu ada NKRI. Karena PDRI akhirnya Belanda mengakui kedaulatan RI pada 27 Desember 1949, setelah perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB),” imbuhnya.

Alasan ketiga, Fadli beranggapan orang Minangkabau memiliki kiprah yang cukup besar dalam sejarah Republik Indonesia. Menurutnya secara demografis jumlah etnis Minangkabau di Indonesia hanya berkisar sekitar tiga persen dari total jumlah penduduk. Namun, peran orang Minangkabau dalam sejarah Indonesia jauh lebih besar dari itu.

Baca Juga  Sebut Didanai Pemodal Raksasa, Ade Armando: Rizieq Adalah Orang yang Bisa Membuka Kotak Pandora

“Kalau hari ini orang teriak-teriak “NKRI Harga Mati”, jangan lupa, orang yang mengusulkan mosi integral, yaitu mempersatukan kembali wilayah NKRI yang tercerai-berai ke dalam sejumlah negara bagian, itu juga orang Minang. Namanya Mohammad Natsir,” ungkapnya.

Keempat, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) tersebut melihat orang Minangkabau punya sumbangan besar terhadap pembentukan bahasa persatuan. Menurutnya di tangan orang Minang bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang hingga menjadi dikenal seperti sekarang. Fadli juga menyebut beberapa sastrawan Minang ternama seperti Abdoel Moeis, Marah Roesli, Soetan Takdir Alisjahbana, Idroes, Chairil Anwar, Hamka, ataupun Ali Akbar Navis.

“Jadi, dengan alasan-alasan itu, saya kira sangat pantas jika orang Minang mengusulkan agar nama Provinsi Sumatera Barat diganti menjadi Provinsi Minangkabau,” ucapnya.(R/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Opini

Didesak Minta Maaf soal ‘Santri Calon Teroris’, Ini Jawaban Denny Siregar

Opini

TNI Menurunkan Baliho Rizieq Intervensi atau Stimulasi?

Arsip

Menteri Jonan: Target Negosiasi Kontrak Freeport Selesai Akhir Juli

Opini

Pilkada 2022 Ditunda, Jokowi Bisa Satu-satunya Kepala Daerah yang Jadi Presiden

Arsip

TNI Yakin Bisa Bebaskan 10 WNI Dari Tangan Abu Sayyaf

Opini

Tunjangan Guru Dihapus, Mendikbud Dinilai Tak Berperikemanusiaan

Opini

Hari Santri Nasional 2020, Wapres: Pesantren Harus Bangun Tak Boleh Tidur

Opini

Bukan Habib Rizieq, Sekum Muhammadiyah Duga Ada Big Power Manfaatkan FPI