Viewer: 780
0 0

Home / Ekonomi

Jumat, 24 Juli 2020 - 11:32 WIB

Pendapatan Jeblok, Pemerintah Arab Saudi Terpaksa Berutang dan Jual Aset

Viewer: 781
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 42 Detik

Kompasnasional | Menteri Keuangan Arab Saudi Mohammed al-Jadaan mengungkapkan Pemerintah Arab Saudi bakal menjual aset yang dimilikinya di sektor-sektor yang sebelumnya tidak dipertimbangkan untuk diprivatisasi. Sektor tersebut di antaranya kesehatan dan pendidikan.

Ia menyebut privatisasi setidaknya bakal meraup 50 miliar dolar AS (sekitar Rp 729,13 triliun) dalam 5 tahun ke depan, dilansir Reuters, Rabu (22/7/2020).

Arab Saudi tengah mengalami resesi yang tajam tahun ini, dampak pandemi virus Covid-19. Anjloknya harga minyak juga membuat pendapatan minyak jeblok.

International Monetary Fund (IMF) memperkirakan terjadinya kontraksi hingga 6,8 persen tahun 2020 ini. Namun Jadaan mengatakan kontraksinya bisa lebih rendah dari angka tersebut.

Arab Saudi telah melipatgandakan pajak pertambahan nilai menjadi 15 persen bulan ini karena berupaya meningkatkan kas negara.

Baca Juga  Menkeu Sri Mulyani janjikan jaga APBN 2018 dari pemborosan dan korupsi

Arab Saudi telah mengumpulkan 12 miliar dolar AS (sekitar Rp 174,89 triliun) melalui obligasi internasional sejauh ini. “Dan akan meningkatkan penerbitan utang lokal dibandingkan dengan rencana aslinya,” kata Jadaan.

IMF pernah menyebut wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara bakal turun ke titik terendahnya selama 50 tahun, karena Covid-19 dan rendahnya harga minyak.

Pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut diperkirakan minus 5,7% bahkan bisa minus 13% apabila ada konflik yang muncul di negara tersebut. Angka ini lebih rendah 2,4% dibanding prediksi IMF sebelumnya pada April 2020.

Hancurnya ekonomi dua wilayah ini akan membuat tingkat kemiskinan dan pengangguran meningkat. Sementara dari sisi fiskal, bakal membuat defisit dan utang membengkak.

Baca Juga  Lions Club Medan Golden Estate Sumbang Darah Untuk Penyandang Talasemia

“Wilayah ini menghadapi krisis lebih, tidak seperti wilayah lain. Ada dua tekanan yang menghantam ekonomi wilayah ini,” ujar Direktur IMF untuk Timur Tengah dan Asia Tengah, Jiad Azour, dilansir dari AFP, Senin (13/7/2020).

Sejumlah negara di Timur Tengah memberlakukan aturan lockdown untuk menekan penyebaran virus corona, kebijakan ini makin menekan aktivitas ekonomi.

Sebagaimana diketahui, harga minyak jatuh hingga duapertiga, karena pergerakan ekonomi dunia yang terhambat penyebaran virus corona. Saat ini harga minyak pulih ke kisaran US$ 40/barel.

Negara eksportir minyak di wilayah ini memprediksi adanya kerugian pendapatan mencapai 270 miliar dolar AS (sekitar Rp 3.936 triliun) karena penurunan harga minyak.(GM/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Mulai Hari Ini ! Pemerintah Mewajibkan kepada seluruh warga Indonesia untuk mengenakan masker saat akan keluar rumah

Berita

Mulai Hari Ini ! Pemerintah Mewajibkan kepada seluruh warga Indonesia untuk mengenakan masker saat akan keluar rumah

Arsip

Diduga Dedi Telap Rp 200 Juta Uang Haram Jatah Oknum Poldasu, Apakah Benar ?

Berita

Dinilai Banyak Kejanggalan, Impor Beras Ditolak

Arsip

Kisah Pengikut Dimas Kanjeng Setor Rp 202 M Dapat Emas Palsu 500 Kg

Berita

Pertamina Sengaja Hilangkan Premium?

Arsip

Syarat bila RI Ingin Target Ekonomi Tumbuh 5,2 Persen

Berita

Tipu Daya Dibalik Pembelian Saham Freeport

Arsip

Ini Perwira Polri Penerima Ratusan Juta Rupiah Dari Bandar Narkoba Akiong