Viewer: 1030
0 0

Home / Opini

Jumat, 26 Juni 2020 - 19:15 WIB

Serikat Guru: Pelaksanaan Sistem PPDB DKI Jakarta Harus Ditinjau Ulang

Viewer: 1031
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 51 Detik

Kompasnasional | Federasi serikat guru Indonesia (FSGI) mendesak Gubernur Anies Baswedan meninjau kembali seleksi penerimaan peserta didik baru (PPDB) DKI Jakarta tahun ajaran 2020/2021

Wasekjen FSGI Satriwan Salim mengatakan sistem seleksi yang diterapkan di Jakarta terutama jalur zonasi dan jalur zonasi bertentangan dengan Permendikbud No 44/2019 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru atau PPDB.

Dimana pada Pasal 25 ayat 1 Seleksi calon peserta didik baru SMP (kelas 7) dan SMA (kelas 10) dilakukan dengan memprioritaskan jarak tempat tinggal terdekat ke sekolah dalam zonasi yang sama.

Patokan ini tak dipakai oleh Pemprov DKI. Dinas Pendidikan setempat malah memodifikasi dengan melakukan seleksi berdasarkan usia.

“Nah, di sini sangat jelas sekali frasenya tertulis yaitu “dilakukan dengan memprioritaskan jarak”, jelas sekali prasyaratnya bukanlah usia, melainkan jarak,” kata Satriwan saat dikonfirmasi Kamis (25/6/2020).

Baca Juga  MUI Minta Menag Yaqut Hati-hati soal Afirmasi Hak Beragama Syiah-Ahmadiyah

Dari penelusuran pihaknya di sejumlah sekolah negeri di Jakarta, lanjut Satriawan Penerimaan siswa jalur afirmasi kuotanya sebesar 25 persen dari daya tampung di sekolah tersebut. Tetapi kata dia siswa yang usianya usianya lebih muda langsung ditolak sistem karena tidak memenuhi kriteria.

“Nah, ketika calon siswa mendaftar ke sekolah, secara otomatis ‘by system’ maka yang bisa ikut pendaftaran afirmasi adalah para siswa yang usianya di atas atau lebih tua. Misalnya usia 19; 18; 17. Diambil dari 1-25 dengan usia tertinggi tersebut. Otomatis usia di bawahnya tak bisa mendaftar atau langsung tertolak oleh sistem, sebab kuotanya sudah terpenuhi,” pungkasnya.

Jalur zonasi di Jakarta memang berpolemik, para orang tua wali murid dua hari belakangan ini bahkan sampai menggelar unjuk rasa di depan kantor Anies Baswedan untuk menyatakan keberatan mereka atas aturan jalur zonasi yang berpatokan pada usia siswa tersebut.

Baca Juga  Kejagung ke Otto Hasibuan: Kami Eksekusi Vonis PK Djoko Tjandra, Bukan Penahanan

Lantaran tak ada perwakilan dari Pemprov DKI yang mau menemui para pengunjuk rasa, mereka lantas melapor ke DPRD DKI.

Kemarin Komisi E DPRD DKI memfasilitasi para orang tua wali murid itu untuk bertemu Kepala Dinas Pendidikan DKI Nahdiana, namun jalan keluar tetap buntu.

“Perihal demonstrasi orang tua di DKI, alangkah lebih elok jika Gubernur DKI menemui, mendengarkan curhatan, dan keluh-kesah para orang tua, sehingga ada jalan tengahnya. Sebab kita semua adalah para orang tua, yang pasti akan merasakan kekhawatiran, di saat anaknya tak diterima di sekolah negeri dengan alasan aturan, yang sebenarnya aturan tersebut bertentangan dengan aturan di atasnya,” tutupnya.(A/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Opini

Ketua Komisi X Minta Kemendikbud Tambah Kuota PIP dan KIP Kuliah

Berita

Ahok Sudah Ikhlaskan Vero untuk Julianto Tio Sang ‘Good Friend’

Opini

Demokrat soal Cuit Paha Dianggap Pelecehan: Perlu Pembuktian

Opini

Tanggapi Isu Kaitan ISIS dengan Habib Rizieq, Luqman Hakim: Bohong adalah Ibu dari Segala Dosa

Opini

Pilkada 2022 Ditunda, Jokowi Bisa Satu-satunya Kepala Daerah yang Jadi Presiden

Opini

Mantan Jubir KPK Sebut Mensos Juliari Tak Bisa Dihukum Mati, Ini Alasannya

Opini

Pengamat Kepolisian Sisno Adiwinoto Nilai Investigasi Komnas HAM Gagal Fokus

Berita

Istri Pejabat alias Ibu-ibu PKK ‘Jalan-jalan’ ke Lombok, Kasus Mengendap di Kejari Tobasa ?