Jakarta – Kompasnasional.com
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang terdapat di Pasar Minggu, Jakarta Selatan tiba-tiba roboh saat terhempas angin kencang saat hujan. Janggal, aparat mencoba menelisik mengapa jembatan yang belum lama digunakan itu sudah memakan korban.
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan memerintahkan jajarannya mengusut adanya dugaan korupsi dalam pemeliharaan Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) tersebut.
“Saya sudah perintahkan kapolres. Itu kan jembatan harusnya kan ada biaya maintenance,” ujar Iriawan di Mapolda Metro Jaya, kemarin.
Polisi usut dugaan korupsi
Polda akan meminta kejelasan dari pihak yang bertanggungjawab mengenai apakah ada biaya perbaikan bagi JPO. Jika dalam penelusurannya ditemukan adanya biaya perbaikan, maka indikasi adanya korupsi sudah dapat terlihat.
“Kenapa tidak dilakukan maintenance terjadi kerusakan sehingga menyebabkan ada angin, keropos, jatuh dan menimpa orang. Itu yang akan kami dalami,” ungkap Iriawan.
Namun, jika ada anggaran untuk perbaikan dan telah dilakukan maintenance secara berkala, polisi menyelidik adanya dugaan lain.
“Kalau nanti ada unsur kesengajaan kita minta pertanggungjawaban,” ungkap Iriawan.
Tak ada perawatan berkala
Pengamat Tata Kota Nirwono Yoga meragukan mengenai telah dilakukannya maintenance secara berkala yang dilakukan oleh pemporv DKI. Karena dalam 15 tahun terakhir, setiap musim peralihan atau pancaroba yang diikuti angin kencang telah mengakibatkan sejumlah kejadian seperti pohon tumbang, robohnya papan reklame dan yang terbaru robohnya JPO.
“Jadi tidak ada hal yang baru. Yang jadi masalah adalah tidak ada upaya yang cukup serius dari pemprov untuk mengantisipasi papan reklame dan JPO,” kata Nirwono.
Salahkan baliho
Menjawab tudingan tersebut Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta masih menelisik penyebab pasti robohnya jembatan saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Dugaan sementara, angin kencang membebani baliho yang terpasang di rangka besi pagar jembatan. Selain itu, komponen jembatan keropos hingga terkoyak diterpa badai.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tidak membantah banyaknya jembatan penyeberangan di Jakarta yang sudah dalam kondisi uzur.
“Karena JPO-nya sudah tua,” kata Ahok, kemarin.
Ahok menjelaskan, hampir seluruh jembatan penyeberangan di Jakarta pembangunannya dilakukan melalui kerja sama dengan swasta. Tidak heran, bila di pagar jembatan penyeberangan selalu terdapat papan reklame sebagai kompensasi pembangunan oleh pihak swasta.
Adanya dugaan papan reklame turut menjadi biang kerok musibah robohnya jembatan, kata Ahok, Pemprov sudah membuat aturan baru dalam Peraturan Gubernur agar tidak ada lagi iklan di JPO.
“Tapi masalahnya ada beberapa kontrak yang belum selesai,” ujarnya.
Perbaikan JPO di Jakarta
Ahok kemudian mencontohkan JPO yang berada di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Ke depannya, Ahok mengimbau kepada Dinas Perhubungan dan Transportasi sebagai penanggung jawab keberadaan JPO agar merekonstruksi seluruh JPO seperti yang ada di Bundaran HI.
“Jadi JPO harusnya terbuka. Tidak boleh ada dinding yang menahan angin. Dari sisi keamanan juga mengantisipasi kalau terjadi perampokan dan pelecehan,” tegas Ahok.
Berdasarkan data Dishubtrans DKI, jumlah JPO di Jakarta ada sekitar 307 jembatan. Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Andri Yansyah mengaku sedang melakukan pengecekan dalam dua hari ke depan.
Menurut Andri, perawatan dan pemeliharaan JPO ini dianggarkan setiap tahun. Namun, dia tidak menyebutkan berapa jumlah anggarannya. Kata dia, salah satu kendala yang terjadi sejak lama dalam hal perawatan adalah ketiadaan koordinasi yang baik antar pihak terkait dan stakeholder lainnya, baik pengembang, termasuk masyarakat terkait pentingnya JPO.(kn/rn)












