Viewer: 705
0 0

Home / Internasional

Sabtu, 12 September 2020 - 20:10 WIB

Negosiasi Damai, Afghanistan Dialog dengan Taliban

Viewer: 706
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 29 Detik

Kompasnasional | Pemerintah Afghanistan bertemu dengan perwakilan Taliban di Doha, Qatar pada Sabtu (12/9) ini untuk membahas negosiasi perdamaian. Pemimpin proses perdamaian, Abdullah Abdullah, menyerukan gencatan senjata.
Abdullah juga menyoroti jumlah korban jiwa akibat perang yang sedang berlangsung. Setidaknya sebanyak 12 ribu warga sipil tewas dan 15 ribu lainnya terluka sejak Amerika Serikat dan Taliban meneken kesepakatan pada Februari lalu.

“Kita harus menggunakan kesempatan yang luar biasa ini untuk berdamai. Kita harus menghentikan kekerasan dan menyetujui gencatan senjata secepat mungkin. Kita ingin gencatan senjata kemanusiaan,” kata Abdullah saat pembukaan.

Menurut Pompeo, kedua pihak harus menyempurnakan sikap bagaimana memajukan negara dengan tujuan mengurangi kekerasan. Juga memberikan apa yang dituntut oleh rakyat Afganistan.

Baca Juga  Perusahaan Ini Denda Karyawan yang Izin ke Toilet Lebih dari Sekali

“Afganistan yang berdamai dengan pemerintah adalah cerminan negara yang tidak berperang,” kata Pompeo

Sebagaimana dilansir AFP, dialog berlangsung dalam ruang konferensi hotel yang sangat besar. Kursi yang ditempati delegasi diletakkan berjauhan untuk menerapkan social distancing.

Namun, kesepakatan perdamaian yang komprehensif memakan waktu bertahun-tahun. Terlebih akan bergantung pada kesediaan dua belah pihak untuk menyamakan visi mereka yang selama ini berbeda.

Taliban sendiri menolak untuk mengakui pemerintahan Presiden Ashraf Ghani. Mereka akan mendesak pemerintahan untuk kembali menjadikan Afganistan sebagai kesatuan negara Islam.

Sementara, pemerintahan yang dipimpin Ghani akan mempertahankan kedudukan mereka yang didukung negara Barat. Terlebih negara Barat telah mendukung banyak hak, salah satunya hak kebebasan bagi perempuan.

Baca Juga  Kereta Peluru Malaysia-Singapura, Jepang Potensi Kalahkan China

Warga Ibu Kota Kabul, Obaidullah, ragu dengan perdamaian yang sedang dibicarakan berlangsung dengan cepat. Terlebih perang berlangsung sangat lama, dari janggutnya hitam hingga beruban.

“Saya skeptis dengan pembicaraan ini karena kedua pihak sama-sama ingin menerapkan sistem dan semua kegiatan mereka,” kata Obaidullah.

Secara diam-diam, Qatar telan menjadi pemandu proses perdamaian yang sulit. Pada 2013 mereka mengundang Taliban untuk membuka kantor politik dan membantu menengahi kesepakatan penarikan pasukan antara Washington dan Taliban pada Februari lalu.(CNNI/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Internasional

Israel Buka Kedutaan Pertama di Uni Emirat Arab

Internasional

Loujain al-Hathloul: Aktivis ‘penganjur perempuan boleh mengemudi di Arab Saudi’ dibebaskan dari penjara

Berita

China Tutup Seluruh Rumah Sakit Darurat Virus Korona di Wuhan

Internasional

Kerahkan Pasukan Penembak, Semua Orang yang Berpotensi Merongrong Kepemimpinan Kim Jong-Un Siap Dibinasakan, Adiknya Sendiri Juga Terancam Terbunuh

Internasional

Kudeta Militer Myanmar, Aung San Suu Kyi Ditangkap, Apa Penyebanya?

Arsip

Dipecat, Mantan Karyawan Sebut Facebook Mirip Korea Utara

Berita

Khashoggi Terkonfirmasi Tewas, Pejabat Saudi Terancam Sanksi AS

Berita

Tunggal Putri Cina tak Menyangka Dikalahkan Indonesia