kompasnasional.com | TAPTENG
Tim Media dan Data Center Pemenangan Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Amin Pardomuan Napitupulu-Ramses Hutagalung (AMIRA), mendatangi Kantor KPUD Tapteng, Senin (5/12/2016) siang.
Kedatangan mereka ini guna meminta penyelenggara pemilu itu segera menunda penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilkada, Selasa (6/12/2016).
Ketua Tim, Andri C Malau mengungkapkan alasan penundaan penetapan DPT itu karena ditemukannya sampling (contoh) terhadap 20 warga pemilih ganda, serta pemilih meninggal dunia, di setiap kecamatan yang telah disesuaikan sebelumnya dengan Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan (DPSHP).
“Kami bicara fakta loh, kita tim CIA (Center IT Amira) mendapatkan data DPS valid by name di beberapa kecamatan. Lalu kita lakukan sampling dengan mengambil 20 nama dan NIK ganda, untuk membuktikan petugas pemutahiran data pemilih yang melakukan coklit tidak bekerja optimal. Ini dibuktikan karena masih adanya data yang tidak valid, pemilih ganda antar lintas TPS dan sudah meninggal, serta eror in put data TPS-nya,” kata Andri.
“Kami sampaikan, kalau tim CIA memang sengaja kami fokuskan di sektor validasi data DPS ketimbang pencitraan di media sosial dan kita bentuk 4 orang tiap desa untuk coklit validasi lengkap dengan DPS by name,” lanjutnya.
Sementara Komisioner KPUD Tapanuli Tengah, Timbul Panggabean tidak memungkiri adanya human eror atau kesalahan tim KPUD saat pemutakhiran data pemilih. Pihaknya akan segera menindaklanjuti temuan data pemilih yang disampaikan tim AMIRA itu dengan memperbaiki DPSHP Pilkada.
Usai mendatangi KPUD, tim AMIRA selanjutnya membuat gugatan ke Panwaslih Tapanuli Tengah terkait kinerja PPK atas DPSHP Pilkada Serentak 2017 tersebut (Demakson Tampubolon)








