Home / Arsip / Arsip 2016 / Internasional / Reviews

Jumat, 16 September 2016 - 11:32 WIB

Cerita Pengakuan Pembunuh Bayaran Duterte Habisi Pelaku Kriminal

Viewer: 631
0 0
Terakhir Dibaca:2 Menit, 7 Detik

Dalam sidang pertemuan di Senat Filipina kemarin, seorang pria pembunuh bayaran membuat pengakuan yang menghebohkan seantero negeri.

Dia mengatakan sudah membunuh sekitar seribu pelaku kriminal dan lawan politik atas suruhan Presiden Filipina Rodrigo Duterte.

Pria bernama Edgar Matobato, 57 tahun, itu menyampaikan pengakuannya di depan Senat yang disiarkan melalui televisi nasional. Matobato mengatakan dia sudah mengenal Duterte sejak dua dekade lalu saat sang presiden masih menjabat wali kota Davao City. Duterte, kata dia, secara pribadi menyuruhnya melakukan serangkaian pembunuhan dengan tim khusus bernama Pasukan Kematian Davao.

“Kami ditugaskan membunuh pelaku kriminal setiap hari, termasuk pengedar dan penjambret,” kata Matobato, seperti dilansir koran the New York Times, Kamis (15/9). Bukan itu saja, mereka juga membunuh pacar adik perempuan Duterte dan seorang pemilik hotel.

pengedar narkoba ditembak mati di filipina Daily mail

Awalnya, kata dia, pasukan khusus itu berjumlah tujuh orang dan kemudian bertambah menjadi puluhan. Pasukan itu bekerja atas sepengetahuan polisi Davao.

Baca Juga  Mantan Presiden ISIS Indonesia di Cianjur Jamin Seluruh Biaya Jihad Rohingya

Matobato bahkan mengungkapkan mayat korban kerap mereka biarkan tergeletak di jalanan, dilempar ke selokan, dibuang ke laut dengan sayatan di bagian perut supaya tidak mengapung atau untuk santapan buaya.

“Orang-orang di Davao City seperti ayam, mereka dibunuh tanpa alasan,” kata Matobato.

Sejak Duterte jadi presiden tiga bulan lalu tercatat sudah 3.000 nyawa pelaku kriminal melayang.

Namun juru bicara presiden Martin Andanar membantah semua tuduhan itu.

“Menurut saya, dia (Duterte) tidak bisa memerintahkan semua pembunuhan itu,” kata dia.

Sidang di Senat kemarin dipimpin oleh Senator Leila de Lima, mantan ketua Komisi Hak Asasi Filipina, lembaga independen yang menyelidiki pembunuhan oleh polisi di Davao.

De Lima yang juga mantan menteri kehakiman sering mengecam Duterte atas tindakan kejamnya terhadap para pelaku kriminal. Duterte juga diketahui pernah berjanji akan membunuh 100 ribu pelaku kejahatan dalam waktu enam bulan sejak jadi presiden.

Baca Juga  Sungguh Apes, Akibat Kantongi Sabu Bajing Di tangkap

“Barangkali kita bisa mengaitkan apa yang sedang terjadi saat ini dengan apa yang sudah terjadi di Davao pada 1990-an saat Wali Kota Duterte berkuasa selama dua dekade,” ujar de Lima.

Senator pendukung Duterte dalam sidang itu menyangkal seluruh pengakuan Matobato. Dia mengatakan seluruh cerita Matobato itu bohong dan hanya bagian dari skenario untuk melawan presiden.

Duterte belum berkomentar atas pengakuan sang pembunuh bayaran itu.

Matobato adalah anggota Pasukan Kematian Davao yang pertama mengaku di depan publik. Dia mengatakan direkrut pada 1988 untuk bergabung dengan sebuah tim bernama Lambada Boys saat Duterte baru menjabat wali kota. Tim itu kemudian bertambah anggotanya termasuk dari kepolisian.

Matobato mengatakan dia terlibat dalam 50 pembunuhan dari 1998 hingga 2013 dan pasukan itu sudah menghabisi sekitar seribu orang (mdk|dwk)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Pernikahan Sesama Perempuan, Suwarti Diancam 7 Tahun Penjara-kompasnasional

Arsip

Pernikahan Sesama Perempuan, Suwarti Diancam 7 Tahun Penjara

Arsip

Miris, Buruh di Pabrik Milik Orang Korea Dapat THR Cuma Rp 8 Ribu

Arsip

Bersama Empat Negara Ini, Indonesia Masuk Daftar ‘Pembuang’ Sampah Laut Terbesar

Arsip

Awas! Thailand Punya 8 Hal untuk Diwaspadai Timnas Indonesia!

Internasional

Bantai Ratusan Orang, Aksi Brutal Junta Myanmar Bikin ‘Ngeri’ AS

Arsip

Pengunduran Diri Taufik Ridho Diterima atau Ditolak, PKS Putuskan Akhir Maret

Arsip

Lagi, 4 Pemuda Perkosa Siswi SMP di Tengah Jalan Usai Sahur

Arsip

PPP Nilai Jokowi Copot Arcandra Sudah Tepat Secara Hukum dan Politik