Home / Arsip / Arsip 2016 / Ekonomi / Nasional / Reviews

Kamis, 25 Agustus 2016 - 11:48 WIB

Harga Minyak Longsor, Utang Raksasa Migas Cetak Rekor

Viewer: 564
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 46 Detik

Sejumlah perusahaan energi raksasa ditengarai tengah kian terbebani utang, menyusul tren penurunan harga minyak mentah. Ini meningkatkan kekhawatiran akan kemampuan mereka membayar dividen dan menemukan sumber minyak baru.

The Wall Street Journal, kemarin, melaporkan bahwa jumlah utang bersih empat raksasa migas dunia mencapai USD 184 miliar. Naik lebih dari dua kali lipat ketimbang jumlah utang pada 2014, kala harga minyak mentah mulai terlihat longsor hingga akhirnya sempat menyentuh titik terendah, USD 27 per barel awal tahun ini.

Adapun empat raksasa itu adalah Exxon Mobil Corp., Royal Dutch Shell PLC, BP PLC, dan Chevron Corp. Eksekutif ke empat korporasi tersebut telah menyakini para investor bahwa mereka bakal memiliki cukup uang untuk membayar dividen dan investasi pada 2017.

Baca Juga  Krani dan Asisten Terlibat Penggelapan Sawit, Dua Oknum Polisi Juga Diperiksa

Namun, para pemegang saham menanggapi skeptis. “Perusahaan-perusahaan itu tidak akan mampu menjaga kemampuan membayar dividennya di level USD 50-USD 60. Minyak ini tidak berkelanjutan,” kata Michael Hulme, Manajer Carmignac Commodities Fund yang memiliki saham di Shell dan Exxon.

Hal senada diungkapkan Jonathan Waghorn, manajer portofolio Guinness Atkinson Asset Management Inc. Menurutnya, tumpukan utang bakal melumpuhkan kemampuan perusahaan untuk investasi dan menggenjot produksi migas.

“Anggaran belanja mereka tidak akan cukup untuk meningkatkan produksi,” kata Jonathan. Perusahaannya mengontrol lebih dari USD 400 dana investasi energi juta. Termasuk didalamnya kepemilikan saham Exxon, BP, Chevron, dan Shell.

Raksasa migas itu meyakini bahwa mereka memiliki banyak cara untuk mengikis tumpukan utang tersebut. Diantaranya, penjualan aset, menawarkan investor penambahan kepemilikan saham ketimbang pembayaran dividen, dan penghematan.

Mereka juga mengatakan bahwa tumpukan utang tersebut hanya bersifat sementara. Itu akan menyusut seiring penaikan harga minyak mentah dan selesainya restrukturisasi perusahaan.

Baca Juga  Resnarkoba Polres Kampar Tangkap Seorang Pengedar Shabu di Air Tiris

Namun, para analis dan investor berpendapatan bahwa penurunan tajam harga minyak bakal membuat perusahaan kian sulit mengumpulkan duit dengan cara penjualan aset untuk melunasi utang. Mengalihkan kepemilikan saham ke investor juga dinilai hanya akan menimbun kesulitan bayar dividen di kemudian hari.

Disisi lain, keuntungan besar yang masih didapat perusahaan dari bisnis pengilangan diperkirakan bakal segera berakhir. Sebab, produksi bensin yang melimpah membuat erosi harga bahan bakar.

“Pertanyaannya bisakah mereka melewati tahun ini dan tahun depan tanpa harus melakukan sesuatu yang radikal, seperti, memangkas pembayaran dividen?” kata Iain Reid, Analis Senior Macquarie Capital (mdk|dwk)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Cerita Erwiana, TKI Korban Penyiksaan Menang Gugatan di Hong Kong

Arsip

Mima Saina, Orang Indonesia Jadi Pahlawan di Israel

Arsip

Roy Suryo Ajak Perang, Bonek Siap!

Berita

Sebanyak 272.886 TNI/Polri Amankan Pilpres dan Pileg 2019

Berita

Pelantikan Bamsoet: Insiden Salah Ucap hingga Target Prolegnas

Arsip

Akhirnya Jessica Jadi Tersangka dalam Kasus Kematian Mirna

Arsip

Tak Malu Akui Bahwa Dirinya Dulu Adalah Tukang Pasir, Polisi Ganteng Ini Kini Hits

Berita

Sekda Pemkot Pekanbaru Tak Netral, Pengamat: Harus Ditindak Tegas