Viewer: 801
0 0

Home / Opini

Selasa, 23 Juni 2020 - 20:02 WIB

Derita Orang Tua karena PPDB Pakai Usia, Anak Ranking 1 Tak Bisa Sekolah

Viewer: 802
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 12 Detik

Kompasnasional | Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang menggunakan seleksi umur membuat orang tua murid resah. Pasalnya aturan ini menjadikan usia paling tua dalam sistem penerimaan jalur zonasi menjadi diprioritaskan.

Hari ini, para orang tua murid yang tergabung dalam Gerakan Emak dan Bapak Peduli Pendidikan dan Keadilan (Geprak) menggelar unjuk rasa di Balai Kota untuk memprotes sistem ini. S

Suhada, peserta aksi yang juga orang tua murid mengaku sudah terkena dampaknya.

Anaknya yang ingin masuk salah satu SMA gagal mendapatkan sekolah yang diinginkan. Padahal, puterinya itu mendapatkan peringkat 1 nilai akademik terbaik di salah satu SMP di Tanjung Priok Jakarta Utara.

Baca Juga  Serikat Guru: Pelaksanaan Sistem PPDB DKI Jakarta Harus Ditinjau Ulang

“Anak saya peringkat 1, tapi kalah sama yang tua-tua,” ujar Suhada di lokasi, Selasa (23/6/2020).

Suhada lantas menunjukan foto sertifikat peringkat satu anaknya dari sekolah asal. Nilai akedemiknya juga ditunjukan dengan rata-rata 9,1.

Ia mengaku khawatir dengan sistem ini mengingat anaknya masih cukup muda dari standar usia masuk SMA. Masuk sekolah swasta pun juga bukan menjadi pilihan buatnya.

Baca Juga  SBY dan Oknum KPK Disebut Mendesain Anas Urbaningrum Jadi Tersangka

“Sekarang anak saya kan pinter, sudah kita didik. Jadi sia-sia dong kalau kalah sama umur,” jelasnya.

Agung Wibowo Hadi (46) salah satu perwakilan Geprak mengatakan tak mempermasalahkan adanya siswa yang tua masuk sekolah. Namun menurutnya harus dipisahkan dari jalur zonasi.

“Namanya pendidikan kan terukur. Kalau sekolah buat siswa yang tua, gak sempat atau bisa sekolah ya enggak apa-apa. Tapi jangan dimasukan di jalur zonasi saingan sama anak kita yang masih muda,” pungkasnya.(S/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Opini

Kemendikbud di Bawah Nadiem Makarim Dianggap Jadi Kementerian Paradoks

Opini

6Hakim MK Diminta Kembalikan Bintang Mahaputera Jokowi

Opini

Apakah Hantu Itu Nyata? Ini Kata Ahli

Berita

TERJAJAH LAGI ATAU BANGKIT MELAWAN

Opini

2024, Indonesia Butuh Pemimpin Kombinasi Bung Karno dan Soeharto

Berita

Rekomendasi Pansus Soroti SDM Hingga Penyadapan KPK

Opini

JK Beberkan Kesalahan Manuver Rizal Ramli di Masela

Opini

LIPI: Kiamat Sudah Dekat