Viewer: 1035
1 0

Home / Korupsi

Sabtu, 4 Juli 2020 - 09:54 WIB

Yunarto Wijaya Puji Nyali Pendeta Bongkar Korupsi di Kalteng, Laode Tandai KPK: Perlu Ketemu Beliau!

Viewer: 1036
1 0
Terakhir Dibaca:3 Menit, 19 Detik

Kompasnasional | Direktur Charta Politika,Yunarto Wijaya memberikan pujiannya untuk seorang pendeta bernama Mariyady.

Pasalnya, sang pendeta ini berani membongkar soal praktik Korupsi di daerah Sare Rangan,Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

Pujian Yunarto Wijayauntuk pendeta itu pun mendapat tanggapan dari Laode M Syarif, mantan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK).

Dalam sebuah video yang diembed oleh Yunarto Wijaya, tampak sosok sang pendeta, Mariyady menceritakan kisahnya ketika ditugaskan ke Sare Rangan, Kalimantan Tengah tahun 2005.

Sang pendeta ini tinggal bersama masyarakat Sare Rangan selama 2 tahun 9 bulan.

Menurut sang pendeta, selama ia tinggal di sana, kondisi hutan masih tampak asri. Hewan-hewan pun tenang menikmati kehidupannya di hutan.

“Tahun 2005 itu saya ditugaskan di Jemaat Sare Rangan dan saya ditugaskan di sana selama kurang lebih 2 tahun 9 bulan,” ujar Mariyady, dilansir TribunnewsBogor.com dari Youtube The Gecko Project, Rabu (24/6/2020).

“Itu menarik bagi saya, ketika membaur dengan kehidupan masyarakat Sare Rangan dengan hutan lebat yang kita bisa tanpa sengaja ataupun sengaja kita bisa melihat orangutan, kera bahkan beruang,” paparnya.

Akan tetapi, semua pemandangan tersebut berubah seketika di tahun 2016.

Hutan yang tadinya hijau lenyap digantikan dengan pohon-pohon sawit.

Rupanya, disebutkan bahwa pengalihan fungsi lahan yang tadinya hutan menjadi kelapa sawit ini berawal dari perintah bupati.
Bupati korup di Kalimantan Tengah ini membagikan izin-izin lahan untuk perusahaan perkebunan demi modal kampanye Pilkada.

Bupati Gunung Mas pun sudah ditangkap polisi karena korupsi.
“Ketika Mariyady pulang ke Sare Rangan tahun 2016, hutan yang dulu dia ingat telah dihancurkan oleh perusahaaan sawit,” imbuhnya.
“Perusahaan itu memperoleh sebuah lahan konsesi luas dari seorang bupati yang kemudian ditangkap polisi karena korupsi,” ungkap sang pendeta.
“Saya menangis, ternyata semuanya sawit,” ujar Mariyady.
Melihat fakta tersebut, pendeta Mariyady pun mengajak jamaatnya untuk melek terhadap kasus ini.
“Akhirnya saya tertarik dan merobah pola pikir jemaat, masyarakat Sare Rangan tanpa pandang agama apapun. Saya mengajak mereka,” ujar Mariyady.

Baca Juga  Selain HTI, Penganut Paham PKI Juga Bisa Dipenjara Seumur Hidup

Tak hanya itu, Mariyady pun melakukan investigasi sendiri.

Hasil investigasi tersebut mencengangkan untuk sang pendeta.
Ia menemukan bahwa penduduk desa dipaksa menyerahkan tanah dengan uang ganti rugi yang sangat kecil.
“Dari investigasi oleh Mariyady, ditemukan bahwa Petani Dayak diberikan uang ganti rugi yang sedikit dari pelepasan lahan yang mereka telah garap secara turun temurun.
Pendeta Mariyady ungkap praktik korupsi di Sare Rangan Kalteng, dengan mengalih fungsikan hutan jadi kebun sawit (Youtube The Gecko Project)
Transfer wilayah kini megancam hilangnya budaya mereka dan kehancuran lingkungan di Sare Rangan,” papar sang pendeta.
Menurut Mariyady, jumlah uang ganti rugi itu sama saja seperti pembunuhan.
“Ganti ruginya ada yang Rp 5 juta, Rp 5 juta satu hektar,” bongkar pendeta Mariyady.
“Itu sepadan gak?” tanya pewawancara.
“Ndak lah, ya makanya itu saya bilang ‘pembunuhan’,” jawab pendeta.
“Ini masyarakat bodoh dibuat bodoh lagi,” kata Mariyady.
“Bupati tahu, pak camat juga tahu. Dimana suara ini? Kenapa masyarakat dibodoh?” tegas Mariyady.

Baca Juga  Komisi Kejaksaan: Penangkapan Jaksa Kejati Jabar Terkait Kasus Korupsi di Subang

Kemudian, Mariyady pun mengungkapkan tanggapannya terkiat hal tersebut, terutama soal alih fungsi hutan jadi perkebunan kelapa sawit.
“Saya bukannya anti sawit. Untuk Sare Rangan, Kabupaten Gunung Mas, sawit tidaklah pas. Daerah lain boleh lah.
Saya tahu betul, tanah Sare Rangan itu tanah yang subur. Yang banyak tanaman-tanaman atau pohon yang bisa membantu masyarakat. Yang bisa mendukung masyarajkat.
“Dampak sawit itu luas, pertama ia tanaman yang tidak bersahabat. Dan itu akan merusak akan merusak lingkungan sekitarnya.
yang kedua, bagi masyarakat Sare Rangan, ndak ada kontribusi. Hutan di situ habis, air tercemar. Tetapi namanya kalau arean tanah sudah dijual dan dimiliki perusahaan tidak akan pernah kembali ke masyarakat. Itu tidak mungkin.
Dan tidak ada tempat, areal mengembang. Diri mereka habis. Ndak ada lagi, karena itu sudah dibeli, dikavling.
Dan pelan namun pasti, semua itu akan diambil mereka,” tegas sang pendeta.

Melihat video tersebut, Yunarto Wijaya memberikan pujiannya.
Menurutnya, nyali pendeta Mariyady ini sangat besat sehingga berani membongkar korupsi ke muka publik.
“Pak pendeta, nyali & kasih anda jauh lebih bernilai di mata saya,
dibanding para pendeta dengan kekayaan asset gereja besar, banyak cabang & senang menunduk dgn pemberi perpuluhan besar… Salut!,” tulis Yunarto Wjaya, di laman Twitternya. (TC/Red)

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Arsip

Diperiksa Kasus Suap Raperda Zonasi, Aguan Naik Alphard Putih ke KPK

Arsip

KPK Tangkap Hakim MK?

Korupsi

20 Kapal Milik Tersangka Korupsi Asabri Disita, Salah Satunya Terbesar di Indonesia

Korupsi

Ajukan Kasasi, KPK Harap Hak Politik Wahyu Setiawan Dicabut

Berita

Zumi Zola Kembali Jadi Tersangka

Berita

13 SMPN Pematangsiantar Diduga Kompak Selewengkan Dana BOS, LSM Pijar Keadilan Angkat Bicara

Berita

KEPALA DESA AEK GODANG ARBAAN KEMBALIKAN TUNTUTAN GANTI RUGI
Ketua DPRD Bengkalis Dituntut 8,6 Tahun Penjara, Karena Dinilai Korupsi Dana Bansos-kompasnbasional

Arsip

Ketua DPRD Bengkalis Dituntut 8,6 Tahun Penjara, Karena Dinilai Korupsi Dana Bansos