MEDAN – Kompasnasional.com
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menggelar Gebyar Kerajinan Daerah Sumatera Utara pada 2- 4 September 2016 di Lapangan Merdeka Medan.
Acara ini diikuti berbagai kerajinan dari kabupaten/kota. Perwakilan Kota Tanjungbalai terlihat mencuri perhatian pengunjung dengan berbagai kerajinan tangan berbahan cangkang kerang dan siput.
Penjaga stan Tanjungbalai, Adi Syawal mengatakan, bahwa kerajinan tangan ini terinspirasi karena menilik banyaknya cangkang kerang dan siput menjadi limbah di Tanjungbalai.
“Ini karya istri saya, Hotmida Harahap. Kami mulai melakukan kerajinan ini sejak 2011. Tanjungbalai itu pesisir laut, banyak cangkang kerang dan siput jadi limbah. Terus istri saya berpikir kalau ini bisa dijadikan kerajinan tangan,”sebut Adi Syawal kepada www.tribun-medan.com di Lapangan Merdeka Medan, Sabtu (3/9/2016).
Cangkang kerang dan siput diolah menjadi tempat tisu, bunga, baki, dan perlengkapan adat Melayu, Tepak Sirih.
Adi Syawal mengatakan bahwa proses pembuatan kerajinan ini tidak begitu rumit. Ia menyebutkan, cangkrang kerang dan siput sebelum diolah harus dicuci bersih.
“Cangkang kerang dan siput direndam pakai kaporit, sampai putih bersih. Setelah itu kita rangkai menjadi tempat bunga dan tisu. Dalam sehari satu orang bisa selesaikan sepuluh tempat tisu, kalau tepah sirih hanya bisa dua. Ini awet, paling kalau berdebu tinggal dibersihkan pakai kuas,” sambungnya.
Adi Syawal menyebutkan bahwa peminat kerajinan ini sangat besar. Permintaan juga hadir dari luar Tanjungbalai.
“Kita sistem pesanan. Selesai langsung diantar ke pembeli. Banyak dari luar daerah seperti Binjai dan Medan. Kita pakai pengiriman melalui kereta api,” pungkasnya.
Berbagai kerajinan ini dibandrol dengan harga variatif, mulai Rp 5000 hingga Rp 1,5 juta.(kn/tbn)







