Viewer: 794
0 0

Home / Berita / Daerah

Minggu, 19 Juli 2020 - 11:15 WIB

Tak Mau Bareng PKS di Pilkada Depok, Gerindra Depok: Pernah Dikhianati, Masa Mau Dibohongi 2 Kali?

Viewer: 795
0 0
Terakhir Dibaca:5 Menit, 1 Detik

Kompasnasional | Partai Gerindra mengungkapkan keengganannya berkoalisi dengan PKS  di Pilkada Depok 2020.

Meskipun, kedua partai tersebut berkoalisi dan tampil sebagai pemenang di Pilkada Depok 2015.

Pada Pilkada Depok 2015, kedua partai mengusung Mohammad Idris dan Pradi Supriatna.

Kini, Partai Gerindra dan PDI Perjuangan rupanya semakin mantap melangkah bersama menghadapi Pilkada Depok  2020 yang semakin dekat.

Gerindra, yang awalnya satu kubu dengan PKS, banting setir jadi penantang pada Pilkada Depok 2020.

“Kalau Gerindra, kami sudah tidak mau kalau dengan PKS. Makanya, kami sudah tidak berkomunikasi dengan PKS,” ujar Sekretaris DPC Gerindra Kota Depok Hamzah saat dihubungi Kompas.com, Kamis (2/7/2020).

Hamzah mengungkapkan, keengganan Gerindra berkoalisi lagi dengan PKS  karena hubungan yang kian renggang antara keduanya.

Ia mengklaim, selama lima tahun memerintah, Gerindra kerap tidak dilibatkan dalam kerja-kerja pemerintahan dan pengambilan keputusan.

“Kan sudah pernah (koalisi dengan PKS) dan sudah pernah dikhianati. Buat apa kita, masa mau dibohongi dua kali?” ujar dia.

Kemarin, Senin (6/7/2029), elite masing-masing partai sepakat membuat pertemuan untuk menyampaikan bahwa keputusan kedua partai untuk berkoalisi sudah bulat.

“Kami di Gerindra juga tidak ada masalah. Kalau teman-teman mendengar di Gerindra ada yang tidak setuju, nanti pada saatnya juga akan ikut gerbong,” ujar Nurozi, Ketua Tim Kerja Koalisi Gerindra-PDI-P, dalam kesempatan tersebut.

Mantap usung Pradi-Afifah

Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriatna  dijumpai di ruangannya. (TribunJakarta.com/Dwi Putra Kesuma)

Jelang Pilkada Depok 2020, dua partai yang sempat jadi rival sengit pada kancah Pilpres 2014 dan 2019 itu sepakat mengusung pasangan Pradi Supriatna (Gerindra) dan Afifah Aliyah (PDI-P) sebagai calon wali kota dan wakil wali kota Depok.

“Kami di PDI-P jelas. Rekomendasi (pasangan calon di Pilkada Depok 2020) sejak tingkat DPC, DPD di Bandung, sampai pleno di DPP mengusung Pradi-Afifah,” kata Afifah kepada wartawan, Senin.

“Jadi, tidak ada keraguan yang perlu ditanyakan lagi. Tegas,” ujar dia.

Sebagai informasi, Pradi Supriatna  merupakan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Wali Kota Depok.

Ia menang ketika berpasangan dengan Mohammad Idris, kalangan nonpartai yang dekat dengan PKS pada Pilkada Depok 2015.

Baca Juga  IBU VERA SILVIANA (PT. CMI), MINTA BERITA INI TIDAK DITERBITKAN ADA APA DENGANYA?

Namun, dalam perkembangannya, hubungan antara Idris dan Pradi yang merenggang berimbas pula pada hubungan antara Gerindra-PKS di pemerintahan.

Nurozi mengungkapkan, ada sejumlah hal yang membuat kedua partai ini yakin dengan Pradi-Afifah sebagai usungan mereka.

Hal paling utama, lanjut dia, pasangan ini diprediksi dapat mengakomodasi semua segmen pemilih di Depok yang mereka incar dalam Pilkada 2020.

“Pradi menurut saya segmennya (pemilih) tradisional dan muda. Kemudian Afifah ini (segmen) perempuan, jelas,” kata Nurozi.

“Yang tidak diketahui adalah Afifah ini teknokrat. Kami tidak mau menjadikan kota ini kota slogan, misalnya religius atau bebas macet. Dengan Bu Afifah, slogan ini harus kejadian,” ujar dia.

Di samping itu, Nurozi mengungkapkan bahwa latar belakang Afifah sebagai pebisnis pun dianggap bakal memuluskan langkah kedua partai dalam Pilkada Depok 2020 serta dalam pemerintahan kelak.

Sementara itu, Pradi yang diklaim tumbuh di kalangan ulama tradisional dianggap mampu menggaet segmen pemilih “agamis”.

“Kami juga ingin meyakinkan masyarakat kita bukan seperti yang diisukan sekarang, yaitu nasionalis belaka, tapi kami nasionalis-religius,” klaim Nurozi.

“Takutnya, di sana (kubu petahana, PKS) ambil isu agamis sama nasionalis. Kami tidak mau dibenturkan itu. Keyakinan kami, Bu Afifah bisa melengkapi segmen Pak Pradi,” jelas dia.

Curi start

Gerindra dan PDI-P boleh dibilang selangkah lebih maju ketimbang partai-partai lain di Kota Belimbing yang hingga hari ini belum mengumumkan calon usungan di Pilkada Depok 2020.

Hal itu pun diakui Nurozi sebagai strategi untuk memenangkan kontestasi 5 tahunan ini. Kedua partai berniat colong start ketimbang kontestan lain.

“Kami tidak mau buang-buang waktu yang kami punya. Selagi yang lain masih sibuk cari kendaraan, masih sibuk cari sopirnya, keneknya. Kami sudah siap masuk tol,” jelas Nurozi.

“Kami berani nanti turunkan poster dan baliho Pradi-Afifah. Ibarat orang mau nikah, tinggal panggil KUA dan dapat surat nikah, tapi sudah dapat lamaran,” tambah dia.

Jelang Pilkada Depok 2020, sejauh ini ada kekuatan partai politik terbagi menjadi 3 poros.

Poros petahana dimotori PKS dengan 12 kursi di parlemen, yang telah berkuasa 3 periode dan kini tampak menjajal peluang koalisi dengan Golkar yang punya 5 kursi.

Baca Juga  Profil Kompol Yuni Purwanti, Kapolsek Astana Anyar yang Terjerat Narkoba, Punya Utang Rp 340 Juta

PKS masih dalam proses menggodok 3 kadernya untuk menentukan salah satu yang bakal diusung di Pilkada Depok  2020.

Wali Kota Depok Mohammad Idris  dijumpai wartawan di Crisis Center Covid-19 Gedung Balai Kota Depok, Pancoran Mas, Jumat (6/3/2020). (TribunJakarta.com/Dwi Putra Kesuma)

Belum lagi, Mohammad Idris selaku wali kota petahana dari kalangan nonpartai, sejauh ini belum diusung partai mana pun.

Kedekatan Idris dengan PKS sudah jadi rahasia umum dan tak menutup kemungkinan ia diusung lagi untuk periode kedua kekuasaannya.

Di sisi lain, Golkar sejauh ini mengusulkan nama Farabi El Fouz dan mengincar setidaknya kursi wakil wali kota, namun masih menunggu sikap PKS sebagai pemegang keputusan.

Sementara itu, poros penantang dinakhodai PDI-P dan Gerindra.

Dengan bekal masing-masing 10 kursi di DPRD Kota Depok, poros ini diyakini cukup kuat buat menggempur hegemoni PKS di Depok yang telah bertahan hampir 15 tahun.

Partai-partai lain dengan perolehan kursi di bawah 5, yakni Demokrat, PKB, PAN, dan PPP menjadi kuda hitam dengan membentuk Koalisi Tertata.

PKB mulai didekati oleh poros Gerindra-PDI-P, sedangkan Demokrat sedang coba digandeng oleh Golkar.

Nurozi berujar, langkah-langkah guna mempromosikan nama Pradi-Afifah bakal segera dilakukan sebagai upaya mencuri start.

Selagi menunggu keputusan final tertulis dari Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, deklarasi-deklarasi di level akar rumput bakal digencarkan.

Poros Gerindra-PDI-P disebut masih membuka pintu bagi partai-partai lain untuk bergabung dalam gerbong mereka untuk menambah kekuatan.

“Kami menyiapkan sosialisasi pasangan Pradi-Afifah. Nanti relawan masing-masing calon menentukan langkah awal termasuk sosialisasi, branding, pekerjaan-pekerjaan di awal sebelum sampai tahap pemilu di September nanti,” ungkap Nurozi.

“Deklarasi kami mulai dari komponen kecil dulu, untuk memperkuat di bawah. Puncaknya nanti kalau sudah ada surat keputusan (ketua umum partai). Juli ini mudah-mudahan rekomendasi dari kedua belah pihak (Gerindra dan PDI-P) sudah selesai,” tutup dia. (T/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Polisi Kantongi Identitas Penipu Ganti Barcode QRIS Kotak Amal Masjid

Berita

Kapolres Ketapang Akan Usut Tuntas Pelaku Pembakaran Kantor PT. Arthu Plantation

Berita

Bareskrim Polri Musnahkan Barang Bukti Narkoba : 13,8 Kg Ganja Hingga 244 Kg Sabu

Berita

Sanggar Tari SIHODA Kecewa Dan Kembalikan Bantuan Walikota Pematangsiantar

Berita

Filosofi Menanam Padi “Mundur untuk Maju” Ir Asner Silalahi Mundur dari Kementerian PUPR untuk Maju Jadi Walikota Siantar

Berita

Prajurit Satgas Pamtas Yonif 645/Gty Kembali Amankan 5 Orang WNI Diduga PMI Non Prosedural di Jalur Tidak Resmi

Berita

Walikota Siantar Serahkan Beasiswa BRI Kepada Pelajar, Serentak se- Indonesia

Berita

Banjir Belum Surut, Koramil Bersama Muspika Sejangkung Evakuasi Warga*