Kompas Nasional l siantar
Warga menyoroti Tempat Pemrosesan Akhir(TPA) sampah yang menjadi tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pematangsiantar karena kondisinya saat ini sangat memprihatinkan.
Terlebih proses penanganan sampah yang baru tiba di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Jalan Pdt Wismar Saragih, Tanjung Pinggir, Pematangsiantar, Sumatera Utara dibiarkan menumpuk tanpa ada pengelolaan lebih lanjut.
Padahal standarnya, pengelolaan sampah harus dilakukan dengan cara sanitary landfill atau sistem pengelolaan sampah dengan cara membuang sampah di lokasi cekung, memadatkan dan kemudian menimbunnya dengan tanah.
Berdasarkan pantauan kompasnasional. com senin, (14/12/2020) situasi yang terjadi di lapangan, sampah yang menumpuk di TPA sudah melebihi muatan atau over load.
Hal itu juga dikatakan Winda, sala satu warga di sekitar TPA, bahwa pengelolaan sampah di TPA Tanjung Pinggir sangat memprihatinkan juga sangat buruk sekali terlihat tumpukan sampah sudah sampai ke depan dan sudah memakan bahu jalan raya.
Winda juga mengatakan, akibat tumpukan sampah yang semakin memprihatinkan itu, beberapa minggu ini warga semakin resah, karena limbah cair sampah sudah mengeluarkan aroma yang tak sedap dan sangat menyengat.
“Sudah lebih seminggu ini kami resah, karena limbah cair sampah sangat bau sekali, bahkan sudah mengalir sampai ke jalan raya, bayangkan aja radius 2 km sudah sangat terasah kali baunya, dan sangat menyengat sekali, kata winda.
Winda juga sangat berharap agar pemko siantar khususnya dinas lingkungan hidup benar-benar memperhatikan TPA, karena TPA sudah tidak layak lagi menampung sampah, juga sudah mencemari udara dan lingkungan hidup, karena TPA yang ada di tanjung pinggir sudah banyak pemukiman warga, jadi sudah selayaknya di pindahkan.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (KDLH) Kota Pematangsiantar Dedy S Setiawan kepada kompasnasional.com saat di jumpai dikantornya senin, (14/12/2020) mengatakan, , dengan keterbatasan yang ada pihaknya tidak menampik tudingan itu juga pihaknya berupaya dan berusaha untuk perawatan TPA sesuai Standart Operasional Pelaksanaan (SOP).
Dedy juga menjelaskan, bahwa sudah ada kerja sama dengan Dinas PU terkait perawatan sesuai SOP, tapi kendala utama adalah hujan.
“Kita sudah ada kerjasama dengan dinas PU terkait perawatan TPA sampah sesuai SOP, tapi belakangan musim hujan dan sering banjir, membuat tumpukan sampah jadi lembek, kami akan tetap usahakan agar efek dari sampah ini bisa di hindari,” katanya.
Masih kata Dedy, kendala saat ini juga karena ada pekerjaan proyek dranase dari dinas PUPR, jadi sampah susah di dorong ke belakang.
Saat di singgung terkait TPA sampah saat sudah kelebihan muatan, Kadis DLH yang tanggap dengan keadaan sampah di kota pematangsiantar ini menegaskan, bahwa sebenarnya TPA masih layak pakai, cuman permasalahannya di peralatan yang tidak memadai, seperti alat berat beco harusnya ini ada di TPA agar bisa cepat mengangkut dan memindahkan sampah sampai kebelakang karena sekitar 400 ton sampa tiap hari masuk ke TPA.
“Kalau alat berat beco ada sampah cepat bisa kita pindahkan dan di dorong ke belakang, bayangkan aja sekitar 400 ton sampah tiap hari masuk TPA, jadi memang harus membutuhkan dana yang cukup besar” sebutnya.
Karenanya kata Dedy, untuk pengadaan alat berat beco satu paket dengan pengadaan lahan ,jadi untuk kedepan kalau lahannya sudah ada dan punya sertifikat baru bisa di ajukan pindah TPA.
Juga untuk harga dari alat berat beco mahal atau sekitar 2,3 Millar, sedangkan kalau kita sewa beco perhari sekitar 5 juta, jadi benar-benar membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Pungkasnya.
Penulis : Toni Tambunan
Editor : Nilson Pakpahan




