Viewer: 867
0 0

Home / Kesehatan

Kamis, 21 Mei 2020 - 22:13 WIB

Pemburu Harimau Sumatera Semakin Leluasa Bergerak Saat Pandemi Covid-19

Viewer: 868
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 54 Detik

Kompasnasional – Aktivis konservasi harimau sumatera, Forum HarimauKita menyatakan pandemi Covid-19 membuat pemburuan ilegal terhadap satwa dilindungi semakin leluasa bergerak. Hal itu karena memanfaatkan situasi saat ini ketika orang mengurangi aktivitas di luar.

“Ini justru kesempatan mereka karena pengawasannya turun, mereka lebih leluasa ke dalam,” kata Ketua Forum HarimauKita, Ahmad Faisal ketika dihubungi di Pekanbaru, seperti dilansir Antara, Kamis (21/5).

Ahmad Faisal menyatakan hal ini terkait kasus harimau sumatera (panthera tigris sumatrae) yang ditemukan mati terjerat di konsesi hutan tanaman industri PT Arara Abadi, anak perusahaan APP Sinar Mas, di Kabupaten Siak, Riau, pada 18 Mei 2020. Ketika sebagian besar instansi dan aparat fokus pada penanggulangan pandemi, para pemburu makin mendapat celah untuk mencari satwa dilindungi dan memasang jerat di wilayah jelajah satwa.

Baca Juga  Sering Disingkirkan saat Makan, Ini 7 Manfaat Konsumsi Seledri

Para pemburu biasanya mencari stok satwa seperti harimau dengan memasang banyak jerat. “Kalau pemburu apalagi yang mencari nafkahnya atau sumber makanannya dari hutan langsung, mereka enggak berlaku work from home. Mereka masih melakukan kegiatan seperti biasa,” katanya.

“Jerat ini tidak dipasang satu, dua atau tiga, tetapi sampai berpuluh-puluh bahkan ratusan jerat agar kesempatan dapatkan barang (tangkapan satwa) makin tinggi,” lanjut Ahmad Faisal.

Mengenai kasus harimau dijerat di konsesi APP Sinar Mas, ia menilai sebenarnya perusahaan industri kehutanan itu selama ini cukup progresif dalam upaya perlindungan lingkungan dan satwa bernilai konservasi tinggi. Forum HarimauKita bersama APP Sinar Mas melakukan kegiatan bersama di Jambi dan Sumatera Selatan untuk mengedukasi warga terkait konflik manusia dengan harimau, dan juga melakukan patroli sapu jerat.

“Mereka monitoring rutin dengan pemasangan camera traping untuk satwa harimau dan identifikasi satwa lainnya. Ini menunjukkan mereka sebenarnya melek dan tahu di wilayah mereka ada satwa bernilai konservasi tinggi dan satwa dilindungi. Untuk proses manajemennya sendiri untuk melakukan pengelolaan satwa, mereka minta bantuan ke kita untuk pendampingan,” katanya.

Baca Juga  43 Jenis Kosmetik Mengandung Bahan Berbahaya

Meski begitu, dengan upaya yang sudah dilakukan dan ditambah dengan kondisi wabah Covid-19 saat ini, perusahaan tersebut masih juga ada celah yang dimanfaatkan oleh pemburu satwa untuk masuk dan memasang jerat di dalam konsesi di Riau.

“Tanggung jawab mereka untuk patroli pengamanan terutama di areal konservasi mereka yang memiliki High Conservation Value atau HCV, itu yang penjagaannya lebih ketat. Selain itu area-area lain juga perlu pengamanan dan pencegahan juga karena satwa pergerakannya tidak di area konservasi saja, mereka tahunya itu wilayah jelajah,” katanya. (Mc/red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Foto Eva, bidan dugaan korban malpraktek

Berita

Cerita Korban Dugaan Malpraktik RS Murni Teguh: Saya Takut Mati!

Kesehatan

Merebus Jagung Airnya Jangan Dibuang, Berikut Manfaatnya bagi Kesehatan

Berita

Ketua DPR Minta Polisi Usut Label Susu Kental Manis

Gaya Hidup

Cegah Kegemukan, Anak Perlu Aktivitas Fisik Selama di Rumah

Kesehatan

16 Anggota Keluarga Pasien Positif Virus B117 Diawasi Dinkes Kota Bogor16

Kesehatan

Dokter Italia Klaim Serangan Virus Korona Mulai Melemah

Kesehatan

Face Shield tak Efektif Jebak Aerosol Secara Menyeluruh

Daerah

Kades Sipungguk bersama Perangkat Desa Giatkan Gotong Royong Jumat Bersih