Viewer: 1138
0 0

Home / Ekonomi

Sabtu, 8 Agustus 2020 - 14:38 WIB

Kisah ‘Suku Tikus’, Pekerja Pencari Karier Hidup di Tanah Ilegal China yang Dihuni 1 Juta Orang

Viewer: 1139
0 0
Terakhir Dibaca:2 Menit, 4 Detik

Kompasnasional | Dikenal sebagai ‘ Suku Tikus’, jutaan pekerja berpenghasilan rendah yang tinggal di sebuah terowongan yang terdiri dari 3 lantai di bawah tanah kota Beijing.

Tempat itu disebut Dixia Cheng atau ‘The Dungeon’, dibangun di bawah kota Beijing.

Dulunya, tempat itu merupakan area perlindungan dari bom selama Perang Dingin. Luasnya, sekitar 30 mil persegi (77,6 kilometer persegi).

Kebanyakan dari orang-orang yang tinggal di dalamnya adalah para pekerja migran dan kawula muda yang berharap bisa melejitkan karir di kota terpenting di China itu.

Jumlah penduduknya semakin meningkat, melansir New York Post, Kamis (6/8/2020) totalnya mencapai 1 juta orang.

Banyak tempat di area itu kekurangan pencahayaan namun harganya sepertiga lebih murah dibandingkan tempat tinggal di atasnya.

Banyak juga orang yang telah hidup di area itu selama beberapa dekade dengan beberapa orang lainnya mulai keluar karena sudah cukup ‘tabungan’ untuk membeli apartemen ‘di atas’ tanah.

Baca Juga  Pasha Soal Sewa Rumah Rp 1 M: Informasi Ngaco, Cuma Rp 60 Juta/Bulan

Tempat tinggal para ‘Suku Tikus’ secara teknis ilegal menurut keputusan pemerintah Beijing pada 2010. Beberapa warga bahkan telah diusir meski kini sebagian besar lainnya diizinkan tinggal.

Kapan terowongan itu dibuat?

Pembangunan terowongan itu dimulai pada 1969 selama puncak ketegangan dan kekhawatiran akan konflik skala penuh antara China dan Uni Soviet.

Mao Zedong, yang saat itu menjadi ketua Partai Komunis China, mengatakan kepada warga untuk “menggali terowongan yang dalam, menyimpan makanan, dan bersiap untuk perang”.

Selama sepuluh tahun berikutnya, sekitar 300.000 orang, kebanyakan warga sipil, membangun jaringan luar biasa, yang pada penyelesaiannya menampung 10.000 bunker atom, gudang, dan pabrik serta restoran, teater, dan fasilitas olahraga.

Otoritas China memperkirakan kompleks tersebut dapat menampung seluruh populasi Beijing, pada saat itu sekitar enam juta orang.

Terowongan tidak pernah digunakan untuk tujuan yang dimaksudkan, tetapi selama beberapa dekade berikutnya telah diperbarui oleh komunitas lokal untuk menampung hotel-hotel murah dan bisnis lainnya.

Baca Juga  Ini Cara Menteri Susi Hadapi Modus Pencurian Ikan Yang Makin Canggih

Salah seorang warga laki-laki bernama Wei mengatakan dirinya tinggal di area itu bersama 9 orang lainnya.

“Saya merasa baik-baik saja karena saya khawatir jatuh miskin,” ujar Wei. Dia menceritakan kalau banyak dari temannya tinggal di apartemen di atas tanah namun itu terlalu membuat mereka nyaman.

“Tempat ini memaksa saya untuk bekerja lebih keras.”

Menurut Annette Kim, seorang profesor di University of Southern California yang telah mempelajari kehidupan ‘Suku Tikus’ itu mengatakan bahwa tempat itu menjadi solusi alternatif untuk masalah yang dihadapi oleh banyak orang di kota itu.

Meskipun masa depan tempat itu masih belum pasti, beberapa penduduk setempat dilaporkan bekerja dengan desainer untuk mengubah terowongan yang kosong menjadi ruang komunitas yang lebih hidup.(TMN/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Arsip

Pungli, Petinggi Pelindo III Terima Setoran Rp 6 Miliar Saban Bulan

Arsip

Pengen Sekolah di Hari Pertama, Arya Si Bocah Obesitas Tuntut Orangtua Rp1 Miliar

Daerah

Aksi Sosial, BMS Halsel Salurkan Paket Sembako Untuk Lansia

Ekonomi

Trump Geram Sri Mulyani Beri Pajak Google Hingga Netflix, Ini Fakta Terkait Kebijakan Tersebut

Berita

Mentri Pertanian Ikut dalam Panen Perdana Bawang Putih di Banyuwangi

Berita

Usai Uji Coba Lelang, Bappebti Klaim Harga Gula Turun

Arsip

Maret 2016, Nilai Impor Indonesia Tembus USD 11,29 Miliar
Kuartal I, Pendapatan Negara Rendah, Belanja Lebih Boros-KompasNasional

Arsip

Kuartal I, Pendapatan Negara Rendah, Belanja Lebih Boros