Viewer: 914
0 0

Home / Opini

Rabu, 19 Agustus 2020 - 11:11 WIB

Kecurigaan Boni Hargens soal KAMI dan Penyandang Dana di Baliknya

Viewer: 915
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 37 Detik

Kompasnasionak | Pengamat politik Boni Hargens menduga Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang diinisiasi Din Syamsuddin Cs berpotensi menjadi ancaman bagi stabilitas politik dan keamanan negara.

“Untuk saat ini belum berpotensi menjadi ancaman bagi stabilitas politik dan keamanan negara, tetapi dalam perjalanan waktu ke depan KAMI bisa saja menjadi ancaman,” ujar Boni di Jakarta, Selasa (18/8).

Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) itu lantas menyodorkan alasan untuk memperkuat analisisnya. Menurut Boni, sejumlah tokoh pendukung KAMI dari kelompok ideologis yang pada Pilkada DKI 2017 ataupun Pemilu 2019 memainkan politik identitas.

“Jadi, sebagian kelompok pendukung KAMI adalah kelompok ideologis yang pada periode Pemilu 2019, termasuk Pilkada DKI Jakarta 2017 memainkan politik identitas,” ucapnya.

Baca Juga  Komnas HAM Minta Rizieq Ditindak dan Dihukum Secara Adil

Peraih gelar doktor filsafat politik dari Walden University, Minneapolis, Amerika Serikat itu menegaskan, kalau KAMI ikut mengamplifikasi politik identitas, gerakan itu berpotensi menjadi ancaman bagi ketahanan ideologi dan demokrasi Pancasila.

“Alasan kedua, KAMI muncul di tengah kesibukan pemerintah menangani wabah Covid-19. Gerakan mereka berpotensi menguras energi pemerintah dan berpotensi mengganggu jalannya pemerintahan,” katanya.

Boni menambahkan, KAMI juga bisa menjadi masalah tersendiri jika ternyata ikut bermain dalam kampanye Pilkada Serentak 2020. “Propaganda antipemerintah akan terus menjadi narasi politik yang dominan baik di tingkat lokal maupun nasional,” katanya.

Oleh karena itu Boni mengingatkan KAMI sebaiknya memberikan evaluasi dan kritik secara komprehensif dalam bentuk kajian akademik yang memadai tentang kelemahan dan kekuatan pemerintah beserta kebijakannya.

Baca Juga  Manado Ingin Bangun Sirkuit Balap Ala Monaco Dan Singapura

“Namun sejauh ini ada kesan KAMI adalah barisan sakit hati yang sekadar ingin melawan pemerintah karena faktor dendam politik. Stigma itu tak mudah dihapus. Hanya KAMI sendiri yang bisa meluruskan persepsi macam itu,” tuturnya.

Boni secara khusus menyebut kehadiran KAMI harus tetap menjadi perhatian institusi penegak hukum dan aparat keamanan. Pasalnya, kelompok tersebut tentu membutuhkan dukungan finansial yang memadai, selain konsolidasi nonmaterial yang sifatnya ideologis.

“Makanya, perlu ada monitoring siapa yang mendanai. Selain itu, kehadiran KAMI juga perlu dikaji dari aspek analisis ancaman untuk mengukur potensi ancaman yang mungkin muncul dalam dinamika politik ke depan,” pungkas Boni.(JPNN/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Opini

Gejolak di Partai Demokrat Jimly Asshiddiqie Sebut Gejolak di Demokrat Bukan Agenda Jokowi: Sebentar Lagi Jadi Mantan Presiden

Opini

LIPI: Kiamat Sudah Dekat

Opini

Derita Orang Tua karena PPDB Pakai Usia, Anak Ranking 1 Tak Bisa Sekolah

Opini

Mantan Jubir KPK Sebut Mensos Juliari Tak Bisa Dihukum Mati, Ini Alasannya
Saat Malam Pertama, Suami Kaget Istrinya yang Lugu Minta Gaya Aneh-kompasnasional

Arsip

Saat Malam Pertama, Suami Kaget Istrinya yang Lugu Minta Gaya Aneh

Opini

FKDT Sambut Gembira Penunjukan Gus Yaqut Menjadi Menteri Agama

Opini

Pengamat Duga Ada Insentif dari Jokowi kepada Partai yang Tolak Revisi UU Pemilu Dilanjutkan

Opini

Tim Advokat Soal Toga Pengacara Terdakwa Penyiraman Novel Gatra