Viewer: 610
0 0

Home / Nasional

Selasa, 5 Januari 2021 - 13:01 WIB

Kaum Ekstrimis Disebut Incar Posisi Strategis

Viewer: 611
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 50 Detik

Kompasnasional l Kaum ekstrimis disebut mengincar posisi strategis dalam berbagai bidang. Hal tersebut perlu ditangkal melalui konsolidasi ideologi seluruh kekuatan bangsa. Demikian disampaikan Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah kepada Beritasatu.com, Selasa (5/1/2021).

“Perlu ada langkah-langkah konsolidasi ideologi seluruh kekuatan bangsa untuk menangkal kaum ektrimis merebut posisi-posisi strategis di semua bidang sebelum semuanya terlambat,” kata Basarah.

Basarah menuturkan bangsa Indonesia saat ini menghadapi dua ancaman ideologi transnasional yakni paham liberalisme/kapitalisme dan ekstrimisme agama. Kedua ideologi ini turut berkembang seiring absennya negara dalam membentuk mental ideologi bangsa setelah Reformasi.

Menurut Basarah, ideologi ekstrimisme agama pada awal masuk ke Indonesia masih bersifat laten atau sembunyi-sembunyi dengan melakukan perekrutan dan pengkaderan bawah tanah. Setelah itu kaum ekstrimis mulai masuk pada fase berikutnya.

Baca Juga  Walikota Tanjungbalai Salurkan Bantuan Pengelola KUBE Rp1 Miliar

Misalnya dengan melakukan pembentukan kesadaran sesuai doktrin ideologi mereka kepada masyarakat. Hal itu dilakukan melalui forum-forum yang dibungkus sebagai pengajian, penerbitan buletin, seminar, penerbitan buku-buku dan media sosial.

Kita bisa melihat bagimana kampanye membenturkan konsep NKRI dan khilafah, Islam dan Pancasila serta agama dan negara. Lebih berbahaya lagi, kelompok ekstrimisme agama kini memanfaatkan kemajuan teknologi informasi,” ujar Basarah.

Basarah mengungkap Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melaporkan bahwa ide-ide ekstrimisme disebarkan melalui media sosial (medsos). Setelah dirasa ideologi itu mendapat pengikut di masyarakat, maka fase berikutnya adalah menyusup ke institusi kemasyarakatan bahkan negara.

“Kita bisa melihat bagaimana BNPT mengeluarkan rilis adanya tujuh kampus ternama yang terpapar ekstrimisme, begitu juga survei yang mengatakan 19,4% aparatur sipil negara tidak setuju ideologi Pancasila,” kata ketua DPP PDI Perjuangan tersebut.

Baca Juga  Kemenhub sebut aturan taksi online masih berlaku hingga November 2017

Basarah menambahkan mantan Kepala BNPT Irjen (Purn) Ansyaad Mbai menyebut paham ekstrimisme agama sudah merambah ke partai politik (parpol). Kelompok ekstrimisme yang sudah lama dibiarkan, lanjut Basarah, kini tidak lagi menjadi masalah laten melainkan sudah manifest.

Basarah mencontohkan seperti Muktamar Khilafah oleh ribuan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Gelora Bung Karno, Jakarta yang bahkan disiarkan oleh TVRI pada 2013. HTI akhirnya telah dibubarkan oleh pemerintah pada 2017, tetapi perlu terus diwaspadai.

“Strategi menyusup dan infiltrasi seperti ini tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Jika mereka sudah berhasil memegang kendali pemegang kebijakan maka tinggal selangkah lagi, mereka akan terang-terangan mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi yang lain,” ucap Basarah.
(BS/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Arsip

Jokowi Tanggapi Pidato SBY: Bagus, Sangat Bagus Beri Masukan

Arsip

Warga Kecewa Polisi Larang Takbir Keliling

Berita

Miris… Dua Sejoli Ini Bakar diri Bersama

Arsip

Paslon Bupati dan Wakil Bupati Amira Hadiri Konsolidasi Tim DPD PD Sumut

Nasional

Jangan Hanya Kesal Pak Jokowi, PAN: Reshuffle Kabinet Jika Perlu

Arsip

Menjadi Korban Kericuhan, Ustad Arifin Ilham Beber Asal Muasal Tindakan Anarkisme

Berita

Keputusan Terbaru Menhub Tentang Driver Online

Arsip

Orang-orang Ini Dapat Rejeki Nomplok Tak Terduga