Viewer: 747
0 0

Home / Kesehatan

Jumat, 12 Juni 2020 - 09:01 WIB

Kabar Baik dari Penelitian Vaksin Covid-19

Viewer: 748
0 0
Terakhir Dibaca:3 Menit, 15 Detik

Kompasnasional | Pemerintah menempuh dua jalur untuk mendapatkan vaksin Covid-19. Pertama, penelitian dan upaya produksi mandiri dan kedua, pembelian vaksin dari negara yang sudah bisa memproduksi vaksin. Meskipun, sampai hari ini, belum ada satupun negara yang sudah memproduksi massal vaksin untuk virus korona dari Wuhan, Cina, ini.

Di dalam negeri, kabar baik justru datang dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang ditunjuk pemerintah melakukan penelitian untuk membuat antigen Covid-19. Peneliti vaksin Covid dari Eijkman, Prof Herawati Sudoyo, mengaku, jika sesuai jadwal, Indonesia bisa memproduksi massal vaksin Covid-19 pada Februari 2021.

Wartawan Republika Febryan A berkesempatan berbincang dengan peneliti vaksin Covid-19 Lembaga Eijkman Prof Herawati Sudoyo soal proses pengembangan vaksin ini.

Berikut petikannya:
Bagaimana perkembangan terkini penelitian vaksin Covid-19?
Kalau mau bicara mengenai vaksin, kita harus bicara dunia dulu. Sekarang, pertanyaannya, di mana letak Indonesia dalam pengembangan vaksin.
Dunia itu sudah ada 10 kandidat vaksin pada tahap evaluasi klinis. Lalu, sudah ada tiga yang masuk uji klinik fase 2, yakni uji klinis yang sudah agak banyak orangnya. Di samping 10 itu, ada 121 kandidat masih fase penelitian.

Platformnya macam-macam. Maksud platform itu adalah strategi pengembangannya. Kalau seluruh dunia membutuhkan vaksin, mampukah satu perusahaan membuat vaksin disebarkan di seluruh dunia.

Kita tentu tahu, masing-masing negara akan memikirkan bangsanya sendiri. Makanya, kita, Indonesia, memutuskan juga harus tetap bikin vaksin.

Baca Juga  Enggak Nyangka, Nasi Merah yang Dianggap Selalu Sehat, Ternyata Jauh Lebih Beracun Daripada Nasi Putih! Begini Alasannya

Vaksin itu membutuhkan waktu yang lama sekali sampai kita mendapatkan yang cocok. Misalnya, dengue itu 30 tahun juga belum berhasil. Jadi, kalau yang tradisional lama sekali. Sedangkan, hepatitis B cepat dia. Jadi masing-masing itu beda. Karena kita ini sekarang dalam masa percepatan, yakni masa yang tidak menurut standar yang sudah biasa dilakukan untuk vaksin.

Jadi, kita harapkan Covid-19 ini walaupun kita belum terlalu mengenal, kita harapkan jangan terlalu kompleks. Kita pakai percepatan dalam pengembangannya.

Seperti apa proses pembuatannya?
Lembaga Eijkman sendiri, kita tahap pertama merunut genom dari virus. Gunanya untuk melihat gen-gen yang produknya memang akan kita pakai. Kita bisa saja pakai data yang sudah ada di dunia ini mengenai virus SARS-CoV-2 yang diisolasi dari mana pun di dunia. Itu sudah ada. Kelihatannya tidak terlalu berbeda antara satu dan lainnya. Tapi, kita tetap teliti terlebih dahulu. Apakah memang yang di Indonesia sama atau tidak. Kedua, isolasi dan amplifikasi gen yang kita harapkan. Setelah sudah diperbanyak gen yang kita mau, kita kloning gennya.
Ketiga, tahap kloning. Sekarang kita tahap kloning dan itu sesuai dengan target. Bulan Mei kita memang kloning. Bulan Juni sampai Oktober kita mencoba menghasilkan antigen. Keempat, antigen atau kandidat vaksin itu diuji coba di laboratorium. Itu biasanya di hewan dulu sebelum ke manusia. Setelah itu, baru uji klinis. Itu bukan di tingkat kita lagi. Itu diberikan kepada farma biasanya. Dalam hal ini Eijkman bekerja sama dengan Bio Farma. Kandidat vaksin itu diberikan kepada mereka, lalu merekalah yang menguji dan skala produksi. Kita harapkan ini bisa berlangsung Februari 2021.
Berapa kisaran harga vaksin nanti?
Kita harapkan 1 dolar AS (setara Rp 14.100) harganya, seperti yang lain. Bio Farma juga maunya begitu. Sekarang kan sedang mencari dana supaya diberikan kepada masyarakat. Ini kan bukan swasta, kalau dikembangkan swasta harganya ya pasti berbeda.
Apa kendala dalam pengembangan vaksin ini?
Kendalanya, saya kira adalah waktu. Berpacu dengan waktu karena kegiatannya juga diagnostik. Kenapa kita, menurut saya, terlambat karena kita konsentrasi dulu untuk percepatan diagnostik (ketika awal-awal Covid-19 masuk di Indonesia). Baru setelah itu kita baru bisa memikirkan vaksin ini karena laboratoriumnya pun kita harus tunggu untuk digunakan. Anggaran dari pemerintah sekitar Rp 5,3 miliar. Dana itu untuk digunakan mulai dari penelitian awal hingga ditemukan kandidat vaksin yang telah diuji klinis ke hewan.

Baca Juga  Jangan melakukan tes swab / rapid test antigen sendiri, ini risikonya

Justru kita akan melakukan uji klinis dari Sinovac. Nama vaksinnya itu Sinovac dari Cina. Kita tidak akan menghentikan vaksin karena tidak mungkin perusahaan itu membuat beratus juta vaksin. Kita tetap saja terus dengan vaksin kita. Tidak masalah. Jadi, vaksin kita bisa diutamakan buat rakyat Indonesia. Kita harus mandiri juga. (RP/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Kesehatan

Tips Menjaga Kesehatan Tubuh saat Lebaran di Masa Pandemi Covid-19
Mulai 1 Juli, Telat Bayar Iuran Langsung Nonaktif dari Peserta BPJS Kesehatan -KompasNasional

Arsip

Mulai 1 Juli, Telat Bayar Iuran Langsung Nonaktif dari Peserta BPJS Kesehatan

Kesehatan

Kasus Covid-19 di DPR, Ada Anggota Enggan Diungkap ke Publik

Kesehatan

Jangan melakukan tes swab / rapid test antigen sendiri, ini risikonya

Kesehatan

Mulai 18 Desember, Keluar Masuk Jakarta Wajib Sertakan Hasil Rapid Test Antigen

Kesehatan

Kekurangan Zat Besi Jadi Ancaman Serius Generasi Emas Indonesia
Ket:Foto//Dari Kiri kekanan baju kuning 1. Lion Dody, 2.Vice 3 Lion Kosidin, 3.Past President Golden Estate Darmawan Yusuf, 4. DANDIM Asahan Letkol Inf Sri Marantika Beruh, 5. Vice 2 Lion Agustina, 6.Vice 1 Lion Lili Tan, 7.Lion Hendra Gunawan, Dan Baris 2 Belakang sejumlah pejabat utama (PJU) Kodim dan Danramil se-Kabupaten Asahan(ist)

Asahan

Kodim 0208/Asahan Terima Bantuan APD Dari Lions Club Golden Estate Untuk di Serahkan ke Beberapa Puskesmas Terpencil

Kesehatan

Manfaat Makan Bawang Merah Mentah yang Bikin Keajaiban untuk Tubuh