Home / Ekonomi

Kamis, 4 Februari 2021 - 12:26 WIB

Buwas Sebut Ada Lingkaran Setan yang Bikin Harga Kedelai Mahal

Viewer: 496
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 30 Detik

Kompasnasional l Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan, mahalnya harga kedelai saat ini disebabkan oleh lingkaran setan, yaitu praktik kartel serta birokrasi yang terlalu panjang.

Menurut dia, akar persoalan kenaikan harga kedelai bukanlah masalah kekurangan pasokan atau keterbatasan produksi luar negeri. Tetapi akibat adanya praktik kartel dari importir kedelai.

“Sehingga kalau bicara bagaimana masalah jagung, bagaimana kedelai, ya itu akar masalahnya, makanya ada lingkaran setan, ini yang sulit kita basmi kecuali bersama sama,” ungkap pria yang akrab disapa Buwas itu dalam konferensi pers virtual, Rabu (3/2/2020).

Dia mengatakan, harga pangan impor sebetulnya murah, seperti kedelai, jagung, bawang putih, hingga daging. Namun menjadi mahal saat sampai di tangan konsumen karena distribusinya yang berlapis-lapis.

Baca Juga  Rupiah Menguat ke Rp 13.109 per USD

Setiap berpindah dari satu pihak ke pihak lainnya maka akan ada pungutan biaya, sehingga ongkos pengirimannya menjadi mahal. Kemudian biaya itu akhirnya dibebankan kepada konsumen.

“Akar masalahnya karena kartel terlalu banyak, birokrasi terlalu panjang. Satu ke satu semua pakai biaya. Nah ini yang kita istilahkan wujud korupsi sebenarnya,” katanya.

“Tapi hasil atau beban korupsi itu dibebankan ke masyarakat yaitu konsumen. Dari harga Rp 7.000 dijual Rp 12.000, selisih Rp 5.000, yang Rp 5.000 ini dibebankan ke konsumen, padahal yang menikmati oknum-oknum tertentu,” lanjut Buwas.

Baca Juga  Usai Uji Coba Lelang, Bappebti Klaim Harga Gula Turun

Menurut dia, Bulog sebenarnya punya tugas untuk menjaga ketersedian dan stabilisasi harga kedelai, selain beras dan jagung. Ini sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan Kepada Perum Bulog Dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional.

Namun demikian, hingga saat ini ia mengaku Bulog tak bisa menjalankan tugas tersebut, khususnya dalam hal impor kedelai. Padahal, seringkali perajin tahu dan tempe menanyakan perihal importasi kedelai kepada Bulog.

Buwas menyebutkan, para perajin menginginkan Bulog yang melakukan importasi kedelai, bukan oleh importir swasta. Sehingga diharapkan Bulog dapat menjamin ketersediaan kedelai dan stabilisasi harganya.(K/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Rupiah Keok Nyaris Sentuh Rp15.650 per Dolar AS

Arsip

Harga Telur Ayam di Ambon Meroket, Tembus Rp 4.000 Per Butir

Ekonomi

Susi Ngetwit soal Utang RI, Stafsus Sri Mulyani Membalas

Arsip

Dilepas 129 Jutaan, Toyota Calya Terjual 8.000 Unit Per Bulan

Ekonomi

Pernah Jadi Pemulung, Kini Paidi Sukses Menjadi Miliader Porang

Asahan

MELAWAN PENYAKIT BOCOR GINJAL BERSAMA LIONS CLUB M GOLDEN ESTATE

Arsip

Produk Kopi RI Laku Rp 275 M di Amerika Serikat

Berita

Peringatan HUT Sumut Ke-70,Tengku Erry Nuradi Sampaikan Pembangunan Sumut Terapkan Sistem Elektronik