Viewer: 757
0 0

Home / Ekonomi

Minggu, 30 Agustus 2020 - 19:51 WIB

Lembaga Perlindungan Anak Sumut Sayangkan Pembiaran Pelajar Menjadi Badut

Viewer: 758
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 51 Detik

Kompasnasional | Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumatera Utara, turut menyikapi para remaja maupun anak-anak yang berstatus pelajar mencari uang dengan menjadi badut jalanan.

Seperti yang diketahui, selama masa pandemi Covid-19, para pelajar harus menempa ilmu melalui daring di rumah masing-masing.

Namun, tidak seperti yang diharapkan, sebagian anak yang berstatus pelajar di Kecamatan Percutseituan, Kabupaten Deliserdang, malah mencari uang menjadi badut jalanan.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, para pelajar ini mulai keliling dengan jalan kaki sejak pagi hingga malam hari.

Aksi-aksi ini mulai marak selama masa pandemi.

Tidak tanggung-tanggung, dalam sehari untuk mendapatkan kostum badut ini, anak-anak menyewa perlengkapan dari salah seorang penyedia jasa kostum Rp 55 ribu sampai 75 ribu.

Varian tarif ini sesuai dengan besar dan kecilnya badut yang digunakan para pelajar.

Baca Juga  Harga Pertamax Turun Jadi Rp12.800 Mulai Jam 2 Siang Ini

Terkait mulai maraknya aksi para pelajar, Ketua LPA Sumut, Muniruddin Ritonga yang dikonfirmasi Tri bun Medan mengatakan, ini hal baru yang harusnya dilakukan tindakan cepat oleh pemerintah.

“Maraknya pelajar menjadi badut di beberapa tempat di Deliserdang, ini menjadi hal baru yang terjadi karena beberapa faktor. Pertama memenuhi untuk membeli kuota internet dan kedua karena kebutuhan keluarga. Kami menilai ini tidak baik untuk dunia anak (pendidikan). Dan kami fikir ini adalah efek dari pembelajaran daring,” ujarnya, Minggu (30/8/2020).

Hal ini terjadi, sambung Muniruddin, karena kurangnya pengawasan guru dan orang tua.

“Ini kalau dibiarkan lama kelamaan bisa berdampak negatif bagi anak di mana proses ini proses kurang baik. Yang seharusnya belajar di rumah dengan baik,” katanya.

Dalam kejadian ini, lanjutnya, kurang mendidik bagi anak, pemerintah harus bersikap cepat mengantisipasi ini.

Baca Juga  Uber Ungkap Cara Hindari Argo Rp18 Ribu Jadi Rp595 Ribu

“Karena, kami khawatir, jika tidak diatasi dengan cepat. Maka nanti menjadi lost generation. Orangtua juga harus tegas dalam mengambil langkah-langkah kongkrit. Jadi anak-anak mendapat haknya di dunia pendidikan. Sekiranya tidak dibolehkan dengan orang tuanya kerja atau jadi badut untuk tambahan. Tetap saja harus diambil sikap tepat,” ungkapnya.

“Jangan nanti anak sudah tahu cari uang jadi malas sekolah. Orangtua berperan penting untik mengajak anak mendidik anak di masa pandemi ini,” sambungnya.

Aksi para badut jalanan yang menyajikan tarian mulai terlihat ramai sejak awal bulan Agustus di kawasan Tembung, Kecamatan Percutseituan Kabupaten Deliserdang.

Pendapatan yang menjanjikan menjadi daya tarik bagi para pelajar yang lebih memilih bekerja sebagai badut jalanan.(TM/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Arsip

Fakta Google Raup Rp 5,5 Tapi Nunggak Pajak Rp 2 T di Indonesia

Arsip

Ini Cara Menteri Susi Hadapi Modus Pencurian Ikan Yang Makin Canggih

Arsip

Harga Emas Antam Naik Rp 1.000 Jadi Rp 602.000/Gram

Arsip

Jokowi Gelar Kontes Ketangkasan Domba, Hdiahnya Rp 1 Miliar
Menteri Keuangan Beberkan Pentingnya Tax Amnesty-KompasNasional

Arsip

Menteri Keuangan Beberkan Pentingnya Tax Amnesty

Berita

Pertamina Sengaja Hilangkan Premium?

Ekonomi

Saham Bakrie Lesu Usai Ardi-Nia Ramadhani Ditangkap Polisi

Berita

Tol Penghubung Tanjung Morawa-Kualanamu Diresmikan, Tarif Masih Gratis