kompasnasional.com | KARO
Banyak warga masih melakukan aktifitas di zona merah, meski pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi telah melarang keras khusus warga tinggal di radius 3 Km hingga 7 Km jalur awan panas Sinabung.
Bukan sekedar beraktifitas bertani saja dilakukan warga tapi sejumlah warga yang seharusnya tinggal di posko pengungsian, kembali menetap di desa mereka yang masuk zona merah. Seperti halnya warga Desa Jeraya dan Pintu besi Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo seharusnya mengungsi, namun tetap bertahan tinggal di desanya.
Meski desa mereka berada di jalur awan panas radius 6 Km dari puncak Sinabung. Seharusnya kedua desa ini harus dikosongkan, warganya di pindahkan ke tempat aman yakni posko-posko pengungsian yang tersebar di sembilan titik.
Berdasarkan data badan penanggulangan bencana daerah Kabupaten Karo, warga Desa Jeraya berjumlah 192 KK diungsikan di gudang jeruk Surbakti Desa Surbakti Simpang Empat, warga Desa Pintu besi 77 KK diungsikan di gedung GBKP Desa Ndokum Seroga Simpang Empat.
Warga Desa Jeraya Sediono Sembiring (77), Kamis (6/10/2016) di lokasi zona merah Jeraya menuturkan terpaksa kembali ke desa padahal di haruskan mengungsi, karena ingin beraktifitas di lahan yang sudah memasuki jadwal masa tanam.
Menurutnya, bukan ia saja kembali tinggal di desa dan beraktifitas seperti biasa, namun warga yang lain juga melaksanakan hal yang sama. Jika diperkirakan hampir 90 persen warga Desa Jeraya kembali ke rumah masing-masing dan menjalankan aktifitas sebagai petani, peternak dan aktivitas lainnya.
Situasi dan kondisi serta penanganan yang dianggap bertele-tele dan lamban itu membuat adanya rasa bosan bagi para warga di lokasi posko penampungan.
“Situasi memaksa kami kembali ke desa, sebab kebutuhan anak sekolah cukup mendesak, ditambah kebutuhan lainnya. Jika tidak mengolah lahan, dari mana uang di dapat untuk memenuhi kebutuhan kami,” kata salah seorang warga Sediono.
Warga Desa Jeraya umumnya bekerja sebagai petani bila lahan tidak diolah maka mata pencarian akan terputus.
Meski lahan pertanian masuk ke zona merah dan pemerintah sudah melarang warga, akan tetapi warga tetap bersikeras mengerjakan lahannya dengan segala resiko potensi bencana Sinabung yang mungkin sewaktu-waktu bisa menghampiri mereka.
Info dari BPBD Karo, para warga pengungsi akan di tempatkan ke hunian sementara di Desa Ndokum Seroga pada bulan Desember mendatang.
Tempat memang di sediakan, tapi lapangan pekerjaan tidak.
Senada, Beni Sitepu (40) warga Desa Pintu besi mengatakan bahwa, kembalinya mereka ke desa dan mengerjakan lahan karena kebutuhan hidup cukup besar tinggal di posko.
Pasalnya, mereka hanya mendapat makanan saja.
“Terpaksa kami kembali ke desa dan mengerjakan lahan kami, meski dalam bayang-bayang erupsi Sinabung, jauh lebih baik dari pada berada di pengungsian tanpa tahu harus berbuat apa,” keluhnya.
Tinggal di zona merah dengan perasaan takut, terpaksa dilalui sebab kebutuhan anak-anak dan masa depan mereka jauh lebih penting dari bahaya Sinabung yang mungkin datang sewaktu-waktu.
“Kondisi ekonomi memaksa kembali beraktifitas di zona merah, kami pun tidak menyalahkan pemerintah, sebab larangan dan bantuan telah dicukupi selama kami tinggal di posko. Hanya saja perjuangan kami melakukan aktifitas di zona merah meski di larang bukan tidak ada alasan kuat. Karenanya, pemerintah juga harus memahami kondisi kami warga yang tetap tinggal di zona merah,” timpal Beni Sitepu.
Plt Kepalah BPBD Matius Sembiring saat ditemui Wartawan mengatakan perihal percepatan relokasi mandiri dan huntara masih tahap proses pengerjaan. Lebih lanjut disampaikan kebijakan itu berada di pundak pimpinan dan kami hanya mengerjakannya secara detail kapan rampung pengerjaannya belum bisa di jawab (Siti Khadijah)








