Kompasnasional.com
Medan – Hingga Bulan Mei 2016, ekspor karet Sumatea Utara (Sumut) mengalami penurunan. Penurunan terjadi sebesar 5 persen dari periode yang sama di tahun 2015 lalu.
Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah, mengatakan, di periode Januari hingga Mei 2015 lalu, volume ekspor karet anggota Gapkido Sumut masih bisa sebanyak 181.478.598 kilogram.
“Jika dibandingkan dengan tahun 2015 lalu, ada penurunan sebanyak 9.150.136 kilogram atau lima persen pada periode sama 2016,” ujarnya, Rabu (22/6).
Ia menjelaskan, penurunan ekspor terjadi hampir terjadi setiap bulan, kecuali pada Februari yang naik menjadi 38.128,364 kilogram dari Februari 2015 tercatat 36.440,639 kilogram.
“Penurunan volume ekspor bukan hanya karena permintaan yang masih lesu, tetapi juga sebagai dampak adanya kesepakatan penahanan atau pengurangan ekspor karet antara Indonesia, Malaysia dan Thailand,” jelasnya.
Ia menerangkan, berkurangnya ekspor ditambah harga jual yang sedang dan bahkan tren semakin melemah dipastikan akan menurunkan lagi devisa Sumut dari karet. Penururunan devisa diyakini semakin kuat karena kebijakan pengurangan ekspor dari negara-negara produsen yang dimulai 1 Maret akan berakhir pada 31 Agustus.
“Ada prakiraan pascakebijakan itu harga tertekan lagi. Harga yang tertekan itu mengacu pada kenyataan dewasa ini bahwa pengurangan ekspor juga tidak terlalu banyak mendongkrak harga,” terangnya.(kn/tbn)





