Jakarta –Kompasnasional | Pemerintah Amerika Serikat (AS) hingga saat ini masih terus menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Iran. Kebijakan tekanan maksimum yang dilakukan Presiden AS Donald Trump itu memaksa Iran untuk memutuskan 2 pilihan yang sulit.
Pilihan pertama Iran harus mau berunding atau bernegosiasi dengan Amerika Serikat untuk menghentikan program nuklirnya. Sedangkan pilihan kedua jika tidak mau berunding, maka Iran akan menghadapi dampak ancaman keruntuhan perekonomian mereka yang disebabkan sanksi AS.
Demikian menurut pernyataan resmi yang disampaikan Brian Hook yang ditunjuk mewakili AS untuk masalah Iran. Melansir Reuters, hingga saat ini Pemerintah Iran belum memberikan tanggapan terkait pernyataan AS tersebut.
“Karena tekanan AS, para Pemimpin Iran menghadapi keputusan apakah mereka mau bernegosiasi (berunding) dengan kami atau menghadapi keruntuhan ekonomi,” kata Brian Hook kepada media seperti dilansir Reuters, Rabu (27/5/2020).
Sementara itu, menurut sumber Reuters telah mengonfirmasi terkait sebuah artikel tentang Iran yang dimuat Washington Post. Sumber tersebut mengatakan keputusan itu berlaku untuk keringanan yang melibatkan reaktor riset air berat (Arak Reactor) milik Iran.
Sanksi yang dijatuhkan AS tersebut terkait dengan proses pengayaan uranium yang diperkaya untuk Reaktor Riset Teheran dan juga transfer reaktor riset bekas bahan bakar Iran.
Menurut Reuters, Pemerintah Amerika Serikat diperkirakan juga akan akan memperpanjang sanksi terpisah yang meliputi pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr Iran selama 90 hari ke depan atau selama 3 bulan. (RRI/Red)







