Viewer: 824
0 0

Home / Kesehatan

Selasa, 27 Oktober 2020 - 06:55 WIB

Apakah Makanan Organik Lebih Sehat?

Viewer: 825
0 0
Terakhir Dibaca:2 Menit, 2 Detik

Kompasnasional | Popularitas makanan organik beberapa tahun belakangan terus meningkat. Hal ini seiring dengan kesadaran untuk hidup sehat dengan mengubah gaya hidup dan pola makan.

Makanan organik sendiri adalah bahan pangan yang ditanam tanpa sebagian besar pupuk dan pestisida sintetis. Sedangkan untuk produk hewani adalah yang bebas antibiotik dan hormon.

Tren konsumsi makanan organik membuat swalayan dan rumah makan menawarkan jenis makanan ini sebagai pengalaman yang baru.

Meski memiliki harga yang lebih mahal, makanan organik sering dinilai lebih bergizi dan lebih aman dibanding bahan pangan reguler.

Lebih sehat?
Namun, pertanyaannya, benarkah makanan organik lebih sehat?

Makanan organik tidak lebih sehat dalam hal nutrisi.

Ini artinya, Anda masih bisa mendapatkan berbagai manfaat kesehatan yang sama dengan bahan pangan reguler.

Hal serupa juga diungkapkan oleh David Klurfeld, PhD, ketua departemen Ilmu Gizi dan Pangan di Wayne State University AS.

Baca Juga  Seorang Perempuan Diduga Jadi Korban Malapraktik Pengangkatan Indung Telur

“Sangat sedikit informasi tentang hasil kesehatan aktual dengan mengonsumsi produk pangan organik,” kata Klurfeld dikutip dari Web MD.

“Kami tidak cukup tahu untuk mengatakan bahwa yang satu (makanan organik) lebih baik dari yang lain,” sambungnya.

Lebih aman?
Meski tidak terbukti lebih baik secara nutrisi, tapi ada pendapat bahwa konsumsi makanan organik jauh lebih aman dibanding bahan pangan reguler.

Hal ini terkait dengan penggunaan pestisida dan pupuk sintetis.

“Jika Anda berbicara tentang pestisida, buktinya cukup meyakinkan ( makanan organik lebih aman). Peluang Anda mendapatkan residu pestisida jauh lebih sedikit dalam makanan organik,” kata John Reganold, profesor ilmu tanah di Washington State University.

Menurut data Departemen Pertanian AS (USDA), makanan organik memiliki lebih sedikit residu pestisida dibanding produk yang ditanam secara konvensional.

Keuntungan dari jumlah residu yang lebih sedikit dalam pangan organik ini adalah menurunkan risiko terkait gangguan perkembangan saraf dan kanker.

Baca Juga  Pengabdian Lions Club Golden Estate diserbu warga

Meski begitu, jumlah (residu) kedua jenis bahan pangan tersebut berada dalam tingkat konsumsi yang aman.

Selain itu, pestisida sintetis bukanlah satu-satunya ancaman dalam keamanan pangan.

Justru yang perlu diwaspadai dalam bahan pangan adalah racun alami yang dihasilkan oleh tanaman itu sendiri.

Ketika produksi pangan organik menjauhi insektisida dan herbisida sintetis, tanaman organik mungkin akan menghadapi lebih banyak hama dan gulma.

Kabar buruknya, hal ini dapat membuat tanaman organik menghasilkan lebih banyak racun.

Salah satu contoh racun alami yang dihasilkan tanaman itu sendiri adalah solanin.

Solanin adalah zat yang diproduksi oleh kentang saat berubah menjadi hijau. Zat ini dapat mebuat Anda sakit jika menelannya terlalu banyak.

Masalah keamanan lain dari pangan organik adalah penggunaan pupuk kandang.

Beberapa ahli khawatir penggunaan pupuk kandang ini meningkatkan risiko kontaminasi mikroba seperti E. coli. (KC/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Kesehatan

Turunkan Berat Badan Dengan Daun Salam Dan Kayu Manis
Kacang-kacangan, Sumber Nutrisi Sahabat Tubuh-kompasnasional

Arsip

Kacang-kacangan, Sumber Nutrisi Sahabat Tubuh
Foto ilustrasi penggunaan obat sirup

Berita

Daftar 3 Merek Obat Sirop Afi Farma Mengandung EG dan DEG Berlebihan

Kesehatan

Mempertanyakan Aspirasi Pemerintah dalam Kebijakan Rokok
12 Rumah Sakit di Jawa dan Sumatera Gunakan Vaksin Palsu-kompasnasional

Arsip

12 Rumah Sakit di Jawa dan Sumatera Gunakan Vaksin Palsu

Kesehatan

27 Warga Cipayung Jaktim Positif, Diduga Sepelekan Corona

Kesehatan

Bahaya Mie atau Bumbu? Pecinta Mie Wajib Tahu

Kesehatan

Kapolda Metro Soal Kerumunan: Kapolsek, Wakapolsek Tanah Abang Positif Covid-19