Home / Arsip / Arsip 2016 / Berita / Reviews

Rabu, 27 April 2016 - 15:06 WIB

Trio Teroris Blak-blakan Soal Aksi Radikalisme di Indonesia

Viewer: 658
0 0
Terakhir Dibaca:6 Menit, 15 Detik

Aksi terorisme di Indonesia sudah mengkhawatirkan. Pemerintah terus berupaya untuk ‘memberangus’ paham-paham radikal yang digencarkan oleh kelompok teroris.

Salah satu upaya untuk menghalau paham radikal dan terorisme, pemerintah menggandeng mantan teroris yang sudah tertangkap dan tobat untuk memaparkan bagaimana perekrutan anggota teroris sehingga rela melakukan aksi bom bunuh diri dan ‘mencuci’ otak masyarakat sehingga berfikiran radikal.

Berikut pemaparan tiga mantan teroris soal aksi radikal dan terorisme di Indonesia yang dihimpun merdeka.com, Rabu (27/4):

1. Eks Panglima Jihad Maluku: Kelompok Santoso sudah menyimpang

Mantan Panglima Operasi Pusat Komando Jihad Maluku (PKJM), Jumu Tuani, meminta kepada kelompok Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso, serta anak buahnya supaya segera menyerah. Dia menganggap tindakan Santoso yang membantai kaum muslimin bukan jihad.

“Santoso dan kawan-kawan sebaiknya segera menyerah. Yang mereka lakukan bukan jihad. Perilakunya itu bukan mujahid tapi mukhorib. Aksi-aksi seperti ini, memberontak dan membantai kaum muslimin, itu sudah haram hukumnya,” kata Jumu Tuani di Malang, Kemarin.

Selama ini, Santoso melakukan kekerasan (fa’i) buat mendukung pendanaan perjuangan. Alasan itu menurut Jumu sudah sesat, karena membantai kaum muslim dan umat lain yang sama sekali tidak memusuhi mereka.

“Dana hasil merampok mereka klaim sebagai fa’i. Motor pelat merah dicuri, motor orang ke masjid dicuri, tidak peduli agamanya apa. Mereka halalkan. Harta orang kafir secara membabi buta dirampas,” ucap Jumu.

Padahal, lanjut Jumu, situasi Indonesia sama sekali tidak dalam kondisi peperangan seperti dimaksud dalam Alquran. Bahkan menurut dia, ketika ada kaum muslim sedang salat, atau orang tidak bersenjata, tetap dibantai Santoso.

Jumu menyatakan, kelompok Santoso selama ini berasumsi Indonesia sebagai negara kafir, sehingga harus diperangi. Sayangnya, sikap bermusuhan itu juga ditujukan kepada orang-orang tidak sepaham dengannya.

“Kelompok Poso memang yang paling aktif melakukan fa’i. Mereka adalah kelompok NII yang sekarang sudah berbaiat kepada ISIS. Mereka benar-benar menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan,” imbuh Jumu.

Jumu juga meminta Santoso dan kawan-kawan memperdalam ilmu agama, supaya mengetahui makna muqothilan dan ghairu muqhotillah. Karena menurut dia, secara tampak kasat mata tindakan dilakukan Santoso sudah di luar ketentuan Islam.

“Muqothillah adalah orang kafir yang boleh diperangi, dan ghoiru muqotillah adalah orang kafir yang tidak boleh diperangi walaupun di medan perang sekalipun,” lanjut Jumu.

Santoso, kata Jumu, membunuh orang Hindu di Poso dengan dipancung. Padahal, mereka bukan orang-orang yang memerangi Santoso. Mereka hanya bercocok tanam di hutan.

“Islam tidak memperkenalkan yang demikian. Rasul mengajarkan toleransi dan kedamaian. Rasul pernah menggadaikan baju besi dengan 30 wassak gandum. Artinya boleh hidup berdampingan, bahkan harus menjaga,” ujar Jumu.

Kalau pun tidak menyerah, Jumu meyakini Santoso dan pengikutnya akan tertangkap. Langkah polisi mengepung dan melokalisir akan membuat mereka kesulitan bahan makanan. Jumu menyatakan, Santoso dan kelompoknya tidak mempunyai kemampuan bertahan hidup (survival) di hutan. Sebab, mereka tidak pernah dididik supaya bisa bertahan hidup di hutan.

Baca Juga  Polda Kalbar Gelar Operasi Patuh Kapuas Selama 14 Hari, Fokus Delapan Pelanggaran

“Mereka bisa mati kelaparan di hutan. Karena tidak tahu makanan yang bisa dimakan. Mereka hanya mengandalkan pasukan Santoso yang lain mengirimkan makanan ke gunung,” tambah Jumu.

Secara jumlah, Jumu mengatakan, pasukan Santoso tidak lebih dari 27 orang, yang belakangan juga tertembak satu demi satu. Sementara secara ideologis, mereka juga terpecah.

“Di antara mereka meragukan tentang jihad yang sedang dijalankan. Apakah jihad syar’i atau bukan. Dengan Santoso membawa istrinya ke hutan, mereka mempertanyakan itu jihad syar’i atau bukan,” tutup Jumu.

2. Ali Imron: Teroris jika bertemu polisi seperti anjing lihat kucing

Terpidana seumur hidup kasus terorisme, Ali Imron punya cara tersendiri mengenali gerakan-gerakan radikal di Indonesia. Karena itu, masyarakat diminta mewaspadai kelompok pengajian dengan ciri-ciri tertentu. Salah satunya kalau mereka bertemu polisi seperti anjing ketemu kucing.

“Sebenarnya sudah cukup, rakyat Indonesia yang latar belakangnya NU ngaji saja ke NU, yang Muhammadiyah mengikuti pengajian Muhammadiyah. Jangan pernah nyempal ke mana-mana. Kalau ada yang ajak pengajian yang aneh-aneh, itu awal daripada penyakit,” kata Ali Imron.

Kedua organisasi itu sudah terbukti berjalan puluhan bahkan ratusan tahun, tanpa ada teror sampai sekarang. Amalannya sudah luar biasa yang menjauhkan diri dari rasa kebencian dan mengafirkan orang lain.

“Ormas itu macam-macam. Teroris saja ada versinya. Ada yang lembut ada yang agak lembut,” terangnya.

Imron mengingatkan, bahwa orang-orang atau organisasi radikal bergerak dengan membawa misi dan visi. Sehingga siapa pun akan berusaha dijangkau, tidak peduli guru maupun polisi sekali pun. Cara mendekatinya dengan segala macam upaya dilakukan.

“Teroris tidak dapat dicirikan dengan celana cingkrang, rambut gondrong. Itu tidak bisa. Karena, Ali Imron pernah ngecat rambut saat akan ngebom di Bali, untuk kamuflase,” katanya.

Banyak sekali kelompok dengan celana cingkrang dan jenggotan, tetapi belum tentu kelompok radikal atau teroris. Ali Imron mencontohkan jemaah tabliq dan jemaah salafi, yang tegas bukan kelompok di dalamnya.

“Kalau ekslusifnya Salafi itu kan hanya urusan bidah. Tetapi kalau yang itu pemikirannya mengkafirkan kelompok lain, itu tanda-tanda teroris,” katanya.

Mereka biasanya juga menjaga hubungan, tidak akan mau bersalaman dengan orang lain, sesama laki-laki sekali pun. Karena dianggap kafir.

Ali Imron juga menceritakan saat bergabung dengan mujahidin di Afganistan, dirinya mendapat pelatihan tentang pelbagai jenis bahan peledak. Aneka sistem persenjataan dipelajarinya, dari senjata sekecil bolpoin sampai bom kimia dipelajarinya.

Ali Imron mengaku memiliki kemampuan untuk mengemudikan berbagai kendaraan perang dan mengoperasikannya.

Baca Juga  Lantik Pejabat Eselon III dan IV, Wali Kota : Jaga Integritas dan Kejujuran

“Jadi kalau saya ketemu tank saya bisa membawanya, kecuali pesawat terbang saya tidak bisa, karena tidak ada pelatihannya. Aneka bom sampai bom kimia juga bisa,” kata Ali Imron.

Dengan nada bergurau, Imron membuat perumpamaan orang Jepang yang melihat pembuatan kue onde-onde yang rumit cara menempelkan wijennya. Tetapi dengan teknik dan proses tertentu banyak yang bisa dilakukan untuk membuat sebuah bom.

Dia juga menantang orang-orang yang selama ini menuduh kalau bom Bali buatan orang lain yang hanya diledakkan pelakunya. Padahal, dirinya yang membuat, memasang detonator hingga membawa ke lokasi.

bahkan dirinya mengaku bisa membuat bom tanpa diberi bekal apapun, dengan risiko membutuhkan proses dan waktu lama. Lewat air kencing bisa dibuat bom.

“Air kencing bisa dijadikan bom, dan itu diajarkan,” pungkasnya.

3. Umar Patek: Media sosial efektif sebarkan radikalisasi

Media sosial (medsos) menjadi alat efektif untuk menyebarkan paham radikalisme. Sejumlah pengikut yang bergabung dengan ISIS (Islamic State in Iraq and Syria), direkrut lewat media.

Terpidana kasus Bom Bali I, Hisyam bin Ali Zein alias Umar Patek mengungkapkan, pola rekrutmen teroris dilakukan dengan apapun yang bisa disentuh. Pendekatan kovensional dilakukan lewat pengajian, tetapi juga memanfaatkan media sosial yang lebih instan.

“Sekarang lebih sering dan efektif lewat media sosial. Tanpa bertemu dengan orang yang direkrut. Disuguhkan isu-isu provokatif. Itu paling efektif. Itu bisa dilakukan dengan Facebook dan lain sebagainya,” kata Umar Patek.

Karena itu, Umar mengingatkan kepada para orangtua untuk selalu dekat dengan anak-anaknya. Memantau aktivitasnya terutama dalam penggunaan smartphone.

“Orangtua harus mengikuti aktivitas anak-anaknya yang menggunakan smartphone, mengikuti juga aktivitasnya di kampus,” bebernya.

Umar Patek mengaku pada tahun 1991 berangkat ke Paskistan dan belajar di akademi militer. Selama 3 tahun menjalani pendidikan dasar tentang senjata.

Umar kemudian di-upgrade untuk ilmu spesialis artelirari, penembakan, pelempar mortal. Cuma yang dulu sudah berbeda dengan sekarang.

“Saya kemudian juga di-upgrade lagi untuk urusan ekplosif. Dari ramuan-ramuan sederhana sampai rumit. Tidak ada bahan kimia, kami kalau mau mampu bisa buat dari air kencing dan tanah,” tuturnya.

Pada 1995, Umar Patek berangkat ke Filipina. Ia sama sekali tidak memasukkan Indonesia sebagai negara tujuan jihad.

“Indonesia tidak termasuk negara yang harus diperangi. Jihad, yang saya pelajari, itu mempertahankan negeri muslim, contoh Palestina yang diserang orang Israel, datang ke sana. Indonesia tidak termasuk itu,” imbuhnya.

Sementara pelaku teroris lainnya, Ali Gufron mengungkapkan untuk mencari seorang ‘pengantin’ bom bunuh diri bukan sesuatu yang sulit. Karena memang dasar pemahaman agama yang terlalu dangkal.

“Saya hanya butuh waktu dua jam untuk menyiapkan pengantin,” tutupnya (mdk|dwk)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Hasil PPDB Jenjang SMA Resmi Diumumkan, Berikut Data Jumlah Kouta PPDB 2021 Online SMA Cabdis Siantar-Simalungun

Reviews

Letjen (purn) Djamari Chaniago Didesak Minta Maaf ke Prajurit TNI Korban Pengeroyokan

Berita

Silaturahmi Dengan Anggota Cabang L, Ini Pesan Ketua Persit KCK Daerah XII/Tpr

Berita

Sosialisasi Tahapan Pemilu, KPU Kampar Coffe Morning dengan Insan Pers

Berita

Kapolda Kalbar Mengajak Antisipasi Karhutla Harus Bersinergi Bersama Porkopimda

Berita

Selesai Upacara Hut RI, Bupati Halsel Bergegas Jenguk Musakar Anak Penderita Tumor

Berita

Pulau Lantigiang Selayar Sulsel Diduga Dijual Rp 900 Juta, Pembeli Sudah Bayar Rp 10 Juta

Berita

Satgas Ops Aman Nusa II Polda Kalbar Melaksanakan Penyemprotan Disenfektan Di Kandang Milik Warga