Kompasnasional l Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Riset dan Analisis (SUDRA), Fadhli Harahab menilai peran oposisi terkesan seperti pepatah Arab yakni ‘wujuduhu kaadamihi’, yang artinya keberadaannya seperti tidak ada.
Hal itu merujuk kepada kinerja partai politik oposisi yang dinilai kurang greget dan berenergi sebagai penyeimbang kekuasaan.
“Harus diakui partai oposisi tidak bertaring, kurang greget dan terkesan seperti wujuduhu ka adamihi (keberadaannya seperti tidak ada),” kata Fadhli.
Analis politik asal UIN Jakarta itu mengatakan, Partai Demokrat , Partai Keadilan Sejahtera ( PKS ) dan Partai Amanat Nasional (PAN) yang seharusnya berperan sebagai oposisi tidak mampu merepresentasikan itu karena kondisi masing-masing.
“Praktis setelah Gerindra berhasil direkrut pemerintah, tak ada lagi oposisi yang lantang, menggetarkan, menggoyang dan menimbulkan efek waspada bagi kekuasaan,” kata Fadhli.
Menurutnya, oposisi seperti bergerak pada wilayah abu-abu. Di satu sisi ingin beroposisi tetapi sisi lain ingin mendapatkan keuntungan politik kekuasaan.
PKS yang sedari awal menyatakan sebagai oposisi juga terkesan pragmatis karena seperti memilih-milah isu. Kecenderungan ini juga dilakukan Demokrat dan PAN.
Akhirnya, Fadhli menilai secara umum bahwa tak ada parpol oposisi yang patut diperhitungkan oleh kekuasaan. Padahal, baik Demokrat, PKS maupun PAN dalam pemetaan politik hari ini telah dipersepsikan masyarakat sebagai kekuatan oposisi. (SN/Red)








