Kompas Nasional l SIANTAR – Sampah seringkali menjadi masalah yang tidak kunjung usai. Pengolahan yang kurang tepat dan kesadaran masyarakat menjadi andil yang besar di banyak tempat, tak terkecuali di Kota Pematangsiantar yang menghasilkan sampah rumah tangga, perkantoran, perdagangan dan lain-lainnya tidak sebanding dengan pengangkutan volume sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Dalam hal pengelolan sampah di Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pematangsiantar patut di beri apresiasi, dimana sampah bisa menjadi penambah Pendapatan Asli Daerah(PAD) Pemerintah Kota Pemetangsiantar.
Dedy Tunasto Setyawan selaku Kepala Dinas DLHK Pematangsiantar saat di jumpai di ruang kerjanya Kamis,(20/5/21) mengatakan, Bahwa pihaknya telah mengelolah sampah organik menjadi pupuk kompos,bahkan ini sudah menjadi penambah PAD buat Pemko Pematangsiantar.
“Dari tahun 2019 semanjak saya menjabat di dinas lingkungan hidup dan kebersihan ini hasil dari pengelolaan sampah sudah masuk ke kas pemerintah menjadi pendapatan asli daerah, jadi target kami 10 juta pertahun itu sudah terpenuhi seperti tahun kemarin”. tutur Dedy.
Dedy juga menjelaskan, bahwa pupuk kompos yang dihasilkan dinas DLHK Pematangsiantar, sudah merambah ke petani Simalungun, Tanah Karo dan Dairi juga telah babyak membeli langsung ketempat pengelolaan yang ada di tanjungpinggir , Kelurahan kebun Sayur, kecamatan Siantar Barat, Kota Pematangsiantar.
Juga pupuk kompos yang dihasilkan dari olahan tersebut sama dengan kompos komersial yang ada. Kalau pengelolahan kompos yang ada dengan zat cairan disebut B4. Untuk DLHK Pematangsiantar hanya berbahan pembusukan limbah organik rumah tangga jenis sayuran dan daun-daunan.

Masih kata Dedy, bahan dasar kompos tersebut, sampah dedaunan pohon di kota Pematangsiantar dan mayoritas hasil rantingan pohon dijalur listrik PT. PLN, Kemudian bahan tersebut digiling dengan mesin lalu di busukan selama 21 hari menggunakan bahan sampah sayuran milik rumah tangga dan dari pasar Dwikora parluasan.
“Sebanyak 2 ton sebulan bisa di produksi Harga pupuk 1 kg Rp 2.000. Saat ini menjadi kendala bagi kita adalah bahan dasar dedaunan dan mesin yang kurang maksimal. Sehingga saat pengelolahan kurang efisien terkait mesin”. Kata Dedy.
Dedy Tunasto Setyawan juga menerangkan, bahwa pihaknya sedang berupaya membangun kerja sama dengan stake holder yang ada terkait pemenuhan bahan baku.
“Beberapa waktu lalu kita kerja sama dengan PMKRI Cabang Siantar-Simalungun dalam program jumat bersih, salah satu programnya mengajak gerakan mahasiswa tersebut untuk kerja sama pengelolahan dan suply bahan dasar kompos tersebut. Begitu juga dengan organisasi mahasiswa lainnya”, ujarnya
Saat ini kami membangun komunikasi dengan Universitas Simalungun Indonesia (USI) sebab, kampus tersebut memiliki hutan atau pepohonan didalam kampus, Begitu juga Universitas Nomennsen. Sehingga kerja sama saling menguntungkan akan terjalin baik, pertama kebutuhan dasar kami terpenuhi, kedua mereka tidak perlu membutuhkan tenaga untuk melakukan pembersihan dedaunan sebab, petugas kami yang akan turun langsung. Tutupnya.
Toni Tambunan








