Kompasnasional.com – Indonesia dikenal sebagai negara maritim yang memiliki banyak pulau yang terbentang dari sabang sampai merauke. indonesia memiliki sekitar 17.500 pulau, bergaris pantai sepanjang 81.000 km.
TREND INOVASI BAKAU DI SUMATERA UTARA
Mangrove adalah jenis tanaman dikotil yang hidup di habitat air payau dan air laut. Tanaman mangrove tidak dilindungi/dilarang untuk memanfaatkan bagian-bagian tanaman tersebut, misalnya dimanfaatkan untuk dijadikan bahan baku kosmetik/farmasi atau bahan tambahan tekstil (Dirjen P2HP, 2015).
Mangrove saat ini banyak dimanfaatkan sebagai salah satu inovasi yaitu batik mangrove. Salah satu UMKM di Indonesia yang terkenal memproduksi produk berbahan mangrove adalah Usaha LIZA MANGROVE(BATIK) berlokasi di Jl.mesjid gg musyawarah dsn 9B, Desa Pematang Johar, Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara 20373, Indonesia.
Desa Pematang Johar berada di pesisir Percut mengalami abrasi. Ibu Rahmawati dan para penduduk yang mata pencahariannya adalah bertani mulai kelimpungan dan terancam menganggur. Untuk mengatasi abrasi, Ibu Rahmawati beserta masyarakat petani bahu membahu melakukan penanaman mangrove secara swadaya untuk melindungi sawah dari dampak abrasi. Hal ini mereka lakukan kurang lebih selama tiga tahun. Pada tahun 2013 ada sebuah yayasan yaitu Yayasan Gajah Sumatera ikut membantu masyarakat petani di desa ini melakukan konservasi mangrove dan memberikan pelatihan kepada masyarakat petani yang terkena dampak kerusakan lingkungan.
Ibu Rahmawati merupakan salah satu petani yang mendapatkan kesempatan pergi ke Jakarta untuk menjalani pelatihan membatik. Sepulang dari pelatihan tersebut, beliau mencoba menerapkan ilmu membatik tersebut sebagai pekerjaan barunya dikarenakan sawah tidak lagi bisa diharapkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Membatik bukanlah pekerjaan yang mudah, beberapa kali dicoba namun kain batik yang dihasilkan belum sesuai dengan harapan, namun Ibu Rahmawati adalah sosok perempuan yang pantang menyerah.
Ibu Rahmawati adalah seorang anak nelayan, yang tidak mengenal sekolah formal dari sejak kecil.
Sejak kecil beliau sudah terbiasa dengan kesulitan hidup, sehingga kehabisan bahan membatik tidak membuatnya kehilangan semangat. Berkat petunjuk dari ayahnya, Ibu Rahmawati terinspirasi untuk memanfaatkan pohon mangrove.
Kayu mangrove yang banyak tumbuh di sekitar rumah dicoba untuk dijadikan bahan baku pewarna untuk membatik. Selama empat bulan, beliau melakukan eksperimen untuk menemukan formula yang pas agar getah mangrove tersebut dapat dijadikan bahan pewarna untuk membatik. Akhirnya pada bulan kelima beliau menemukan formula yang pas dimana pewarna dari getah mangrove tersebut dapat diterapkan pada kain dan pewarna tersebut tidak luntur ketika kainnya dicuci.
Pada pertengahan 2014 Ibu Rahmawati mulai merintis usaha produksi rumahan yaitu membatik dengan modal awal yang merupakan hasil bantuan dari Ketua PKK Labuhan Deli. Ternyata batik mangrove banyak disukai pasar. Masyarakat menyukai bentuk pola dan warna batik mangrove.
Batik mangrove yang dihasilkan adalah kain batik tulis khas berbahan dasar pewarna alamiah. Beda dengan batik umumnya yang berbahan pewarna kimia, batik mangrove selain berbahan pewarna alamiah juga memiliki keistimewaan dimana setiap helai kain batik yang dihasilkan citra warnanya tidak akan pernah sama, sehingga produk ini merupakan produk yang eksklusif.
Usaha batik mangrove ini sudah memperkerjakan 20 orang karyawan, yaitu 2 orang laki-laki dan 18 orang wanita. Semua karyawan tersebut merupakan peduduk Desa Pematang Johar yang pendidikannya hanya tamat SD dan SMP. Mereka digaji bila kain batik telah selesai dikerjakan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Rahmawati, beliau ingin sekali membantu masyarakat sekitarnya dalam hal ini kaum perempuan yang berpotensi artinya yang ingin maju, keluar dari kesulitan ekonomi. Mereka benar-benar ibu rumah tangga yang hanya mengurus rumah mereka.
Oleh : Patresia Simanjuntak
Mahasiswi Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli








