Kompasnasional | Seorang akademisi di Universitas Oxford, Inggris meyakini bahwa virus corona baru (Covid-19) yang saat ini sudah menyebar ke 213 negara bukan berasal dari Tiongkok.
Menurutnya, Covid-19 telah ada di seluruh penjuru dunia, namun sedang dalam keadaan tertidur, kemudian bangun pada kondisi lingkungan yang tepat untuk berkembang.
Pekan lalu, para ahli virologi asal Spanyol mengumukan mereka telah menemukan jejak Covid-19 dalam sampel air limbah yang dikumpulkan pada Maret 2019 lalu.
Lalu sembilan bulan setelahnya, penyakit yang menyerang sistem pernapasan manusia tersebut mulai terlihat di Tiongkok.
Selain itu, ilmuwan asal Italia juga telah menemukan bukti jejak Covid-19 dalam sampel limbah di Milan dan Turin pada pertengahan Desember 2020, beberapa minggu sebelum kasus pertama terdeteksi.
Ilmuwan tersebut juga menemukan adanya jejak Covid-19 dalam sampel limbah di Brasil pada November 2019 lalu.
Maka dari itu, dr. Tom percaya Covid-19 sudah ada di seluruh penjuru dunia, namun masih belum dalam keadaan aktif.
Meskipun begitu, dr. Tom juga menjelaskan, bahwa Covid-19 dapat menghilang secepat mereka muncul.
Dirinya mengimbau para ilmuwan agar terus meneliti Covid-19 untuk mengetahui asal dan bagaimana virus tersebut bermutasi.
“Kemana perginya SARS-1? Itu hilang begitu saja. Jadi kita harus memikirkan hal-hal ini. Kita perlu mulai meneliti ekologi virus, memahami bagaimana virus itu bermula dan bagaimana dia bermutasi,” imbau dr. Tom.
Menurutnya, kondisi lingkungan di suatu negara atau daerah dapat memicu Covid-19 aktif dan mulai bermutasi.
“Kita mungkin melihat virus yang tidak aktif bisa diaktifkan oleh kondisi lingkungan, dan mereka pun kemudian akan bermutasi,” ujarnya.
Dr. Tom pun kemudian memberikan contoh kasus yang ada di Kepulauan Falkland pada awal Februari 2020 lalu.
Dirinya lalu mempertanyakan dari mana virus tersebut berawal, lantaran diketahui Kepulauan Falkland berada di tengah-tengah Samudra Atlantik.
“Ada kasus di Kepulauan Falkland pada awal Februari 2020 lalu, sekarang dari mana datangnya?” ujar dr. Tom.
Lebih lanjut dr. Tom menuturkan, kasus-kasus seperti ini sama seperti pandemi Flu Spanyol yang terjadi pada tahun 1918 silam.
Menurut dr. Tom, pada saat itu, Samoa Barat yang tidak memiliki komunikasi dengan dunia luar mencatatkan sekitar 30 persen populasinya meninggal karena pandemi Flu Spanyol.
“Hal-hal aneh seperti ini terjadi pada Flu Spanyol. Pada tahun 1918, sekitar 30 persen populasi Samoa Barat meninggal karena Flu Spanyol dan mereka pada saat itu tidak memiliki komunikasi dengan dunia luar.
Dirinya menyimpulkan bahwa Covid-19 maupun Flu Spanyol dapat aktif di saat kondisi suatu negara mulai menjadi tempat yang menguntungkan untuk melakukan mutasi.
“Kesimpulannya, mungkin saja mereka (Covid-19 atau Flu Spanyol) tidak datang atau pergi ke mana pun. Mereka selalu ada di sini dan sesuatu memicu mereka, mungkin kah itu kepadatan manusia atau kondisi lingkungan negara yang dapat membantu mereka bermutasi. Dan inilah yang harus kita cari,” pungkasnya.(PR/Red)







