Jakarta, JejakNasional – Kementerian Pertahanan menyebut ada lima peserta sarjana penggerak pembangunan Indonesia (SPPI) program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) yang meninggal dunia. Kemhan menjelaskan mereka meninggal karena sakit.
Kepala BPSDM Kemhan, Mayjen Ketut Gede Wetan menjelaskan, para peserta mengalami gangguan kesehatan. Seluruhnya telah memperoleh penanganan oleh tenaga kesehatan, baik di satuan pendidikan hingga dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan sesuai dengan prosedur yang berlaku.
“Kelima peserta tersebut memiliki karakter dan kondisi medis yang berbeda-beda. Seluruh peserta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur, baik di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit rujukan,” kata Ketut saat jumpa pers di Kantor Kemhan, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6/2026).
Adapun kelima peserta yang meninggal yakni Yonanda Muhammad Taufiq; Anisa Muyassaroh; Novia Rahmadhani Sihotang; Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dan Nola Dya Sari.
Ketut menjelaskan, seluruh peserta ini sebelumnya telah melalui pemeriksaan kesehatan. Mereka menjalani pemeriksaan di laboratorium darah, urine, tes kehamilan, rontgen toraks, EKG, USG abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur, dan kesehatan jiwa.
“Kejadian berdasarkan laporan resmi dari satuan pendidikan dan rumah sakit,” tuturnya.
Ketut pun menjelaskan kronologi dari kelima peserta yang meninggal dunia pelatihan ini.Berikut papan Kemhan:
1. Yonanda Muhammad Taufiq
Ketut menjelaskan, Yonanda menjalani pelatih dari Satdik Pusdiklatpur Kodiklatad Baturaja. Pada Rabu, 17 Juni 2026, pukul 16.00 WIB, Yonanda mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan di daerah latihan Pusdiklatpur Baturaja dengan berjalan kaki bersama peserta lainnya.
Sekitar pukul 17.17 WIB, pelatih menemukan Yonanda mengalami penurunan kesadaran. Tim kesehatan satuan segera dipanggil. Pada pukul 17.22 WIB, Yonanda dibawa menggunakan ambulans menuju pos kesehatan satuan pendidikan.
“Meskipun telah dilakukan tindakan medis secara intensif, pada pukul 18.33 WIB, dokter menyatakan almarhum meninggal dunia dengan diagnosis cardiac arrest atau henti jantung,” ujarnya.
2. Anisa Muyassaroh
Anisya dilatih oleh Satdik Dodik Kejuruan Rindam VI/Mulawarman Balikpapan. Pada Kamis, 18 Juni 2026, Anisa mengikuti kegiatan pembelajaran sebagaimana jadwal pendidikan sekitar pukul 13.35 WITA.
Sebelum kegiatan dimulai, Anisa mengeluhkan sesak napas disertai mual hingga segera dievakuasi ke Pos Kesehatan Dodikjur.Pada pukul 14.00 WITA, dilakukan pemeriksaan oleh dokter satuan, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit dr. R. Hardjanto Balikpapan.
“Kondisi terus memburuk hingga pukul 18.51 WITA, hasil EKG menunjukkan flat asystole. Pada pukul 19.00 WITA, dokter menyatakan almarhumah meninggal dunia. Berdasarkan keterangan medis, penyebab kematian adalah heat stroke,” jelas Ketut.
3. Novia Rahmadhani Sihotang
Novia sendiri dilatih oleh Satdik Pusbahasa Kodiklat Angkatan Udara. Pada Senin, 22 Juni 2026, pukul 14.30 WIB, Novia datang ke unit kesehatan dengan keluhan batuk berdahak, sesak napas, dan demam. Setelah dilakukan pemeriksaan awal, diberikan terapi dan dipantau oleh tim kesehatan.
Keesokan harinya, Selasa 23 Juni 2026, pukul 06.10 WIB, kondisi Novia semakin lemah sehingga langsung dirujuk ke Rumah Sakit Utama dr. Esnawan Antariksa.Setelah dilakan pemeriksaan termasuk foto toraks, menunjukkan tuberkulosis paru aktif.
“Pada pukul 15.00 WIB, kondisi pasien mengalami penurunan kesadaran. Tim medis segera melakukan resusitasi jantung paru, namun pada pukul 15.13 WIB, dokter menyatakan almarhumah meninggal dunia. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, almarhumah meninggal dunia akibat tuberkulosis,” tuturnya.
4. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan
Ketut menjelaskan, Rifki dilatih di Satuan Pendidikan Yon Parako 465 Halim Perdanakusuma. Pada Kamis, 25 Juni 2026, pukul 14.30 WIB, Rifki datang ke ruang kesehatan Satdik dengan keluhan sesak napas dan lemas.
Saat dilakukan pemeriksaan, kondisi umum masih stabil sehingga diberikan terapi oksigen dan kembali mengikuti kegiatan setelah kondisi membaik. Namun pada pukul 18.00 WIB, keluhan sesak napas kembali muncul hingga dirujuk ke IGD Rumah Sakit Angkatan Udara dr. Esnawan Antariksa.
“Pada Jumat, 26 Juni 2026, pukul 00.28 WIB, dokter menyatakan almarhum meninggal dunia. Berdasarkan resume medis dan laporan khusus, penyebab kematian berkaitan dengan pneumonia atau infeksi paru-paru yang disertai komplikasi medis. Dalam riwayat kesehatan juga terdapat informasi mengenai hipertensi dan obesitas yang menjadi bagian dari evaluasi medis,” jelasnya.
5. Nola Dya Sari
Nola dilatih di Satuan Pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan. Pada Jumat, 26 Juni 2026, Nola mengikuti kegiatan pembelajaran sosiologi dan teknik perkebunan tanpa keluhan kesehatan.
Sekitar pukul 18.45 WIB, Nola mengeluhkan sesak napas disertai badan terasa panas. Tim kesehatan satdik segera memberikan penanganan awal dan merujuk yang bersangkutan ke IGD Rumah Sakit Singkawang.Nola kembali dirujuk ke RSUD Abdul Aziz Singkawang.
“Dalam proses penanganan terjadi henti jantung, sehingga dilakukan resusitasi jantung dan tindakan kardioversi. Meskipun berbagai upaya medis telah dilakukan, kondisi pasien tidak dapat dipulihkan dan pada pukul 21.03 WIB almarhumah dinyatakan meninggal dunia,” kata Ketut.
“Sebelum mengikuti pendidikan, yang bersangkutan telah melalui tahapan seleksi kesehatan, seluruhnya dinyatakan memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku, dengan catatan kelebihan berat badan,” imbuhnya.
(YA?JJN)







