Home / Opini

Minggu, 14 Februari 2021 - 21:21 WIB

Soroti Partai Demokrat, Akademisi UGM: Bubar Saja Rakyat Sudah Muak

Viewer: 413
0 0
Terakhir Dibaca:2 Menit, 6 Detik

Kompasnasional l Akademisi Universitas Gajah Mada (UG), Bagas Pujilaksono menyoroti persoalan internal Partai Demokrat terkait isu kudeta di tubuh partai pimpinan Agus Harimurti Yudhoyono itu.

Bagas dalam video wawancaranya yang tayang dj kanal Youtube Tagar TV, Sabtu 13 Februari 2021, berpendapat istilah kudeta yang dilemparkan Partai Demokrat kepada publik sangatlah janggal.

Pasalnya, menurut Bagas, kudeta secara istilah adalah gerakan militer untuk menggulingkan kepala negara dan atau kepala pemerintahan secara inkonstitusional.

Oleh karenanya, diksi kudeta yang dilontarkan Partai Demokrat kepada publik tersebut tidak tepat dan sama sekali tidak mendidik rakyat.

“Apakah istilah kudeta tepat untuk kasus ini? Tidak tepat dan sama sekali tidak mendidik rakyat. Masalah partai politik sebaiknya diselesaikan secara internal,” ujar Bagas Pujilaksono.

Bagas juga menyebut bahwa rakyat saat ini sudah muak dengan ingar bingar yang kontraproduktif lantaran masyarakat bersama pemerintah kini tengah fokus berjuang menghadapi pandemi Covid-19.

Baca Juga  AHY Dinilai Masih Punya 2 Kekurangan untuk Melenggang ke Pilpres 2024

“Apalagi perilaku politiknya selalu mengganggu kinerja pemerintah. Buruk muka, cermin dibelah. Kalau memang tidak mampu, dan nyata-nyata tidak bisa berkontribusi positif untuk rakyat luas, ya minggir saja. Mengapa harus memaksakan diri,” tegasnya.

Menurutnya, lebih elok jika konflik internal partai politik diselesaikan secara internal. Tak perlu curhat ke publik karena manfaatnya, kata Bagas, masih menjadi tanda tanya besar.

Jika Partai Demokrat tak bisa menyelesaikan konfliknya secara internal, menurut Bagas, lebih baik partai itu bubar saja.

“Kalau tak bisa, bubar saja, RI tak akan bangkrut atas lenyapnya sebuah parpol,” ungkapnya.

Mengutip Hops.id, Dosen UGM ini menilai jika pada dasarnya sebuah partai politik harus bersifat terbuka. Artinya, orang-orang yang terlibat di dalamnya ada karena komitmen politik yang kuat.

“Itulah yang dianggap harus dirubah dari Partai Demokrat. Tidak boleh ada private orientation dan mengarah pada keluarga tertentu untuk menguasai partai politik. Di mana orang lain diminta harus mendukung,” jelas Bagas.

Baca Juga  Kuliahnya Mahal Tapi Gaji Perawat di Bawah UMR

Menurut Bagas, seharusnya partai politik memberikan pendidikan politik kepada rakyat luas. Bukannya malah mempertontonkan ke publik hal-hal yang sifatnya internal partai.

“Sebab rakyat sudah muak. Jika visi dan perjuangan politik (Partai Demokrat) tidak sejalan dengan politik negara bisa dipastikan partai politik tersebut akan bangkrut alias bubar. Tinggal menunggu waktunya saja,” tuturnya.

Bagas pun menganggap rakyat sekarang sudah bisa membedakan mana yang bermanfaat, dan mana yang ujung-ujungnya hanya kepentingan sempit dan sesaat.

Bahkan, Bagas menilai bungkusan wacana-wacana politik yang penuh kemunafikan dan kebohongan, sudah tidak laku pada zaman keterbukaan seperti sekarang ini.

“Yang sangat menggelikan adalah, segala anomali politik, termasuk konflik internal parpolnya. Selalu pemerintah yang disalahkan. Main tuduh seenaknya, sodok sana, sodok sini, sebar hoaks, cari kambing hitam, semata hanya menutupi ketidakmampuan diri,” ujarnya.(MT/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Opini

Pakar: Perubahan Nama FPI yang tak Didaftarkan Tidak Sah

Opini

Kalau Jokowi Pinang Risma & Susi Pudjiastuti, Demi Bangsa dan Negara: Pasti Diterima!

Berita

Heboh!!! Sudah Dimakamkan Sepekan, Kuburan Dibongkar, Ini Hasilnya….

Opini

Natalius Pigai Diskakmat Balik Wamenkumhan, Langsung Menciut!

Berita

Penangkapan Ikan Mas Dikaitkan Tragedi KM Sinar Bangun di Toba

Berita

Status Tersangka Dianggap Tak Sah, Hakim Diminta Setop Kasus Ruslan Buton

Opini

IPW Sebut Calon Kapolri Harus Pernah Menjadi Kapolda di Jawa atau Daerah Rawan

Opini

Tanggapi Isu Kaitan ISIS dengan Habib Rizieq, Luqman Hakim: Bohong adalah Ibu dari Segala Dosa