Viewer: 728
0 0

Home / Nasional

Sabtu, 5 Desember 2020 - 14:52 WIB

Mantan Kepala Bais TNI Angkat Bicara Tentang Gerakan Separatis Papua

Viewer: 729
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 48 Detik

Kompasnasiol l Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI Laksda TNI (Purn) B. Soleman Ponto angkat bicara tentang polemik yang terjadi di Papua belakangan ini.

Menurut Laksda TNI Soleman Ponto, persoalan di Papua harus diselesaikan melalui pendekatan kemanusiaan yang didasarkan pada Hukum HAM (Hak Asasi Manusia) dan pendekatan keamanan didasarkan kepada Hukum Humaniter. Sebab, Hukum HAM dan Humaniter dipakai karena keuniversalan hukum ini berlaku dalam dunia internasional.

Lebih jauh lagi, purnawirawan Jenderal TNI Angkatan Laut itu menjelaskan bahwa ada konflik yang tidak bisa digolongkan menjadi konflik bersenjata yaitu kekacauan atau tindakan kriminal bersenjata seperti halnya yang terjadi di Papua saat ini.

Situasi di Papua saat ini bukanlah konflik bersenjata, karena yang berada di Papua saat ini adalah kelompok kriminal bersenjata (tindakan kekerasan bersenjata),” kata Laksda TNI (Purn) Soleman Ponto dalam keterangan yang diterima VIVA Militer, Jum’at, 4 Desember 2020.
Lebih jauh dia memaparkan, bahwa dalam konflik bersenjata sekalipun, Hukum Humaniter konflik dibagi menjadi dua bagian yaitu konflik bersenjata Internasional dan konflik bersenjata internal.

Baca Juga  Terkena Serpihan Logam, Mata Kiri Bripda Yogi Harus Dirawat Intensif

Apabila ada pasukan pembangkang bersenjata melakukan perlawanan terhadap angkatan bersenjata suatu negara, maka itu adalah konflik bersenjata internal,” ujarnya.Kedua, hak untuk hidup, untuk tidak disiksa, merupakan hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun oleh siapa pun. Ketiga, hak untuk menentukan nasibnya sendiri (Internal dan Pemisahan ‘pembebasan dan separatis’).

Menurut Laksda TNI Soleman Ponto, persoalan di Papua harus diselesaikan melalui pendekatan kemanusiaan yang didasarkan pada Hukum HAM (Hak Asasi Manusia) dan pendekatan keamanan didasarkan kepada Hukum Humaniter. Sebab, Hukum HAM dan Humaniter dipakai karena keuniversalan hukum ini berlaku dalam dunia internasional.Apabila ada pasukan pembangkang bersenjata melakukan perlawanan terhadap angkatan bersenjata suatu negara, maka itu adalah konflik bersenjata internal,” ujarnya.

Baca Juga  Ketua DPR Minta Polisi Usut Label Susu Kental Manis

Sedangkan dalam Hukum HAM, pria lulusan Akademi Angkatan Laut tahun 1978 itu menjelaskan, bahwa terdapat tiga poin mengenai keadaan Papua pada saat ini. Pertama, mengenai perlindungan terhadap hak-hak individu atau hak kelompok dan dilindungi secara internasional dari pelanggaran yang dilakukan pemerintah atau aparatnya maupun aktor non-negara yang terlibat.

Kedua, hak untuk hidup, untuk tidak disiksa, merupakan hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun oleh siapa pun. Ketiga, hak untuk menentukan nasibnya sendiri (Internal dan Pemisahan ‘pembebasan dan separatis’). (VCI/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Arsip

Harga Minyak Dunia Terus Bergerak Naik

Nasional

Pasukan Kostrad, Marinir, dan Tontaikam Ikut Buru Kelompok Ali Kalora

Arsip

Koruptor Berfoya-foya Beli Kendaraan Mewah Dari Duit Rakyat
Foto temuan di rumah keluar yang tewas di kalideres

Berita

Fakta Baru Kematian Kalideres: Ada Ritual, Buku Mantra dan Kemenyan

Berita

Polisi Berhasil Tindak Ribuan Kendaraan di Hari Pertama Operasi Keselamatan Jaya 2018

Berita

Jokowi Minta Tim Kampanye Bisa Jawab Isu PKI dan Antek Asing

Berita

Desa Kampung Padang Mendapatkan Bantuan Buku Bacaan Dari Perpustakaan Nasional RI

Arsip

Mau Lempar Fahri Hamzah Pakai Mic, AM Fatwa Minta Maaf