kompasnasional.com | PADANG
Warga Kecamatan Hibala, Kabupaten Nias Selatan (Nisel), persisnya masyarakat yang bermukim di ujung Kabupaten Nisel arah selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Kepulauan Mentawai, selama ini cenderung pergi berbelanja ke Padang untuk keperluan sehari-harinya.
Alasannya pergi ke Padang lebih baik dari pada pergi ke Pulau Tello atau ke Teluk Dalam. Menurut salah seorang warga ama Bejo, kenapa mereka ke Padang, karena perjalanannya lebih dekat, barangnya lebih murah, lebih lengkap dan banyak yang dipandang.
“Maklum lah pak, kota besar, ibu kota Propinsi Sumatera Barat,” imbuhnya.
Sementara itu, teman ama Bejo berkata, “kami dari Hibala (orang Hibala) pergi ke Teluk Dalam hanya urusan pemerintahan, selain itu tidak ada. Biasa pak ngurusi KTP dan sebagainya. Ke Teluk Dalam bukan urusan bisnis, tapi hanya menghabis-habiskan uang. Kalau ke Padang ini pada umumnya bisnis dan ada juga sekedar jalan-jalan.”
Dari hasil liputan kru Persia di Pelabuhan Teluk Bayur, Kota Padang diperoleh informasi, KM Over Top Kapal Kontrak Pemerintah yang menjadi Kapal Perintis sering tidak tepat waktu. Misalkan saja, pada Selasa (22/11/2016) dijadwalkan berangkat pukul 13.00 WIB. Penumpang yang mayoritas orang Hibala, sudah sampai di Teluk Bayur pukul 11.00 WIB. Sedangkan KM Perintis yang akan ditumpangi belum juga tampak dimana rimbanya dan nyandar baru pukul 17.00 WIB.
Sekalipun sudah nyandar di dermaga, tapi berangkatnya pun baru bisa pukul 20.00 WIB, karena barang-barang yang sifatnya tidak manifest, baru lah dimuat.
“Lihat itu Pak,” kata salah seorang gadis cantik dari Hibala mendekati Wartawan. Gadis Desa yang cantik bertitel S1 ini mengeluhkan keadaan ini.
“Kapan ya om penderitaan orang Hibala ini akan berakhir. Apakah selamanya begini? Tidak ada perhatian dan pengawasan dari pihak penguasa setempat. Sepertinya kapal ini di atur oleh mafia. Begitu kapal mau berangkat baru barang mereka dimuat. Kita menderita menunggunya. Coba lihat om, kami istirahat di tempat yang kumuh ini, karena tidak ada tempat khusus bagi penumpang,” keluhnya.
Penumpang Kapal Perintis yang didominasi warga Hibala itu , meminta supaya anggota DPRD dari Hibala angkat bicara dan datang ke Padang membicarakan hal itu. Tokoh Pemuda Hibala Jefri meminta derita ini tidak dipandang sebelah mata.
“Supaya penderitaan ini bisa berakhir, maka sepatutnya semua pihak mencarikan solusinya,” kata Jefri.
Selanjutnya Jefri bertekad, jika anggota DPRD itu tidak mau mendengar keluhan rakyatnya ini, maka dirinya siap membicarakan hal itu kepada para pejabat setempat (ar)






