Home / Arsip / Arsip 2016 / Berita / Ekonomi / Nasional / Reviews

Senin, 29 Agustus 2016 - 14:55 WIB

Tarif Interkoneksi Turun, Saham Operator Babak Belur

Viewer: 577
0 0
Terakhir Dibaca:2 Menit, 2 Detik

Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bobby Adhityo Rizaldi menyatakan rencana penurunan tarif interkoneksi bakal memukul nilai saham perusahaan operator telekomunikasi. Maka dari itu, dirinya meminta pemerintah mengkaji rencana ini secara seksama dengan mengedepankan rasa keadilan.

“Semuanya perusahaan publik, regulasi ini akan membuat satu pihak untung dan lainnya rugi, ujungnya saham publik akan turun. Ini yang harus dipertimbangkan kembali oleh pemerintah,” kata Bobby di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (29/8).

Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi I DPR dengan seluruh operator telekomunikasi di Indonesia, Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengatakan, penetapan tarif baru ini, menyalahi PP 52/2000 karena dianggap belum disetujui bersama oleh operator. Meski diakui, penurunan tarif ini memberikan biaya komunikasi murah untuk masyarakat.

“Di satu sisi setuju agar para operator bisa memberikan harga terbaik bagi user, masyarakat. Tapi di sisi lain, salah satu pihak operator merasa dirugikan dan bisa mempengaruhi kinerjanya,” ujarnya.

Baca Juga  Satu Desa di Halsel Lakukan Malpraktek Pencairan Dana Desa, 1 Miliar Ludes

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika berencana memberlakukan tarif interkoneksi sebesar Rp 204, atau turun 26 persen dari sebelumnya. Menurut rencana, kebijakan ini mulai berlaku pada 1 September 2016 dan telah diinformasikan dalam Surat Edaran Kominfo No.115/M.Kominfo/PI.0204.08/2016.

Dirut Telkom Alex Sinaga dengan tegas menolak dan keberatan atas Surat Edaran (SE) Kementerian Komunikasi pada 2 Agustus 2016 tentang penurunan biaya interkoneksi dari Rp 250 menjadi Rp 204. Penolakan dan keberatan itu sudah disampaikan secara tertulis oleh Telkom Group termasuk Telkomsel kepada kementerian. Namun hingga saat ini belum mendapat tanggapan dari kementerian.

“Biaya interkoneksi baru itu (Rp 204), jelas merugikan Telkom, mengingat cost recovery kami, menurut perhitungan konsultan, adalah Rp 285. Sebab kami membangun jaringan sampai ke pelosok Tanah Air, sedangkan operator lain membangun cuma di kota saja. Kenapa diperlakukan sama,” ujar Alex Sinaga.

Baca Juga  Bupati Samosir beserta Satgas Covid-19 Razia Jam Operasional Tempat Hiburan Malam

Jika Telkom Group keberatan dan menolak, pada sisi berbeda, empat operator lainnya, yakni XL Axiata, Indosat Ooredoo, Smartfren, Hutchison Tri Indonesia berargumen penurunan biaya interkoneksi sebesar 26 persen atau setara Rp 46 itu masih terlalu kecil. Keempat operator itu mengharapkan penurunan biaya interkoneksi lebih besar lagi. Sebab cost recovery mereka sangat rendah, yakni Indosat hanya Rp 86, XL Rp 65, Smartfren Rp 100, dan Tri Rp 120.

Alexander Rusli, Dirut Indosat Ooredoo, menyatakan penurunan tarif interkoneksi adalah untuk memberi kesempatan kepada operator selain Telkom Group untuk berkembang.

“Kalau tarif interkoneksi turun, kami bisa memberikan layanan lain yang lebih menarik untuk pelanggan. Interkoneksi masih menjadi barrier, sehingga harga murah kepada pelanggan pada daerah-daerah tertentu bersifat terbatas,” ujar Alex (mdk|dwk)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Polres Melawi Melaksanakan Kegiatan Program 100 Hari Kapolri*

Berita

Babinsa Kodim 1203/Ktp Dampingi Petani Panen Cabe
12 Remaja Terjaring di Kos-kosan Medan Area -kompasnasional

Arsip

12 Remaja Terjaring di Kos-kosan Medan Area

Asahan

Sambut HUT AL Ke 76, Lanal TBA Sudah Vaksin 11.000 Orang

Berita

Polairud Polda Kalbar Telah Berhasil Gagalkan Penyelundupan 100 Ton Rotan ke Malaysia

Berita

Edi Kamtono: Cetak Bibit Atlet Sejak Dini Lewat Kompetisi Tenis

Berita

Lakukan Inovasi Baru Melayani Masyarakat Dan Dukung Polres Tapsel Menuju WBBM

Berita

Babinsa Matan Hilir Selatan, Kodim 1203/Ktp Dan Warga Binaan Bersihkan Areal Pemakaman Umum.