Parapat – Kompasnasional.com
Yufi, menambah sederetan korban tewas di Danau Toba. Bocah lima tahun warga Pasar Sumani, Kecamatan Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, ini meninggal setelah mengalami luka akibat terkena baling-baling speed boat yang ditumpanginya bersama keluarga.
Peristiwa berdarah itu terjadi, Sabtu (16/7). Saat itu Yufi dibawa keluarganya berlibur ke Danau Toba, tepatnya ke Pantai Pasir Putih Parbaba, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.
Tiba di lokasi tujuan, rombongan keluarga ini kemudian bersenang-senang dan berkeliling danau menggunakan kapal. Setelah itu, mereka menyewa speed boat dan banana boat. Korban dan ayahnya Yuyun Djafar (37) dan seorang lagi keluarganya menumpang speed boat bersama pengemudi kapal. Sedangkan lima keluarganya yang lain naik banana boat.
Selanjutnya, rombongan ini pun bersenang-senang menikmati indahnya pemandangan Danau Toba dengan menumpang dua boat itu.
Namun tak lama kemudian, diduga pengemudi speed boat berbelok terlalu tajam. Hal itu membuat penumpang speed boat dan banana boat tercampak dan terhempas ke air. Saat berada di air itulah diperkirakan Yufi terkena baling-baling kapal dan mengalami luka serius.
Selanjutnya warga yang mengetahui kejadian berusaha menyelamatkan mereka dari dalam air. Kemudian korban yang sudah berlumuran darah beserta ayahnya dilarikan ke RSU Hadrianus Sinaga di Pangururan. Hanya saja, nyawa korban tak tertolong. Sedangkan ayahnya masih dalam perawatan akibat beberapa luka di badannya.
Di Instalasi Forensik RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar, Minggu (17/7), Kasat Reskrim Polres Samosir AKP Aldi Alfian melalui anggotanya bermarga Marbun membenarkan kejadian itu.
“Peristiwa bermula saat semua penumpang speed boat dan banana boat terhempas ke dalam air. Kita menduga, mungkin saat kapal berbalik arah, si nahkoda tak memperhatikan penumpang. Akhirnya baling-baling boat itu mengenai korban dan ayahnya,” kata Marbun menduga.
Dia menjelaskan, korban dan ayahnya sempat dilarikan ke RSU Hadrianus Sinaga di Pangururan. Hanya saja, nyawa korban tak tertolong lagi dan meninggal dunia saat di perjalanan.
“Sedangkan ayahnya hingga kini masih dalam perawatan,” aku Marbun.
Untuk mengetahui pasti penyebab meninggalnya korban, jenazah Yufi pun dibawa ke Instalasi Forenaik RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar untuk diotopsi. Namun sesampainya di kamar jenazah, keluarga berubah pikiran dan tidak setuju jika jasad Yufi diotopsi.
“Itulah kami yang gak tau Bang. Sewaktu di sana mereka minta kasusnya diusut. Saat itu kami bilang, untuk kepentingan penyidikan jasad korban harus diotopsi. Tetapi sewaktu sampai di sini mereka gak setuju,” katanya.
Terkait pembatalan otopsi itu, pihak keluarga pun sudah menandatangani surat pernyataan.
“Mereka sudah setuju jasad korban hanya divisum luar saja,” sebut Marbun
Sementara dr Reinhard Hutahaean, Kepala Instalasi dan Kedokteran Forensik RSUD Dr Djasamen Saragih Pematangsiantar, membenarkan hal itu.
“Kita hanya melakukan visum luar. Tidak jadi otopsi karena keluarga korban tidak setuju,” sebut Reinhard.
Beberapa luka korban, lanjutnya, berada di bagian tubuh sebelah kiri, disebabkan benda setengah tajam.
“Lukanya ada di bagian kiri, mulai dari kepala, leher, badan serta paha. Karena tidak diotopsi, luka bagian kepala yang diduga menjadi penyebab kematian korban,” jelasnya.
Sebelumnya Apri Purba (20) meninggal dunia usai tenggelam di kawasan Pantai Grace, Tiga Ras, Kecamatan Dolok Pardamean, Simalungun, Rabu (6/7) sekira pukul 14.00 WIB.
Peristiwa yang dialami warga asal Huta Godang, Desa Batu Horik, Batang Toru, Tapanuli Selatan, berawal saat ia dan rekan-rekannya rekreasi ke Pantai Grace.
Begitu tiba di sana sekira pukul 13.00 WIB, pria yang menetap di Jalan Kartini Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, ini bersama rekan-rekannya langsung makan siang. Selanjutnya Apri bersama seorang temannya, Renaldy Sipayung (16) berenang dengan bantuan sebuah pelampung.
Namun tiba-tiba, kedua pria yang sedang berada sekitar 30 meter dari bibir pantai, terlepas dari pelampung. Menurut saksi mata, keduanya sempat berusaha mengejar pelampung yang terlepas. Namun upaya mereka tak berhasil. Korban pun sempat berteriak minta tolong sebelum akhirnya tenggelam.
Warga sekitar yang berada di sekitar lokasi, berusaha membantu dengan membawakan dua buah pelampung. Reynaldi yang saat itu berusaha mengapung, berhasil meraih pelampung itu. Namun tidak bagi Apri. Ia pun tak berhasil diselamatkan.
Petugas yang mendapat informasi, langsung melakukan pencarian. Bersama-sama dengan warga, penyelam dari PT JAPFA dan PT Aquafarm, mereka mengitari lokasi tenggelamnya korban. Namun hari itu, Apri tetap tidak ditemukan.
Pada Kamis (7/7) pencarian kembali dilanjutkan.
Di bawah komando Koordinator Pos Basarnas Danau Toba, Torang Hutahean, 6 orang penyelam mengenakan peralatan renang dan oksigen turun ke dasar danau. Sekira pukul 11.00 WIB, Apri ditemukan sudah tak bernyawa dari dasar danau dengan kedalaman 35 meter yang berjarak sekitar 75 meter dari bibir pantai. Kondisi jenazah saat itu masih mengenakan pakaian lengkap sebelum ia tenggelam.
Sebulan sebelumnya, tepatnya 1 Juni lalu, seorang siswi SMP Satu Atap Rianiate, Kabupaten Samosir tenggelam di Danau Toba saat mandi bersama teman-temannya.
Petugas tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Samosir, Sabar Malau saat itu mengatakan, peristiwa terjadi sekitar pukul 17.30 WIB di Desa Rianiate, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, tepatnya di Pantai Tolping.
Sedangkan pada Kamis (23/6) lalu, Angle Br Lumbantungkup, seorang siswi SMP juga tenggelam di pantai sekitar Pelabuhan Kecamatan Nainggolan.
Fredy Tulus Lumbantungkup, salah seorang keluarga korban yang dihubungi melalui telepon selulernya, menjelaskan kronologi kejadian tenggelamnya korban. Pada hari kejadian, korban bersama tiga rekannya yang sama-sama sekolah di SMP Kecamatan Nainggolan, datang ke pantai untuk berfoto-foto, dilanjutkan dengan mandi di danau. Korban dan rekannya tiba sekitar pukul 11.00 WIB.
Entah kenapa, kemudian korban dikabarkan tenggelam kepada warga kampung sekira pukul 12.00 WIB. (kn-ms)







