Home / Arsip / Arsip 2016 / Berita / Internasional / Reviews

Senin, 25 April 2016 - 10:20 WIB

Ini Milisi Filipina yang Bantu RI Bebaskan Sandera dari Abu Sayyaf

Viewer: 1069
0 0
Terakhir Dibaca:2 Menit, 29 Detik

Sebuah kabar mengejutkan datang dari Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF). Kelompok pemberontak yang berkuasa di selatan Filipina itu bersedia terlibat pembebasan sandera Abu Sayyaf. Padahal, kelompok tersebut merupakan induk dari rangkaian pemberontakan yang dilakukan minoritas Muslim di Moro dan sekitarnya.

Kesediaan MNLF itu disampaikan Ketua Kelompok Advokasi Moro Samsula J Adju. Dia mengatakan pihaknya fokus melobi Abu Sayyaf supaya sandera asal Indonesia dibebaskan tanpa harus membayar tebusan ataupun dilukai. Apalagi, pejuang Moro mengenal beberapa pentolan militan di selatan Filipina, sehingga komunikasi nonformal diandaikan lebih mudah.

“Kami siap terlibat dalam keseluruhan proses pembebasan sandera,” ujarnya seperti dilansir Inquirer, Minggu (24/4).

MNLF merupakan gerakan separatis Muslim Moro untuk melepaskan diri dari pemerintahan Filipina. Mereka menggunakan taktik gerilya dan kekerasan untuk mendapatkan tujuannya, yakni mendirikan negara Islam.

Moro berasal dari etnis Mindanao yang menempati bagian selatan kepulauan Filipina. Kelompok ini memulai pemberontakannya sejak 1973 di masa pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos.

MNLF membentuk pasukan perlawanan dengan sangat terorganisir, yang dikenal dengan nama Angkatan Bersenjata Bangsa Moro, dengan 30 ribu orang yang bergabung dan menjadi terkuat di 1970an.

Baca Juga  Permudah Akses Keluar Masuk Desa, Satgas Pamtas Yonif Mekanis 643/Wns Bantu Pengecoran Jalan Desa Di Perbatasan.*

Pada 1975, Marcos menyebut keluhan perekonomian sebagai alasan untuk menyerang pemilik tanah yang notabene dikuasai kaum Kristen. NMLF juga pernah menolak mentah-mentah tawaran otonomi dari pemerintah dan terus berjuang untuk berpisah dari pemerintahan Filipina.

MNLF istimewa

Namun, tindakan boikot yang dilakukan MNLF telah memberikan kontrol legislatif terhadap Gerakan Rakyat Nasional. Organisasi ini secara perlahan melemah dengan pelbagai perpecahan hingga membentuk faksi-faksi, yang membela kelompok ini menjadi Front Pembebasan Islam Moro (MILF) and Organisasi Pembebasan Bangsa Moro.

pada 1981, pemerintah Filipina menggelar operasi penegakan hukum, kondisi itu membuat aktivitas gerilya kembali meningkat. Pada Februari 1981, MNLF menyerbu pasukan pemerintah dan membunuh lebih dari 120 pasukan. Bersamaan dengan itu, mereka juga menculik pastur Katolik Roma, orang asing dan lainnya untuk dijadikan sandera dengan tebusan.

MNLF istimewa

Lima tahun kemudian, Marcos digulingkan secara paksa. Presiden baru, Corazon Aquino dan pimpinan MNLF Nur Misuari sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Baru pada Januari 1987 setuju untuk menurunkan tuntutannya sebagai negara merdeka dan menerima sistem otonomi.

Baca Juga  Prajurit Satgas Pamtas Yonif 645/Gty Karya Bhakti Pengecatan Masjid Al Kautsar Bersama Warga Perbatasan

MILF menolak kesepakatan itu, alhasil perundingan sempat berhenti. Pada 1988 MNLF kembali melanjutkan gencatan senjata. Namun, negosiasi yang tertunda membuat pertempuran kembali terjadi hingga mendorong pemerintah untuk menggelar referendum, hasilnya seluruh warga setuju untuk menerima sistem otonomi bagi Muslim Mindanao pada 1990.

Keterlibatan Indonesia dalam proses perdamaian dengan Filipina membuat MNLF berutang budi pada pemerintah Indonesia yang pada 1996 menjadi fasilitator proses perundingan damai antara kelompok separatis itu dengan utusan Manila. Berkat perundingan tersebut, MNLF kini mengelola kawasan otonomi khusus di sisi selatan Filipina yang penduduknya mayoritas Islam.

Pemimpin MNLF, Nur Misuari, juga dikenal dekat dengan petinggi Abu Sayyaf. Salah satu komandan Abu Sayyaf yang diduga mengotaki penculikan ABK asal Indonesia adalah Alhabsi Misaya. Dua dekade lalu, Misaya pernah menjadi komandan pasukan tempur MNLF.

Setelah bertahun-tahun bertempur, Misuari terpilih sebagai gubernur otonomi khusus. Namun, bentrok antara MNLF dan pemerintah masih terus berlangsung. Selama tiga dekade, setidaknya 100 ribu orang telah tewas pelbagai pertempuran antara kedua belah pihak (mdk|dwk)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Dwi Hartono Otak Pembunuhan Kacab Bank Residivis Kasus Pemalsuan Ijazah

Berita

Ahli Hukum Tata Negara: Sudah Profesional Polisi Hentikan Kasus Arteria Dahlan

Berita

Mantan Kapolrestabes Medan Jadi Wakapolda Sumut

Berita

Wagub Kalbar Apresiasi Vaksinasi Melenial di Singkawang

Berita

Gerak Cepat Kapolresta Pontianak, Saat Membantu Salah Seorang Massa Aksi Yang Pingsan Saat Demo 

Berita

HUT Bhayangkara ke-76 Dandim 1206/PSB Berikan Surprise Kepada Kapolres Kapuas Hulu

Arsip

Tersangka Sebut Anggota DPRD Bandar Sabu

Berita

Subdenpom XII/1-2 Sanggau Pantau Arus Mudik di Pospam Terpadu Satgas Covid-19 Mukok*