Kasus pengeroyokan Ustadz Solmed di kawasan Serang Timur, Banten pekan lalu masih menyisakan banyak tanda tanya.
Pria bernama lengkap Soleh Mahmoed Nasution sempat membantah adanya insiden itu. Namun, akhirnya dia menggelar jumpa pers untuk mengklarifikasi kasus pengeroyokan tersebut.
“Ini menyangkut nyawa, pengalaman seumur hidup yang baru saya alami. Teriakan keluar itu bunuh, bantai Solmed. Ini perkara serius,” kata Ustaz Solmed di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Rabu (11/5).
Ustaz kondang yang didampingi kuasa hukumnya, Hendra Heriyansya pun menceritakan kronologi kejadian pengeroyokan itu.
Menurut Ustadz Solmed, dia mendapat undangan berceramah di Serang Timur, Banten. Namun tanpa koordinasi yang baik, setelah tiba di lokasi, dia diminta pindah karena alasan perubahan.
Nah, dari perubahan lokasi tersebut dia membutuhkan waktu yang lama untuk sampai.
“Saya keluar Cilegon Timur, saya tanya tiga kilometer, paling sepuluh menit. Saya ketemu panitia di sana tapi setengah jam nggak nyampe-nyampe, sampai satu setengah jam nggak sampai juga,” jelasnya.
“Saya bingung, orang yang jemput dan orang yang di lapangan enggak ada komunikasi,” sambung pria 32 tahun itu.
Setelah perjalanan lebih dari satu setengah jam, akhirnya Ustadz Solmed tiba di lokasi. Namun jemaah telah membubarkan diri.
Dan secara mengejutkan tiba-tiba dia dikelilingi banyak orang. Ustadz Solmed pun berusaha membuat rombongan itu tenang dan menjelaskan alasan terlambat.
“Saya sampaikan saya terlambat karena panitia tiga kali mengubah tempat sampai di Karang Bolong. Habis itu sudah kita malah foto-foto,” ceritanya.
Tanpa diduga, setelah itu Ustaz Solmed mengaku dihadang sejumlah pria berbadan besar dan tegap saat turun dari Masjid.
“Di depan ada orang yang nunggu, tangan gede, dia lipat tangan. Itu yang jadi komando. Setelah itu keluarlah anggotanya bawa balok dan lain-lain. Alhamdulillah jemaah mengawal saya sampai mobil,” jelasnya panjang lebar.
Karena ada oknum seperti itu, Utadz Solmed pun berkesimpulan kasus ini merupakan kasus yang serius. Sehingga harus ditindaklanjuti. “Ini bukan kekecewaan. Ini sudah didesain,” tukasnya (pjkst|dwk)





