Viewer: 864
0 0

Home / Berita / Daerah

Rabu, 3 Juni 2020 - 20:41 WIB

Surabaya Jadi Zona Hitam COVID-19! Apa Artinya?

Viewer: 865
0 0
Terakhir Dibaca:3 Menit, 9 Detik

Kompasnasional | Surabaya menjadi salah satu kota dengan kasus terbanyak di Indonesia. Jumlah kasus positif COVID-19 di Surabaya pun kian hari terus meningkat.

Dalam situs tersebut, Kota Pahlawan digambarkan sebagai zona hitam. Coba saja akses lewat situs resmi pemprov Jatim, daerah Surabaya warnanya hitam. Apa maksud zona hitam di peta tersebut?

Ini Arti Zona Hitam Pada Peta Persebaran COVID-19 di Surabaya

Mungkin selama ini Anda mengetahui bahwa daerah yang terkena COVID-19 parah atau jumlahnya banyak, zona tersebut akan digambarkan dengan warna merah. Akan tetapi, khusus daerah Surabaya, ternyata sudah berwarna hitam.

Lalu, apa arti warna Surabaya menjadi hitam? Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menjelaskan, peta tersebut sebenarnya menunjukkan warna merah tua (agak kehitaman) akibat banyaknya laporan jumlah kasus COVID-19.

Menurut Khofifah, warna merah tua yang merujuk hitam itu terjadi jika angkanya sudah 2000 lebih kasus.

“Kemudian ada yang tanya, itu (di peta), kok, ada yang hitam. Itu bukan hitam tapi merah tua. Seperti Sidoarjo yang angka kasusnya 500 sekian merah sekali, kalau angkanya dua ribu sekian (seperti di Surabaya) merah tua,” kata Khofifah.

Mengutip dari situs resmi infocovid19.jatimprov.go.id, orang yang masuk dalam status positif adalah 2748 orang. Ini belum lagi yang masuk dalam berbagai kategori.

Misalnya Orang Dalam Risiko (ODR) ada 5414 orang, Orang Tanpa Gejala (OTG) 3334, Orang Dalam Pengawasan (ODP) 3771, dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 3083 orang.

Baca Juga  POLISI TOBA TANGKAP 2 OKNUM POLISI TERKAIT NARKOBA JENIS SHABU

Surabaya sebenarnya menjadi “wajah” Jatim terkait COVID-19. Jatim sendiri menjadi provinsi kedua tertinggi dengan kasus positif COVID-19.

Berdasarkan data, sampai saat ini sudah ada 5132 kasus positif di Jatim. Dari jumlah itu, pasien yang masih menjalani perawatan yakni berjumlah 3.989 orang, atau setara dengan 75,18 persen jika ditotal keseluruhan kasus.

Penambahan 221 kasus di Jatim tersebar di beberapa daerah yaitu 2 dari Pasuruan, 19 dari Sidoarjo, 5 dari Kediri, 5 dari Gresik, 7 dari Lamongan, 7 dari Pamekasan.

Kemudian 2 dari Jember, 3 dari Mojokerto, 11 dari Bangkalan, 7 daru Tuban, 11 dari Sampang, 115 dari Surabaya dan 27 kasus dalam verifikasi domisili.

Meski begitu, jumlah pasien sembuh dari infeksi virus corona di Jatim juga bertambah. Pada Selasa (2/6), tercatat ada sekitar 100 pasien yang tadinya positif kini terkonversi statusnya menjadi negatif COVID-19.

Catatan ini menjadi sebuah kabar gembira tersendiri bagi Jatim. Data ini adalah catatan tertinggi jumlah pasien sembuh harian di Jatim. Dengan demikian jumlah pasien covid-19 yang sembuh di Jatim mencapai 799 orang, atau setara dengan 15,57 persen.

“Untuk Jatim bisa sembuh lebih dari 100 orang ini patut kita apresiasi. Dengan demikian ada kenaikan recovery rate dari 13 persen menjadi 15,7 persen,” kata Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuhadi, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (2/6) seperti dikutip dari CNNIndonesia.

Baca Juga  Siapkan 120 Orang Putra-Putri Terbaik Simalungun, Kacabdis Siantar Hadiri Pembukaan Persiapan Ausbildung Jerman

Terkait kasus sebaran COVID-19 yang masih banyak di Jatim, secara khusus di Surabaya, Wali Kota Tri Rismaharini menyebut Kota Pahlawan masih jauh dari New Normal.

Hal ini berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. Mantan Menteri Sosial itu menyebut warga Jatim harus mulai terbiasa dengan New Normal.

“Nanti saja, belum saatnya. Nanti minggu depan saja kita lihat,” kata Risma kepada awak media di Balai Kota Surabaya, Selasa (26/5), masih dilansir dari CNN Indonesia.

“Karena ini para tenaga medis masih berjuang, karena nanti insyaallah saya akan sampaikan,” Risma menambahkan.

Wajar jika Risma mengatakan New Normal masih belum bisa dilakukan oleh Surabaya. Pasalnya, salah satu syarat New Normal adalah bisa mengendalikan COVID-19.

“Salah satu syarat New Normal kan harus mengendalikan COVID-19. Kalau sekarang ini kurvanya naik dan belum dikendalikan, jadinya agak was-was juga kalau sudah mulai diterapkan New Normal,” ujar dr. Devia Irine Putri.

Kasus di Jatim, Surabaya secara khusus, menjadi perhatian kita semua. Ibu kota Jatim itu menjadi daerah dengan kasus yang cukup banyak. (KD/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Bupati Tapanuli Utara Resmikan Jembatan Ir.Soekarno Desa Lobu Sihim Kecamatan Simangumban.

Berita

Resmikan Tower Baru RSUD Soedarso, Presiden Tekankan Pentingnya Peningkatan Sistem Kesehatan di Tanah Air

Berita

Sat Resnakoba Polres Tapteng Ciduk Pengedar Narkotika Disaat Santai Menunggu PemesanĀ 

Berita

Tim Gabungan Prokes Tapsel Lakukan Operasi Di Pusat Pasar Sipirok

Berita

BEM SI Sebut Aksinya Damai dan Aspirasi Tersampaikan Dengan Baik

Berita

Ahli Ungkap Ledakan Besar Di Beirut Setara Dengan Kekuatan Gempa 3,3 M

Berita

Siapakah Ibrahim Arief yang Jadi Tersangka Korupsi Chromebook?

Berita

PT Lucky Mengakui Terima Impor 125 Ton Jeruk Mandarin Diduga Hasil Selundupan