Home / Berita / Daerah / Nasional / Reviews

Senin, 30 April 2018 - 11:08 WIB

Ribuan Masyarakat Antar Jenazah KH. Nahduddin Royandi Abbas (Mbah Din) ke Tempat Pemakamannya

Ribuan masyarakat mengantar jenazah KH. Nahduddin Royandi Abbas (Mbah Din) diantar ke tempat pemakamannya, Minggu (29/4). (Wildan Ibnu Walid/JawaPos.com)

Ribuan masyarakat mengantar jenazah KH. Nahduddin Royandi Abbas (Mbah Din) diantar ke tempat pemakamannya, Minggu (29/4). (Wildan Ibnu Walid/JawaPos.com)

Viewer: 848
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 53 Detik

KompasNasional.com,Surabaya – Ribuan orang memadati sekitar kompleks Masjid Buntet Pesantren menyambut kedatangan jenazah KH. Nahduddin Royandi Abbas (Mbah Din), Minggu (29/4) malam. Mereka mengiringi kepergian kiai putra terakhir salah satu tokoh sentral pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Saat jenazah tiba di lokasi, suasana duka menyelimuti para ulama sesepuh pondok pesantren, tokoh masyarakat dan ribuan santri.

Jenazah Mbah Din sampai di Buntet Pesantren sekitar pukul 21.00 WIB. Tak lama kemudian, jenazah langsung di salatkan dan selanjutnya dimakamkan di pemakaman keluarga.

Menginjak usia ke-84 tahun, Mbah Din wafat setelah beberapa hari terakhir menjalani perawatan intensif di rumah sakit Barnet Community Hospital, London, Inggris, Rabu (25/4) lalu.

Mbah Din, merupakan putra terakhir dari satu di antara lima ulama kharismatik Jawa Barat, Kiai Abbas bin Abdul Jamil, seorang kiai yang dikenal punya kesaktian yang luar biasa saat menghadapi tentara kolonial Belanda.

Baca Juga  KNKT Rilis Laporan Lion Air JT-610, Ini Respons Boeing

Menurut keponakan Mbah Din, KH Ayip Abbas mengatakan, pamannya itu adalah sosok yang penuh ikhlas dalam menjalani hidup. Figur Mbah Din sendiri dikenal sebagai santri yang suka berkelana. Bahkan, Mbah Din sendiri adalah sosok ulama yang melampaui zamannya, karena mampu memadukan antara keislaman dan barat.

Ia mengaku sangat kehilangan atas kepergian pamannya. Selain selalu mengajarkan nilai-nilai akhlakul karimah, Mbah Din adalah ulama yang mampu berdakwah di tengah masyarakat Eropa, khususnya di Inggris.

“Kami (keluarga) sangat kehilangan beliau. Mbah Din banyak menghabiskan waktunya untuk berdakwah dan belajar. Mbah Din sempat nyantri di Mekkah, hingga berdakwah di Inggris,” ujarnya.

Kepergian akibat penyakit komplikasi yang dideritanya, Mbah Din meninggalkan satu anak bernama Buyung Nahdi Sastra Prawira Abbas atas pernikahannya dengan perempuan dari Prancis dan telah meninggalkan dua cucu.

Baca Juga  Lapangan Jambaran-Tiung Biru diperkirakan sumbang Rp 48 triliun hingga 2035

Di tempat yang sama, Sekjen PBNU, Helmi Faisal Zaini menyampaikan rasa belasungkawa sebesar-besarnya atas kepergian KH. Nahduddin Royandi Abbas. Mendengar kabar wafatnya Mbah Din, PBNU langsung menghubungi pihak Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar (Kedubes) ada di Inggris.

Disampaikannya, sosok mendiang Mbah Din adalah sosok teladan bagi seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU). Sumbangsih peran besar Mbah Din untuk dunia Islam dan Indonesia adalah, selain mengenalkan kehidupan pesantren, Mbah Din adalah pemarkasa pendirian masjid-masjid di jantung Kota London, Inggris.

“Beliau adalah panutan kami. Guru kami. Sosok yang ikhlas, beliau juga orang yang berlapang dada, beliau bisa nerima saran dari siapa pun,” ujarnya.(JPC/TR)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Menteri Nadiem Puji Kepala Sekolah Terapkan Sekolah Penggerak di Pontianak 

Berita

Dirut PLN: Melalui PMN, Kami Mendapat Mandat Mulia Menyediakan Listrik Bagi Rakyat di Daerah 3T

Berita

DPP DJM 1 Kali Lagi Lantik DPW Sulawesi Utara

Berita

Direktur RSUD dr Hadrianus Sinaga Dilantik

Berita

Anggota Polsek Putussibau Selatan Siaga Banjir Dengan Cek Debit Air Sungai

Berita

Wawako P.Sidempuan Hadiri Rapat Percepatan Penurunan Stunting

Berita

PASOKAN BBM JENIS SOLAR DI TOBA TERKENDALA SISTEM BPH MIGAS

Berita

Anak Jadi Tersangka Ibu Rasmi Sipayung dan Binsar Aruan : Memohon Keadilan ke Kejari Siantar