Home / Kreatif

Kamis, 25 Maret 2021 - 14:32 WIB

Perajin Tas Etnik Lungsin Menanti Sambutan Pasar Global

Viewer: 477
0 0
Terakhir Dibaca:2 Menit, 30 Detik

Kompasnasional l “Selama pandemi Covid-19 ini memang tidak mudah bagi semua orang, termasuk kami. Sebelum pandemi, kami bisa menjual 80-100 produk. Sementara produksi sekitar 120 item. Biasanya ada pesanan dari korporat buat hadiah pemberian, sekarang tidak ada sama sekali. Nyatanya orang kan juga tidak bisa ke luar rumah, jadi tas juga jarang dipakai. Tapi kami coba mempertahankan resources, bahkan saya tidak mengurangi pegawai. Syukurlah, usaha masih bisa berjalan,” tambahnya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata lungsin berarti “benang yang membujur pada barang tenunan”. Bagi Aulia, wastra nusantara atau kain tradisional bukan hal asing, yang baru dikenal hitungan bulan. Sejak kecil, dia mengenal bisnis batik dari almarhum nenek dan paman di Pekalongan dan Yogyakarta.

“Jadi selama pandemi ini, ada lebih banyak waktu untuk riset. Kami bisa berkolaborasi dengan perajin yang berbeda. Sebelumnya, kami kerap diburu waktu sehingga kurang sempat eksplorasi material dan kain dari daerah lain,” ujarnya.

Aulia mengaku tekanan bisnis yang berkurang memberi “ruang” riset tim kreatif Lungsin. Jika sebelumnya kain diambil dari pameran, Lungsin mulai memesan kain tenun dengan permintaan yang spesifik. Dari segi produksi, penjahit akhirnya juga punya waktu leluasa.

Baca Juga  Kreatif, Pemuda Ini Sulap VW Kodok Klasik Jadi Mobil Listrik

“Selama pandemi Covid-19 ini, kami angkat lagi kain songket dari Sambas dan kain tenun Palembang. Kain tenun, jika kami menginginkannya, baru selesai dua bulan lagi. Kadang perajinnya baru bekerja di luar musim tanam atau musim panen. Produksi kain seperti ini memang perlu waktu,” ujarnya.

Meskipun fokus di pasar lokal, Aulia tetap ingin mengincar pasal global. Beberapa kali, Lungsin diperkenalkan di sejumlah pameran kelas internasional. Tahun 2016, produk Lungsin pernah dipamerkan di Hong Kong, London, dan New York. Sementara tahun 2019, Aulia juga menjajaki peluang di Manila.

“Dapat pasar ekspor sih belum, tapi kami lumayan rajin ikut pameran. Kalau diajak, kami selalu ikut biasanya untuk tujuan cek market, branding dan cari ide. Saya penasaran juga market di luar itu maunya seperti apa? Di tiap daerah kan demandnya beda-beda,” tambahnya.

Mengelola produk dengan wastra nusantara tergolong gampang-gampang susah. Menurut Aulia, dari segi material, kain tradisional punya sejumlah tantangan. Soal bahan baku, masalah warna ternyata tidak mudah.

Baca Juga  Lure Buatan Guru SD di Purworejo Tembus Pasar Mancanegara

“Kadang kami ada yang kurang cocok, mereka suka pakai warna alam. Kalau lurik, kami beli yang sudah jadi saja, kami nggak order, kain lurik sendiri itu sudah lumayan bervariatif. Kalau kain songket itu custom, kami kasih warna-warna yang soft doft.

Untuk kain songket, perajin memang punya standar benang emas. Tapi kami di Lungsin ingin warna benang emasnya yang tidak mencolok, dan bright jadi kami ambil warna emasnya dari India dan Jepang, lalu kami kasih ke perajin,” tambahnya.

Setelah situs resmi Lungsin agar memperluas pasar, Aulia masih menyimpan satu idealisme yang belum terealisasi yakni mengeksplorasi kain batik untuk produk tas Lungsin. Dengan keanekaragaman jenis batik, dia melihat potensi besar di masa depan.

“Tapi buat saya, batik itu kan teksturnya tipis. Tidak seperti lurik. Jadi ya lumayan menantang untuk dipadukan di tas. Baiknya juga model seperti apa? Batiknya apa? Pokoknya ekplorasi wastra nusantara juga masih terlalu luas. Nggak tertutup kemungkinan bisa saja ke depan nanti,” ujarnya menutup wawancara. (BS/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Kreatif

Pilpres Amerika 2020, Astronaut NASA Berikan Suara dari Luar Angkasa

Arsip

Pria Ini Sulap Bangkai Mobil Jadi Barang Mewah Senilai Rp 96,9 Juta

Kreatif

Unik, Mahasiswa Unair Ciptakan Masker Antivirus dari Limbah Udang

Kreatif

Garuda Jadi Maskapai dengan Protokol Kesehatan Terbaik di Dunia

Kreatif

Profesor Indonesia Raih Penghargaan Dosen Terbaik dari Universitas Jerman

Kreatif

Mengubah Limbah Bahan Beracun Dan Berbahaya Menjadi Bukit Teletubbies Indah Menghijau

Berita

Jelang MTQ Nasional XXVII 2018, Pemprov Sumut Turunkan Ratusan Abang Becak untuk Ikut Mensosialisasikan

Kreatif

Masker Batik Bantu Eropa Cegah Corona