Home / Kreatif

Kamis, 22 Juli 2021 - 09:38 WIB

Unik, Mahasiswa Unair Ciptakan Masker Antivirus dari Limbah Udang

Viewer: 389
0 0
Terakhir Dibaca:2 Menit, 2 Detik

Kompasnasional l Dalam kondisi pandemi Covid-19, penggunaan masker sangat dianjurkan untuk mencegah penularannya.

Bahkan dengan adanya Covid-19 varian Delta, masyarakat dianjurkan untuk menggunakan dobel masker.

Melihat kebutuhan masyarakat terhadap masker ini, lima mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) menghadirkan inovasi Chitomask.

Chitomask ini merupakan produk masker kain filter antibakteri dan antivirus yang ramah lingkungan dari limbah kulit udang.

Kelima mahasiswa itu adalah Reza Istiqomatul Hidayah mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan, Muhammad Rizky Widodo dan Salsabila Farah Rafidah mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat. Serta Ardelia Bertha Prastika mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Firman Hidayat mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi.

Dilansir dari laman Unair, Rabu (21/7/2021), inovasi dari kelima mahasiswa ini lolos dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dan mendapatkan pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Ditjen Dikti Kemendikbud Ristek) tahun 2021.

Baca Juga  Tanjungbalai Pamerkan Olahan Kerang di Gebyar Kerajinan Sumut

Sebelum mendapat pendanaan ini, mereka sudah sering menjuarai ajang kompetisi hingga pernah meraih medali silver pada skala internasional.

Bisa memberikan proteksi lebih
Para mahasiswa ini membuat inovasi Chitomask juga lantaran varian Covid-19 lebih menular sehingga diperlukan proteksi lebih.

Chitomask bisa memberikan proteksi tambahan dengan filternya yang memiliki kemampuan antivirus dan antibakteri.

Terutama komposisi bahannya yang biodegradable atau mudah terurai secara alami sehingga bisa meminimalkan limbah masker saat pandemi Covid-19. Meski berasal dari limbah udang, model Chitomask tetap dibikin trendy.

CEO Chitomask Ardelia Bertha Prastika mengatakan, produknya bisa terurai dalam kurun waktu yang pendek.

“Chitomask ini tidak merusak lingkungan, untuk terurainya pun paling lama satu bulan,” ucapnya.

Dalam prosesnya, Ardelia mengaku tahap pra-produksi dan produksi membutuhkan waktu lima hari.

“Sebelum PKM kami didanai, kami sudah meneliti kain apa yang compatible untuk filter. Jadi prosesnya kitosan (limbah kulit udang) dibuat gel terlebih dahulu hingga menunjukkan warna bening dan konsentratnya mengental,” ungkap dia.

Baca Juga  Kreatif, Pemuda Ini Sulap VW Kodok Klasik Jadi Mobil Listrik

Tim Chitomask menyebut beberapa keunggulan kitosan, antara lain senyawanya tidak beracun, tidak mengandung protein pemicu alergi, sebagai bahan alami yang biokompatibilitas, bioaktivitas dan keamanan biologis yang tinggi.

“Kami juga mendukung beberapa ketercapaian SDGs, salah satunya SDGs ke-14 mengenai life below water yang mencegah segala bentuk polusi kelautan,” imbuhnya.

Menurut Ardelia, dampak kesehatan dan lingkungan harus secara simultan ditangani bersama. Artinya tidak dianggap satu lebih penting daripada yang lain. Dia berharap, kedepannya masyarakat bisa bijak dalam bersikap.

“Harus diingat kita hidup berdampingan dengan lingkungan. Pandemi Covid-19 bisa saja selesai, tetapi jangan sampai lingkungan menimbulkan persoalan baru,” pungkas Ardelia.

Produk dengan tagline #LindungiKamudanBumimu memiliki kisaran harga mulai Rp 15.000 hingga Rp 32.000. (KC/Red)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Kreatif

Ingin Jadi Pengusaha Handal ? Tanamkan Mindset ini

Kreatif

Kreatif, Pemuda Ini Sulap VW Kodok Klasik Jadi Mobil Listrik

Arsip

Pria Ini Sulap Bangkai Mobil Jadi Barang Mewah Senilai Rp 96,9 Juta

Kreatif

Namanya Cuma Satu Huruf, Gadis Asal Yogyakarta Ini Viral Hingga ke Luar Negeri

Kreatif

Film pendek karya anak bangsa, “Crazy Fast Indonesian” Viral

Kreatif

Berkat Kekuatan Musik, Ex-Balerina Penderita Alzheimer Ini Jadi Ingat Gerakan Tariannya

Kreatif

Ini Pradesain Istana Negara di Ibu Kota Baru Karya Nyoman Nuarta

Kreatif

Dikira Petani Milenial, Pemuda di Tangerang Ternyata Tanam 47 Pohon Ganja di Rumahnya