Kompasnasional l Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan lebih dari 2 juta bayi di bawah usia 5 tahun di Yaman akan mengalami kekurangan gizi akut parah pada 2021.
Seperti dilaporkan AP, Sabtu (13/2), laporan PBB memperingatkan bahwa hampir satu dari enam anak-anak Yaman itu yakni 400.000 dari 2,3 juta jiwa, berisiko meninggal dunia.
Angka-angka ini adalah seruan lain untuk bantuan dari Yaman, di mana setiap anak yang kekurangan gizi juga berarti keluarga yang berjuang untuk bertahan hidup,” kata David Beasley, direktur eksekutif Program Pangan Dunia (WFP), yang bersama-sama menerbitkan laporan tersebut dengan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Unicef dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pada Jumat (12/2), empat badan PBB mendesak para pemangku kepentingan untuk mengakhiri konflik selama bertahun-tahun yang telah membawa negara termiskin di dunia Arab itu ke ambang kelaparan.
Laporan itu juga mengatakan kekurangan dana menghambat program kemanusiaan di Yaman, karena negara-negara donor gagal memenuhi komitmen mereka.
Kondisi krisis Yaman semakin parah karena, sekitar 1,2 juta wanita hamil atau menyusui di Yaman juga diproyeksikan mengalami kekurangan gizi akut tahun 2021 ini.
“Krisis di Yaman adalah campuran beracun dari konflik, keruntuhan ekonomi dan kekurangan dana yang parah,” kata Beasley.
Pada tahun 2020, menurut laporan PBB, program kemanusiaan di Yaman hanya menerima US$ 1,9 miliar (Rp26,5 triliun) dari kebutuhan US$ 3,4 miliar (Rp47,5 triliun).
Unicef memperkirakan bahwa hampir semua dari 12 juta anak Yaman membutuhkan semacam bantuan. Bantuan ini dapat mencakup bantuan makanan, layanan kesehatan, air bersih, bantuan sekolah dan uang tunai untuk membantu keluarga yang paling miskin bertahan hidup.
Orang Yaman telah mengalami enam tahun pertumpahan darah, kehancuran, dan bencana kemanusiaan. Pada 2014, pemberontak Houthi sekutu Iran merebut ibu kota dan sebagian besar utara negara itu.
Koalisi yang dipimpin Saudi meluncurkan intervensi militer besar-besaran beberapa bulan kemudian untuk memulihkan pemerintah yang didukung PBB. Meskipun serangan udara Saudi tanpa henti dan blokade Yaman, perang tersebut menemui jalan buntu.(BS/Red)








