kompasnasional.com | TEBINGTINGGI – Ribuan warga memadati Lapangan Merdeka Kota Tebingtinggi, nonton bareng (Nobar) pemutaran kembali film Penghianatan G.30/S PKI, Senin (25/9/2017).
Warga dari berbagai tingkat usia yang jumlahnya mencapai seribuan lebih datang dari tiap penjuru kota tersebut memadati lapangan yang telah disiapkan panitia pelaksana dua layar proyektor berukuran besar.
Persis pukul 20.30 WIB, usai sambutan tokoh masyarakat Kota Tebingtinggi Burhanuddin Harahap yang menceritakan kronologi singkat sejarah PKI. Pemutaran ini di prakarsai Kodim 0204/DS dan Disdik Kota Tebingtinggi.
Pemutaran film dokumenter ini mendapat tanggapan positif dari salah seorang tokoh muda Kota Tebingtinggi Wahyu Syam yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan pihak Panpel, merupakan contoh konkrit yang positif dan perlu menjadi perhatian serius bagi para generasi muda, pada sejarah di negeri ini.
“Kekejaman PKI di masa itu bukanlah suatu tindakan yang di benarkan dan kita harus ingat pesan Presiden Sukarno, jangan pernah meninggalkan sejarah,” ujar Wahyu.
Cuaca mendung sepertinya tidak mempengaruhi warga dalam menyaksikan film Penumpasan Penghianatan G 30 S PKI.
Walaupun kursi yang disediakan panitia tidak mencukupi, namun antusias warga untuk menyaksikan film ini cukup besar, bahkan ada yang rela harus duduk bersila ditanah tanpa alas.
Film docudrama propaganda ini di produksi pada tahun 1984. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Alm Arifin C Noer diproduseri oleh G Dwipayana. Diproduksi selama dua tahun dengan anggaran sebesar Rp800 juta kala itu, film ini disponsori oleh pemerintahan Presiden Suharto.
Film yang dibuat berdasarkan pada versi resmi menurut pemerintah kala itu dari peristiwa Gerakan 30 September atau yang lebih di kenal dengan sebutan peristiwa percobaan kudeta pada tahun 1965.
Film ini menggambarkan masa menjelang kudeta dan beberapa hari setelah peristiwa tersebut. Kala itu sedang terjadi kekacauan ekonomi, lalu Enam Jenderal diculik dan dibunuh oleh PKI dan antek-anteknya, konon untuk memulai kudeta terhadap Presiden Soekarno.
Jenderal Soeharto muncul sebagai tokoh yang menghancurkan gerakan kudeta tersebut, setelah itu mendesak rakyat Indonesia untuk memperingati mereka yang tewas dan melawan segala bentuk komunisme.
Film ini adalah film dalam negeri pertama yang dirilis secara komersial dan menampilkan peristiwa pada tahun 1965 tersebut. Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI meraih sukses secara komersial masa itu (DC.014)






