Viewer: 1089
0 0
Viewer: 1090
0 0

Home / Berita

Selasa, 1 September 2020 - 09:11 WIB

Minta Pihak Sekolah Yang Bukan Daerah Zona Merah Evaluasi Belajar Tatap Muka

Viewer: 1091
0 0
Terakhir Dibaca:1 Menit, 40 Detik

KOMPASNasional.com | Pontianak Kalbar- Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar), H. Sutarmidji, angkat bicara terkait simulasi pembelajaran tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan oleh Sekolah Menegah Atas (SMA) Negeri 1 Pontianak.

Ia meminta seluruh pihak sekolah yang tidak berada di zona merah untuk dilakukan evaluasi pembelajaran tatap muka tersebut.

“Kita berharap masing-masing daerah yang bukan zona merah untuk dilakukan evaluasi terdahulu satu-satu dulu lah.

Kemudian kita liat bagaimana tingkat displin guru dan anak murid, kan yang menyelenggarakan sekolah kita liat hari dan besok,” ungkap Gubernur Kalbar, H. Sutarmidji, usai video conference Evaluasi Akuntabilitas Kinerja di Data Analityc Room, Senin (31/8/2020).

Rencananya juga dalam waktu dekat, Gubernur Kalbar, H. Sutarmidji, akan melakukan peninjau langsung ke sekolah-sekolah yang akan melakukan tatap muka untuk melihat kesiapan pihak sekolah.

Baca Juga  Jadi Role Model Kampung Nadear Nagori Siantar Estate Berbenah

“Saya minta sekolah evaluasi dulu, kemungkinan besok saya akan ke sekolah liatnya,” tuturnya.
Gubernur berharap pihak sekolah harus selalu berinovasi di tengah Pandemi Covid-19 yang melanda ini untuk keamanan siswa-siswi dalam proses belajar mengajar. 
 
“Contohnya yang masuk itu kelas XII misalnya ada 300 siswa bagaimana 100 orang masuknya misalnya jam 7 pagi, sudah itu 100 yang lainnya masuk jam 7.30 pagi dan sisanya masuk jam 8 pagi, pulangnya juga begitu polanya kita selisihkan setengah jam sehingga tidak ada penumpukan di sekolah,” katanya.
Gubernur Kalbar juga akan meminta instansi terkait untuk melakukan rapid test ke sekolah yang melakukan tatap muka dengan syarat harus menerapkan protokol kesehatan agar bisa menekan penularan Covid-19.

Baca Juga  PANITIA KONGRES PSSI KOTA SINGKAWANG TIDAK KONSEKUEN

“Nanti kita akan rapid test seluruh sekolah kepada seluruh siswa dan seluruh guru yang sekolah kalo dinilai aman maka, kelas XI di sekolah itu disuruh masuk dan di rapid tes juga, kalo aman juga kelas X disuruh masuk penerapannya sama di tes,” ujarnya.

“Dalam seminggu atau dua minggu kita tes, liat ada tidak keterjangkitan, kalo tidak ada artinya protap protokol kesehatannya berjalan kalau tidak protapnya tidak berjalan dan tidak boleh belajar,” tegasnya.

Hasnan Sutanto.
 

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Berita

Walikota Dukung Pembangunan Pilar Ina-CORS di Sidempuan

Berita

Polda Kalbar Musnahkan Berbagai Barang Bukti Hasil Operasi Pekat Kapuas 2021

Berita

H.Novri Ompusunggu Jabat Tugas Kpmisi III DPR-RI, PARTINA Minta Narkoba, Mafia Tanah Dan Judi Dibersihkan

Berita

Pengabdian dan Prestasi Martua Sitanggang di Birokrasi dan Organisasi

Berita

Viral, Hendak Diformalin di Kamar Mayat, ‘Jenazah’ Hidup Lagi, Orang-orang Lari

Berita

“Di situ pak Situmorang dan bupati cerita sebelumnya yang ngerjakan proyek jembatan di batubara Johan namanya, tapi kerjanya nggak beres. Kebetulan pak Situmorang mengaku perusahaannya ahli dibidang konstruksi jembatan,” sebut Ayen. Hingga akhirnya, OK Arya menyerahkan draft proyek Dinas PUPR Batubara kepada Ayen untuk diberikan kepada Maringan Situmorang. “Di Desember bupati ada kasih draft proyek untuk diserahkan ke Situmorang. Disitu ada ditandai tulisan ‘situ’. Karena saat itu saya mau olahraga, saya foto saja, kalau nggak salah dua atau tiga lembar. Setelah itu saya print lalu dikasih ke Situmorang. Saya tak terlalu perhatikan proyek-proyek apa saja,” jelasnya. Disinggung, mengapa mau menjadi tempat penitipan uang dari rekanan Pemkab Batubara untuk diserahkan kepada OK Arya, Ayen mengaku khilaf. “Saya khilaf. Semua demi menjaga hubungan bisnis karena keduanya sering beli mobil sama saya. Apalagi sebelumnya mereka ada nitip uang Rp 1 miliar, tapi nggak ada masalah. Tapi yang terakhir ini saya justru jadi terlibat,” sebutnya. KPK menangkap dua orang kontraktor, Maringan Situmorang dan Syaiful Azhar beserta Bupati Batubara, OK Arya Zulkarnain, Kepala Dinas PUPR Helman Herdadi dan pemilik Ada Jadi Mobil, Sujendi Tarsono alias Ayen pada 13 September 2017 dari sejumlah lokasi berbeda di Medan dan Batubara. Penangkapan kelimanya dilakukan terkait kasus penyuapan senilai Rp 4,1 miliar. Total uang suap tersebut diberikan Maringan dan Syaiful, diduga sebagai persenan untuk OK Arya setelah mendapatkan sejumlah proyek yang dananya tertampung pada APBD Batubara Tahun Anggaran (TA) 2017.(*)

Berita

DISTRIBUSI MAKANAN KEPADA WARGA TERDAMPAK, KAPOLRES CERMATI POTENSI BANJIR 

Berita

Babinsa Koramil 1208-04/Jawai Cek Posko PPKM